Tetoroto's Blog

Just another WordPress.com weblog

SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL : TINJAUAN FOLKLOR Kasus: Pencak Silat Betawi

Pendahuluan
Tulisan ini bermaksud hendak memahami keberadaan seni pertunjukan tradisional dalam konteks masyarakat pendukungnya. Seni pertunjukan tradisional dipandang sebagai salah sebuah bentuk produk budaya masyarakat yang bersangkutan. Artinya seni pertunjukan tersebut dipandang sebagai cerminan; apa dan bagaimana masyarakat pendukungnya berangan-angan dan berpikir. Untuk memahaminya ilmu folklor dipakai sebagai pisau analisanya.
Karena pengertian folklor adalah sebagian kebudayaan suatu masyarakat, maka pertama-tama kita harus membatasi terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan konsep kebudayaan itu. Kemudian bagaimana pemahaman salah sebuah unsur kebudayaan, yakni kesenian dalam konteks masyarakat pendukungnya. Akhirnya perlu juga dibatasi apa dan bagaimana pengertian folklor itu, dan hubungannya dengan kesenian, khususnya seni pertunjukan tradisional.
Sebagai ilustrasi akan diambil salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Betawi, yakni pencak silat, yang sekaligus akan dijadikan sumber garapan bagi penciptaan karya tari. Dalam hal ini pencak silat akan dipandang sebagai folklornya masyarakat Betawi.

Pengertian Kebudayaan
Dalam perbincangan sehari-hari seringkali kita mendengar orang berbicara tentang kebudayaan, tetapi sebenarnya yang mereka maksud dengan kebudayaan adalah kesenian. Ada sementara orang yang kagum atas tari-tarian tertentu, pakaian adat tertentu, arsitektur tradisional, seni pertunjukan; atau ada pula orang yang terpesona akan lukisan cat minyak, pembacaan sajak atau lagu-lagu daerah. Lalu serta-merta mereka menilai: “Sungguh hebat kebudayaan masyarakat itu.” Tentu saja penggunaan istilah kebudayaan di sana tidak salah, hanya perlu dilengkapi; karena kalau tidak kebudayaan hanya akan diartikan secara sempit dan sederhana saja. Lalu bagaimana agar konsep kebudayaan pengertiannya tidak sesempit itu.
Ada seorang antropolog yang pernah memodifikasi konsep kebudayaan yang berangkat dari pengertian-pengertian yang mendahuluinya. Ia lalu mendefinisikan konsep kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya diri manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia melalui proses belajar. Jadi hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaan, karena hanya amat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar, yaitu tindakan berdasarkan naluri, refleks atau kelakukan yang bersifat membabi-buta. Dengan demikian jelaslah bahwa apa yang dimaksud dengan kebudayaan itu jauh lebih luas dan kompleks daripada kesenian. Sedangkan kesenian itu sendiri hanyalah merupakan salah satu unsur kebudayaan. Unsur-unsur lainnya adalah bahasa, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian, sistem organisasi sosial, sistem peralatan dan teknologi serta sistem religi. Ketujuh unsur tersebut seringkali disebut sebagai isi kebudayaan yakni unsur yang universal karena hampir semua masyarakat yang ada di muka bumi ini mempunyai unsur-unsur tersebut; dari masyarakat yang amat sederhana hingga yang kompleks.
Mengenai batasan kebudayaan serupa itu, penjelasan bahwa kebudayaan adalah sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia, itu merupakan cara pandang kebudayaan secara lahiriah. Itu adalah wujud kebudayaan. Pertama, yakni sistem ide yang isinya berupa gagasan, nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan, adat-istiadat, aturan tata-krama, pandangan hidup, kepercayaan-kepercayaan, wawasan dan lain-lain. Wujud pertama ini bersifat idiil sekaligus ideal, abstrak, tidak dapat diamati, tidak dapat dipegang dan bersifat kognitif; karena adanya dalam benak kepala manusia. Sedangkan wujud yang kedua merupakan kompleks perilaku, tindakan atau keseluruhan aktivitas manusia. Wujud yang ini dapat diamati dan dapat dilihat serta tertangkap oleh panca-indera manusia. Sementara wujud yang ketiga adalah hasil karya manusia. Wujud ini merupakan wujud yang paling kongkret, karena dapat dipegang dan kasat mata. Ia merupakan semua benda hasil ciptaan manusia seperti peniti, jarum, radio, jembatan, mobil, rumah, komputer, satelit, lukisan, cinderamata, patung dan sebagainya.
Apabila kedua dimensi analisis dari konsep kebudayaan teruarai di atas (isi dan wujud kebudayaan) dikombinasikan ke dalam satu bagan, maka akan terbentuk suatu kerangka kebudayaan. Kerangka kebudayaan itu dapat dipakai sebagai pangkal analisis dari segala macam gejala kebudayaan yang mungkin dapat terjadi dalam kehidupan masyarakat. Karena kebudayaan yang hidup itu bersifat dinamis, selalu berubah setiap saat, maka penggunaan bagan lingkaran dianggap lebih cocok untuk menggambarkan dinamika itu daripada bagan yang berpangkal pada suatu matriks.
Analisis dimensi pertama dari kebudayaan ke dalam tiga wujud, yaitu sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik, digambarkan sebagai tiga lingkaran konsentris. Dalam hal itu sistem budayanya digambarkan sebagai lingkaran yang paling dalam dan inti. Adapun lingkaran yang kedua di sekitar inti menggambarkan sistem sosial, sedangkan kebudayaan fisik digambarkan sebagai lingkaran yang paling luar dan paling tampak.
Analisis dimensi kedua dari kebudayaan ke dalam tujuh unsur universal digambarkan pada bagan lingkaran dengan membaginya menjadi tujuh sektor, yang masing-masing menggambarkan salah satu dari ketujuh unsur tersebut. Maka dengan demikian akan terlihat bahwa tiap unsur kebudayaan itu memang dapat mempunyai tiga wujud yaitu wujud sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik.
Tiap unsur kebudayaan universal itu lebih jauh dapat dirinci beberapa kali lagi ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil. Kerangka mengenai ketujuh unsur kebudayaan universal itu yang biasanya juga dipakai oleh para penulis etnografi ketika bermaksud hendak melukiskan kebudayaan suatu masyarakat.
Kalau kebudayaan memiliki tiga wujud, sedangkan kebudayaan itu juga mempunyai tujuh unsur yang universal, maka sebagai konsekuensi logisnya adalah bahwa masing-masing unsur tersebut juga memiliki tiga wujud kebudayaan.
Di antara ketiga wujud kebudayaan tersebut agaknya wujud pertama menduduki tempat yang paling istimewa. Karena, ia yang berupa cita-cita, nilai-nilai, makna, norma-norma, pandangan, wawasan, kepercayaan, sikap-sikap dan sebagainya itu; yang mendorong, mengarahkan, mengatur serta mengendalikan kelakuan (seperangkat aktivitas) dan hasil kelakuan (seperangkat hasil karya, yang biasanya berupa benda) dari masyarakat pendukungnya. Oleh karenanya wujud kebudayaan yang abstrak yakni sistem budaya ini seringkali disebut sebagai tata kelakuan.

Hakekat Kesenian dalam Masyarakat
Dalam hal ini kesenian dipandang sebagai salah sebuah unsur kebudayaan. Secara umum orang sering menyatakan bahwa kesenian adalah ekspresi jiwa manusia akan keindahan. Sebenarnya tidak semua karya seni dapat dikatakan demikian, karena ada karya seni yang lebih mengutamakan pesan budaya yang mengandung nilai budaya dari masyarakat yang bersangkutan. Hal ini berarti masyarakat yang bersangkutan bermaksud menjawab atau menginterpretasikan permasalahan kehidupan sosialnya, mendambakan kemakmuran, kebahagiaan dan rasa aman, serta rasa kecewa dan sedih, dalam bentuk karya seni. Dengan demikian karya seni itu sarat dengan berbagai makna yang tersirat di belakang obyek tadi; yang acapkali bersifat simbolis.
Sehubungan dengan hal itu, memang ada beberapa fungsi kesenian bagi masyarakat pendukungnya, antara lain sebagai: media pendidikan, media pelampiasan angan-angan terpendam, alat protes sosial dan hiburan.
Kesenian sebagai hasil ekspresi keindahan yang mengandung pesan budaya tersebut terwujud dalam bermacam-macam bentuk seperti seni tari, seni musik, seni karawitan, seni pedalangan, seni teater, seni sastra, film dan seni rupa.
Secara universal kebudayaan suatu masyarakat manusia terdiri dari tujuh unsur. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut satu sama lain saling berkaitan, saling mempengaruhi dan merupakan satu kesatuan yang utuh; sehingga ketujuh unsur tersebut saling berhubungan dan membentuk sebuah sistem. Dengan demikian unsur kebudayaan kesenian merupakan salah sebuah komponen pembentuk kebudayaan suatu masyarakat. Unsur kebudayaan ini tentu saja berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan yang lain seperti bahasa, sistem pengetahuan, sistem religi dan sebagainya. Karena keberadaan kesenian sangat terkait erat dengan aspek-aspek kehidupan yang lain maka sebagai konsekuensi logisnya jika seseorang hendak mempelajari kesenan, ia juga harus mempelajari aspek-aspek kehidupan yang lain, termasuk juga cabang-cabang kesenian lain yang dimiliki oleh masyarakat yang bersangkutan. Itulah pengertian dan penerapan pendekatan holistik pada penelitian kesenian.
Pengertian pendekatan holistik juga dipakai untuk memandang sebuah cabang seni itu sendiri, misalnya seni tari. Artinya, karena yang dimaksud dengan tari bukan sekedar kumpulan gerak indah saja, tetapi mencakup unsur tari lainnya, maka sejumlah unsur tari itu juga merupakan satu kesatuan yang utuh bahkan mempunyai hubungan satu sama lain yang serasi dan harmonis sehingga sarat dengan nilai-nilai keindahan. Unsur-unsur tari tersebut meliputi seperangkat busana tari, ragam hias pada busana tari, tata rias tari, properti dan aksesori yang dipakai, musik dan alat yang dipakai untuk mengiringi, tata dan teknik pentas, makna yang melatar-belakangi keseluruhan tari dan yang paling pokok adalah serangkaian gerak baik yang mengandung makna maupun gerak-gerak kembangan (stilisasi). Itu semua harus dipandang secara holistik dan sistemis.
Kesenian dalam masyarakat selain bersifat sistemis, juga bersifat relatif. Artinya, tumbuh-kembangnya kesenian amatlah tergantung dari matra waktu dan ruang di mana masyarakat yang bersangkutan melangsungkan kehidupannya. Oleh karena itu seorang peneliti kesenian seyogyanya tidak bersifat etnosentris dan mengurangi sikap subyektif. Selain itu kesenian selalu dipandang sebagai milik suatu kolektif tertentu dan bukan milik individu tertentu. Akhirnya dapat ditambahkan bahwa kesenian dalam masyarakat itu bersifat dinamis, artinya ia senantiasa mengikuti detak jarum jam.

Pengertian Folklor
Dalam perbincangan sehari-hari istilah folklor dimengerti sebagai cerita rakyat atau lelucon saja. Adapula yang memakai istilah itu sebagai kata sifat, folklorik yang artinya bersifat kedaerahan atau kerakyatan. Bahkan oleh kalangan tertentu folklor disamaartikan dengan istilah tradisi lisan. Sebenarnya pengertian-pengertian itu tidak sepenuhnya salah. Katakan saja pengertian itu sempit. Dalam hal ini pengertian folklor adalah sebagian dari kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional, dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan, maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device) (Danandjaja, 1984:2). Jadi secara kongkret folklor Indonesia adalah sebagian dari kebudayaan suku-suku bangsa yang berada di Nusantara, seperti orang-orang Jawa, Sunda, Bali, Aceh, Dayak Ngaju, Manado, Bugis, Makasar, Asmat dan lain-lain. Bahkan bukan saja terbatas dari folklor orang yang tergolong “pribumi” saja, tetapi juga orang Indonesia keturunan Cina, Arab, India dan Belanda, asalkan kebudayaannya telah lama diadaptasikan di Indonesia.
Adapun ciri-ciri folklor tersebut adalah : pertama, penyebaran dan pewarisannya biasanya secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut terkadang dengan gerak isyarat; dari generasi satu ke generasi berikutnya, jadi bukan melalui cetakan, rekaman atau media elektronik lainnya. Proses pewarisan ini berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, ia bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau bentuk baku. Ketiga, ia ada dalam bentuk versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini karena cara penyebarannya yang secara lisan tadi, sehingga oleh proses lupa diri manusia folklor dapat dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian seringkali perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
Keempat, ia bersifat anonim, yakni nama penciptanya sudah tidak dikenal lagi, sehingga menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Dalam hal ini setiap anggota kolektif yang bersangkutan boleh merasa memilikinya. Kelima, ia berfungsi bagi pendukungnya, misalnya untuk membela diri, atribut untuk menunjukkan identitas, sebagai hiburan, sebagai alat pendidikan dan lain sebagainya.
Keenam, ia bersifat pralogis, dalam arti mempunyai sistem logika sendiri, yang tidak sesuai dengan logika Aristotelian. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan. Ketujuh, pada umumnya folklor bersifat polos, spontan dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, bahkan porno, atau bersifat sara. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur sifat manifestasinya (Danandjaja, 1984:3-5).
Unsur-unsur kebudayaan yang mempunyai ciri-ciri khas itu, dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar yakni folklor lisan, folklor sebagian lisan dan folklor bukan lisan. Kelompok yang terakhir dapat dibagi menjadi dua sub kelompok lagi yakni yang material dan yang non material (Danandjaja, 1984:21).
Yang tergolong kelompok folklor lisan dapat dibagi menjadi beberapa bentuk (genre) seperti : (a) ujaran rakyat, (a.l.: logat, julukan, pangkat tradisional, dan titel kebangsawanan); (b) ungkapan tradisional (a..l.: peribahasa, pepatah dan pemeo); (c) pertanyaan tradisional (a.l.: teka-teki); (d) puisi rakyat, seperti pantun, gurindam, dan syair; (e) cerita prosa rakyat (mite, legenda, dan dongeng); dan (f) nyanyian rakyat (balada dan epos) (Danandjaja, 1984:21-22).
Kelompok folklor sebagian lisan adalah permainan rakyat, teater rakyat, makanan dan minuman rakyat, tari rakyat, adat istiadat, upacara, pesta rakyat dan kepercayaan rakyat. Yang tergolong folklor bukan lisan sub kelompok material a.l.: adalah arsitektur rakyat, seni kriya rakyat (kerajinan tangan); pakaian dan perhiasan tubuh rakyat. Dan yang tergolong non material a.l.: adalah gerak isyarat tradisional (gesture), bunyi-bunyian rakyat untuk komunikasi seperti beduk pada orang Afrika, kentongan bagi orang Jawa, atau gong bagi orang Dayak.
Karena folklor adalah sebagian kebudayaan, maka kita harus memandangnya bahwa ia merupakan produk budaya suatu masyarakat tertentu. Tentu saja padanya juga berlaku bagaimana hakekat keberadaan kebudayaan dalam masyarakat. Karakter itu antara lain bahwa ia bersifat dinamis, relatif, adaptif, sistemis, fungsional dan rasional. Oleh karena itu pendekatan holistik terhadap kebudayaan juga harus diberlakukan bagi pemahaman keberadaan folklor di tengah-tengah kolektif pendukungnya. Sebagai konsekuensi logisnya maka jika kita bermaksud mengumpulkan folklor dan hendak didokumentasikan secara tertulis harus diperhatikan masalah konteks dari lore dimaksud; selain teks bentuk folklor yang dikumpulkan dan pendapat serta penilaian informan maupun pengumpul. Inilah yang biasanya disebut sebagai pendekatan folklor modern, yakni memperhatikan secara seimbang antara folk dan lore nya. Hal ini amat perlu bagi kepentingan analisis dan interpretasi folklor baik dengan pendekatan etik maupun emik.
Hal-hal tersebutlah yang patut kita perhatikan ketika kita harus memandang, menilai, dan menyikapi produk-produk budaya suatu masyarakat yang dapat digolongkan sebagai bentuk-bentuk (genre) folklor; baik lisan, sebagian lisan maupun bukan lisan.

Ilustrasi: Pencak Silat sebagai Folklor Betawi
Kalau silat Betawi dipandang sebagai folklor Betawi, ia juga bisa dipandang sebagai perwujudan sebagian kebudayaan Betawi. Artinya, di dalamnya terkandung seperangkat pengetahuan, nilai, norma, aturan dan pandangan hidup menurut orang Betawi, yang sekaligus berperan sebagai tata kelakuan baik warga yang bersangkutan manakala mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya di mana ia hidup.
Sehubungan dengan hal itu masalah yang segera muncul adalah nilai, norma dan pandangan hidup yang bagaimana yang ada pada orang Betawi sebagaimana terkandung dalam silat Betawi. Tentu saja untuk menjawabnya perlu penelitian yang mendalam. Namun secara stereotipis barangkali dapat dikatakan bahwa orang Betawi itu: cenderung bersikap terbuka, polos, terus terang, familiar dan patuh dalam menjalankan syariat Islam. Yang disebut terakhir barangkali untuk sementara dapat dianggap sebagai etos kebudayaan Betawi, artinya merupakan watak khas yang serta-merta memancar keluar pada orang Betawi. Sekali lagi hal itu hanya merupakan stereotip, karena hanya berdasarkan pengamatan selintas saja.
Pemahaman atas sumber garapan serupa itu menurut hemat saya yang sebaiknya disadari oleh seniman Betawi khususnya dan masyarakat Betawi umumnya; juga yang perlu diketahui oleh para penata tari. Seniman Betawi dapat mengurangi kadar sikap etnosentrisnya dan penata tari dapat mengurangi sikap subyektifnya, jadi dapat memandang sumber garapan seobyektif mungkin. Dari uraian itu agaknya jelas bahwa silat Betawi dapat merupakan sumber ide sekaligus sumber materi bagi sebuah garapan tari.

Proses Penciptaan Karya Tari
Ada baiknya jika pertama-tama kita sepakati dahulu pengertian tari. Mengenai pengertian tari, sebenarnya sudah banyak ahli yang mengungkapkannya dari beragam sudut pandang seturut dengan disiplin ilmu yang dikuasainya. Namun demikian dari sejumlah batasan yang coba mengupas tari, terdapat unsur-unsur dan ciri-ciri dalam tari yang selalu hadir dalam setiap batasan. Unsur-unsur tersebut adalah gerak, ruang, ritme, pesan dan nilai estetis. Adapun ciri-ciri yang terkandung dalam tari antara lain adalah ekspresi manusia secara artistik; gerak yang dilakukan oleh manusia; gerak yang berpola, gerak stilisasi dan distorsi; mengandung ritme; di dalam ruang; mengandung pesan dan mengandung simbol.
Dari unsur-unsur dan ciri-ciri tersebut dapat dibuat sebuah batasan tari yakni: tari adalah hasil karya kreatif manusia yang diwujudkan melalui gerak tubuh manusia, disusun secara artistik dengan memperhatikan kaidah-kaidah keindahan di dalam ruang berdasarkan ritme tertentu dan mengandung pesan atau makna tertentu baik secara tersurat maupun tersirat. Itulah yang dikenali sebagai tari oleh masyarakat pendukungnya. Artinya, dalam hal ini tari dipandang sebagai sebuah seni pertunjukan yang ditonton masyarakat pendukungnya. Dalam tulisan ini pengertian tari semacam itu yang dipakai.
Dengan kata lain karya tari yang dimaksud harus bermakna; dalam arti, padanya mengandung sesuatu atau pesan yang ingin disampaikan kepada penikmat. Oleh karena itu tari sebagai seni pertunjukan harus ditata dan disusun secara estetis sedemikian rupa sehingga mampu menyentuh batin para penontonnya. Dengan demikian seorang penata tari adalah orang yang merencana, mengatur dan membuat karyanya afektif di atas pentas lewat penari-penarinya. Penata tarilah yang memutuskan bagaimana elemen-elemen produksinya harus diorganisasikan secara utuh. Selain itu seorang penata tari harus mengetahui prinsip-prinsip bentuk seni yaitu faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam rangka mencapai sebuah komposisi yang memenuhi syarat estetis. Prinsip-prinsip bentuk seni itu meliputi: kesatuan yang utuh, keragaman, pengulangan, kontras, transisi, urutan, klimaks, keseimbangan dan harmoni.
Sementara itu unsur-unsur pendukung garapan tari seperti tata rias dan busana, iringan musik, tata pentas, properti dan lain sebagainya harus dipandang secara menyeluruh, sehingga dapat memberikan “suasana” yang diharapkan. Inilah sebenarnya yang turut menentukan ada atau tidaknya “roh” Betawi, karena ia yang menjadikan pertunjukan tari itu hidup.

Penutup
Demikian sumbangan gagasan saya jika hendak memahami keberadaan seni pertunjukan tradisional dalam konteks masyarakat pendukungnya dengan memakai kacamata ilmu Folklor. Tentu saja cara pandang yang sama bisa kita berlakukan untuk melihat semua bentuk folklor yang ada dalam suatu masyarakat yang bersangkutan, selain seni pertunjukan tradisional yang seringkali juga mempunyai potensi yang cukup menjanjikan sebagai aset pariwisata.

KEPUSTAKAAN
Danandjaja, James
1984 Folklor Indonesia : Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain. Jakarta : Grafitipers
Koentjaraningrat
1998 Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Mei 8, 2010 - Posted by | Uncategorized

2 Komentar »

    • Kalau ada frasa : “sedikit bicara, tarung terus” , wah itu tawuran namanya. Sepertinya si empunya pencak silat tadi, yang adalah bukan semata-mata bukan sebagai alat bela diri, tapi lebih sebagai ikon budaya, sebagai atribut penunjuk kesukubangsaan/kebudayaan tertentu. Maka ia lebih sebagai kekayaan bathin yang ada di dalam yang tidak serta-merta dipamerkan. Ia keluar jika keadaan darurat. Seandainya ia sempat keluar, ia sedang berperan sebagai seni seni silat, ketika eksibisi dan bukan bertanding.

      Komentar oleh hstaryanto | Agustus 4, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: