Tetoroto's Blog

Just another WordPress.com weblog

TATO : BUSANA ABADI ORANG MENTAWAI

Oleh : Hilarius S. Taryanto

Orang Mentawai hidup tersebar di Kepulauan Mentawai, yang terletak sekitar 100 km di sebelah Barat pantai Pulau Sumatera.  Kepulauan ini terdiri dari kurang lebih 40 pulau, besar dan kecil. Di antaranya ada 4 pulau besar yang didiami manusia yaitu Siberut di sebelah Utara, Sipora di bagian tengah,  Pagai Utara dan Pagai Selatan di sebelah Selatan.  Kepulauan ini termasuk wilayah Kabupaten Padang Pariaman, Propinsi Sumatera Barat.

Di kepulauan ini orang Mentawai di perkerikan terbagi-bagi lagi atas lebih dari 500 suku. Ada 4 suku yang diyakini sebagai suku asal orang Mentawai, yaitu Sabelau, Samaloisa, Sababalat, dan Saleleubaja. Akan tetapi karena persamaan dalam berbagai unsur kebudayaannya  sangat besar, mereka merasa sebagai satu kesatuan yang tidak berbeda satu sama lain.

Di Kepulauan Mentawai tidak ada gunung; yang ada hanya perbukitan yang tingginya tidak lebih dari 500 meter. Umumnya bertanah subur, datar dan berawa-rawa. Mentawai juga terkenal dengan hutan-hutannya yang masih perawan. Pemandangan alamnya indah menawan, karena teluk-teluk dan lautnya tenang serta pantai pasir yang landai.

Tipe manusia Mentawi digambarkan oleh J.R. Logan sebagai orang yang berbadan kuat, kekar, sehat dan tidak berbulu.  Tingginya tidak lebih dari 1,67 m. Berperawakan baik dan menarik. Hidungnya agak lebar, dengan mata yang besar, agak sipit dan bersinar, dilengkapi dengan alis yang tipis dan sedikit bundar. Rambut tipis, panjang dan lurus. Warna kulit cokelat kekuning-kuningan.

Umumnya orang Mentawai baik hati, ramah, suka menghormati orang, tidak ingin berperang, suka kepada hiasan-hiasan, sehingga tidak jarang tubuh mereka bertato.

Mereka mempunyai aktivitas yang tinggi. Orang Mentawai mampu menciptakan sesuatu yang bagus, cantik dan berdayaguna. Peralatan yang dipakai sangat sederhana, umumnya untuk berburu dan memancing ikan.

Pemimpin dalam sebuah keluarga inti disebut ukkui.  Seseorang baru dapat dianggap sebagai ukkui dan dihormati oleh masyarakat bila keluarganya telah menjadi keluarga lalep.  Sebelum menjadi keluarga lalep, sebuah rumah tangga dikatakan masih berada  dalam perkawinan rusuk, yaitu bentuk perkawinan tanpa restu kepala suku (rimata). Keluarga lalep terbentuk bila anak-anak dalam keluarga tersebut sudah dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan mengumpulkan kekayaan. Biasanya pada saat itulah kedua orangtua akan meresmikan perkawinannya dengan mengadakan suatu upacara khusus. Melalui upacara tersebut mereka kemudian diangkat sebagai simanteu-simaiso (suami-isteri) dan resmilah rumah tangga mereka sebagai keluarga lalep. Peralihan status sosial semacam ini juga ditandai dengan tambahan rajah di tubuh mereka dengan motif tertentu. Saat-saat serupa ini oleh van Gennep digolongkan sebagai ritus peralihan (rites de passage); karena yang bersangkutan telah melewati masa-masa kritis pada lingkungan hidup individu.

Perkembangan kesenian orang Mentawai pada umumnya berkaitan dengan berbagai upacara adat dan kehidupan sehari-hari. Bentuk kesenian mereka sebagian besar didasarkan atas penghayatan terhadap alam sekitar, misalnya bentuk-bentuk tiruan dari gerak-gerik atau suara hewan buruan. Seni suara dan seni tari dikembangkan sesuai dengan kebutuhan upacara, misalnya untuk upacara perkawinan dan kematian. Seni tari dan seni suara juga merupakan bagian dalam proses pengobatan oleh seorang dukun (sikerei). Kini bentuk kesenian asil sudah semakin berkurang, karena perkembangannya semakin terbatas hanya di kalangan orang-orang tua. Demikian pula dengan kebiasaan membuat tato pada tubuh mereka, kini jarang dijumpai pada generasi muda.

Kebiasaan khas orang Mentawai adalah adat merajah kulit (tato). Adanya rajah pada tubuh orang Mentawai melambangkan bahwa orang tersebut telah melalui suatu tahapan inisiasi, misalnya untuk meresmikan orang tersebut masuk kedalam satu golongan (uma) tertentu. Rajah tubuh yang mereka miliki bermotif garis-garis dan mengandung arti tertentu. Misalnya rajah tersebut mereka dapat menelusuri kaitan kekerabatan atau hubungan darah yang dimiliki.

Proses pembuatan tato baik motif, bahan, alat dan zat pewarna, semua berasal dari alam sekitar mereka. Alat-alat yang dibutuhkan adalah: jarum besi, pemukul, tangkai kayu, lidi dan daun pisang. Sedangkan bahan-bahan untuk membuat tato adalah: api, batok kelapa, daun pisang, bakaran batok kelapa atau daun pisang berupa arang hitam (jelaga) dan air tebu.

Adapun proses pembuatan tato yang seluruhnya dilakukan oleh seorang laki-laki (sipatiti) adalah sebagai berikut. Pertama, dibuat pola-pola tertentu dengan lidi. Kemudian daun pisang atau batok kelapa dibakar di atas api, sehingga didapatkan arang. Arang hitam tersebut dimasukkan ke dalam batok kelapa, dan dicampur dengan air tebu. Kemudian jarum yang telah diberi tangkai kayu dicelupkan ke dalam cairan tadi lalu ditusuk-tusukkan dengan pemukul kayu menghasilkan titik-titik seturut pola motif ornamen yang sudah direncanakan semula. Sesudah darah keluar, bagian yang ditato dibersihkan dan digosok dengan abu tungku (jelaga). Orang yang ditato ini umumnya menderita demam selama beberapa hari, namun tidak pernah terjadi infeksi.

Pentatoan dilakukan secara bertahap dengan urutan waktu sebagai berikut. Satu atau setengah hari pertama tato dibuat pada pangkal lengan. Kemudian ditunggu selama satu minggu. Selanjutnya tato dibuat pada punggung selama satu atau setengah hari. Ditunggu lagi selama satu minggu dan dilanjutkan pada bagian dada (rigan). Seterusnya dibuat pada jari tangan dan lengan. Setelah itu bagian paha dikerjakan selama 61 hari, dan dilanjutkan pada bagian kaki hingga selesai.

Ragam motif tato pada orang Mentawai dilihat dari bentuknya ada bermacam-macam. Yang pertama merupakan stilisasi dari binatang. Kedua, hiasan yang berasal dari stilisasi tumbuh-tumbuhan terutama stilisasi bunga kembang sepatu, melati serta daun-daunan yang banyak terdapat di daerah tersebut. Ketiga, hiasan yang berasal dari stilisasi benda lainnya, seperti kerang-kerangan yang distilisasi dalam bentuk garis-garis. Di antara bentuk-bentuk tersebut, di beberapa daerah tertentu terdapat kesamaan bentuk tato pada bagian paha ke bawah dan lengan ke jari.

Ditinjau dari penempatannya, pengisian bidang hias dibuat rapat dan simetris; makin banyak hiasannya makin bangga pemakainya. Selain itu sangat diperhatikan pengisian bagian dada. Penempatan hiasan tato pada bagian tangan atau jari merupakan hiasan geometris, sekaligus melambangkan alat penangkap ikan.

Ditinjau dari segi perlambangan, bentuk-bentuk ornamen menunjukkan tanda dari jabatan seseorang, misalnya bintang di bahu dipakai oleh sikerei (dukun) dan anak sikerei. Kedudukan sebagai sikerei tidak dapat dimiliki oleh tiap orang, melainkan harus orang yang memenuhi persyaratan tertentu. Biasanya seorang sikerei yang sudah tua mendapatkan “petunjuk” mengenai calon sikerei yang baru melalui mimpi atau suatu peristiwa luar biasa. Setelah tanda-tanda ini muncul, sikerei tersebut akan membimbing si calon dan memberikan mantra-mantra agar ia dilindungi oleh para roh.

Setelah melewati beberapa tahap, barulah seseorang dapat dilantik menjadi seorang sikerei. Setelah itu ia harus pula menjalani berbagai pantangan (punen), sampai akhirnya diizinkan melakukan praktek sikerei. Seorang sikerei memiliki perlengkapan dan pakaian khas yang tidak dikenakan oleh orang orang biasa, termasuk rajah di bahu berupa bintang.

Bentuk-bentuk binatang menggambarkan keahlian seseorang dalam berburu. Bentuk garis-garis tertentu pada bagian dada dan belakang tubuh laki-laki menggambarkan bahwa pada waktu yang lampau ia pernah membunuh musuhnya. Bentuk-bentuk yang bersamaan pada suami-isteri menggambarkan pasangan dan pakaian sampai mati.

Hingga saat ini sebagian besar orang Mentawai terutama yang berusia separuh baya masih banyak yang ditemui dengan pakaian khas mereka., yaitu sejenis cawat dari kulit kayu (kabid) untuk laki laki dan penutup tubuh dari daun-daunan untuk perempuan. Oleh karena itu menurut mereka tato juga merupakan pakaian yang justru dimaksudkan untuk memperindah tubuh dan sekaligus dianggap sebagai busana abadi mereka, karena tato dapat mereka bawa sampai mati.

TATO :  BUSANA  ABADI ORANG MENTAWAI

Oleh : Hilarius S. Taryanto

Orang Mentawai hidup tersebar di Kepulauan Mentawai, yang terletak sekitar 100 km di sebelah Barat pantai Pulau Sumatera.  Kepulauan ini terdiri dari kurang lebih 40 pulau, besar dan kecil. Di antaranya ada 4 pulau besar yang didiami manusia yaitu Siberut di sebelah Utara, Sipora di bagian tengah,  Pagai Utara dan Pagai Selatan di sebelah Selatan.  Kepulauan ini termasuk wilayah Kabupaten Padang Pariaman, Propinsi Sumatera Barat.

Di kepulauan ini orang Mentawai di perkerikan terbagi-bagi lagi atas lebih dari 500 suku. Ada 4 suku yang diyakini sebagai suku asal orang Mentawai, yaitu Sabelau, Samaloisa, Sababalat, dan Saleleubaja. Akan tetapi karena persamaan dalam berbagai unsur kebudayaannya  sangat besar, mereka merasa sebagai satu kesatuan yang tidak berbeda satu sama lain.

Di Kepulauan Mentawai tidak ada gunung; yang ada hanya perbukitan yang tingginya tidak lebih dari 500 meter. Umumnya bertanah subur, datar dan berawa-rawa. Mentawai juga terkenal dengan hutan-hutannya yang masih perawan. Pemandangan alamnya indah menawan, karena teluk-teluk dan lautnya tenang serta pantai pasir yang landai.

Tipe manusia Mentawi digambarkan oleh J.R. Logan sebagai orang yang berbadan kuat, kekar, sehat dan tidak berbulu.  Tingginya tidak lebih dari 1,67 m. Berperawakan baik dan menarik. Hidungnya agak lebar, dengan mata yang besar, agak sipit dan bersinar, dilengkapi dengan alis yang tipis dan sedikit bundar. Rambut tipis, panjang dan lurus. Warna kulit cokelat kekuning-kuningan.

Umumnya orang Mentawai baik hati, ramah, suka menghormati orang, tidak ingin berperang, suka kepada hiasan-hiasan, sehingga tidak jarang tubuh mereka bertato.

Mereka mempunyai aktivitas yang tinggi. Orang Mentawai mampu menciptakan sesuatu yang bagus, cantik dan berdayaguna. Peralatan yang dipakai sangat sederhana, umumnya untuk berburu dan memancing ikan.

Pemimpin dalam sebuah keluarga inti disebut ukkui.  Seseorang baru dapat dianggap sebagai ukkui dan dihormati oleh masyarakat bila keluarganya telah menjadi keluarga lalep.  Sebelum menjadi keluarga lalep, sebuah rumah tangga dikatakan masih berada  dalam perkawinan rusuk, yaitu bentuk perkawinan tanpa restu kepala suku (rimata). Keluarga lalep terbentuk bila anak-anak dalam keluarga tersebut sudah dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan mengumpulkan kekayaan. Biasanya pada saat itulah kedua orangtua akan meresmikan perkawinannya dengan mengadakan suatu upacara khusus. Melalui upacara tersebut mereka kemudian diangkat sebagai simanteu-simaiso (suami-isteri) dan resmilah rumah tangga mereka sebagai keluarga lalep. Peralihan status sosial semacam ini juga ditandai dengan tambahan rajah di tubuh mereka dengan motif tertentu. Saat-saat serupa ini oleh van Gennep digolongkan sebagai ritus peralihan (rites de passage); karena yang bersangkutan telah melewati masa-masa kritis pada lingkungan hidup individu.

Perkembangan kesenian orang Mentawai pada umumnya berkaitan dengan berbagai upacara adat dan kehidupan sehari-hari. Bentuk kesenian mereka sebagian besar didasarkan atas penghayatan terhadap alam sekitar, misalnya bentuk-bentuk tiruan dari gerak-gerik atau suara hewan buruan. Seni suara dan seni tari dikembangkan sesuai dengan kebutuhan upacara, misalnya untuk upacara perkawinan dan kematian. Seni tari dan seni suara juga merupakan bagian dalam proses pengobatan oleh seorang dukun (sikerei). Kini bentuk kesenian asil sudah semakin berkurang, karena perkembangannya semakin terbatas hanya di kalangan orang-orang tua. Demikian pula dengan kebiasaan membuat tato pada tubuh mereka, kini jarang dijumpai pada generasi muda.

Kebiasaan khas orang Mentawai adalah adat merajah kulit (tato). Adanya rajah pada tubuh orang Mentawai melambangkan bahwa orang tersebut telah melalui suatu tahapan inisiasi, misalnya untuk meresmikan orang tersebut masuk kedalam satu golongan (uma) tertentu. Rajah tubuh yang mereka miliki bermotif garis-garis dan mengandung arti tertentu. Misalnya rajah tersebut mereka dapat menelusuri kaitan kekerabatan atau hubungan darah yang dimiliki.

Proses pembuatan tato baik motif, bahan, alat dan zat pewarna, semua berasal dari alam sekitar mereka. Alat-alat yang dibutuhkan adalah: jarum besi, pemukul, tangkai kayu, lidi dan daun pisang. Sedangkan bahan-bahan untuk membuat tato adalah: api, batok kelapa, daun pisang, bakaran batok kelapa atau daun pisang berupa arang hitam (jelaga) dan air tebu.

Adapun proses pembuatan tato yang seluruhnya dilakukan oleh seorang laki-laki (sipatiti) adalah sebagai berikut. Pertama, dibuat pola-pola tertentu dengan lidi. Kemudian daun pisang atau batok kelapa dibakar di atas api, sehingga didapatkan arang. Arang hitam tersebut dimasukkan ke dalam batok kelapa, dan dicampur dengan air tebu. Kemudian jarum yang telah diberi tangkai kayu dicelupkan ke dalam cairan tadi lalu ditusuk-tusukkan dengan pemukul kayu menghasilkan titik-titik seturut pola motif ornamen yang sudah direncanakan semula. Sesudah darah keluar, bagian yang ditato dibersihkan dan digosok dengan abu tungku (jelaga). Orang yang ditato ini umumnya menderita demam selama beberapa hari, namun tidak pernah terjadi infeksi.

Pentatoan dilakukan secara bertahap dengan urutan waktu sebagai berikut. Satu atau setengah hari pertama tato dibuat pada pangkal lengan. Kemudian ditunggu selama satu minggu. Selanjutnya tato dibuat pada punggung selama satu atau setengah hari. Ditunggu lagi selama satu minggu dan dilanjutkan pada bagian dada (rigan). Seterusnya dibuat pada jari tangan dan lengan. Setelah itu bagian paha dikerjakan selama 61 hari, dan dilanjutkan pada bagian kaki hingga selesai.

Ragam motif tato pada orang Mentawai dilihat dari bentuknya ada bermacam-macam. Yang pertama merupakan stilisasi dari binatang. Kedua, hiasan yang berasal dari stilisasi tumbuh-tumbuhan terutama stilisasi bunga kembang sepatu, melati serta daun-daunan yang banyak terdapat di daerah tersebut. Ketiga, hiasan yang berasal dari stilisasi benda lainnya, seperti kerang-kerangan yang distilisasi dalam bentuk garis-garis. Di antara bentuk-bentuk tersebut, di beberapa daerah tertentu terdapat kesamaan bentuk tato pada bagian paha ke bawah dan lengan ke jari.

Ditinjau dari penempatannya, pengisian bidang hias dibuat rapat dan simetris; makin banyak hiasannya makin bangga pemakainya. Selain itu sangat diperhatikan pengisian bagian dada. Penempatan hiasan tato pada bagian tangan atau jari merupakan hiasan geometris, sekaligus melambangkan alat penangkap ikan.

Ditinjau dari segi perlambangan, bentuk-bentuk ornamen menunjukkan tanda dari jabatan seseorang, misalnya bintang di bahu dipakai oleh sikerei (dukun) dan anak sikerei. Kedudukan sebagai sikerei tidak dapat dimiliki oleh tiap orang, melainkan harus orang yang memenuhi persyaratan tertentu. Biasanya seorang sikerei yang sudah tua mendapatkan “petunjuk” mengenai calon sikerei yang baru melalui mimpi atau suatu peristiwa luar biasa. Setelah tanda-tanda ini muncul, sikerei tersebut akan membimbing si calon dan memberikan mantra-mantra agar ia dilindungi oleh para roh.

Setelah melewati beberapa tahap, barulah seseorang dapat dilantik menjadi seorang sikerei. Setelah itu ia harus pula menjalani berbagai pantangan (punen), sampai akhirnya diizinkan melakukan praktek sikerei. Seorang sikerei memiliki perlengkapan dan pakaian khas yang tidak dikenakan oleh orang orang biasa, termasuk rajah di bahu berupa bintang.

Bentuk-bentuk binatang menggambarkan keahlian seseorang dalam berburu. Bentuk garis-garis tertentu pada bagian dada dan belakang tubuh laki-laki menggambarkan bahwa pada waktu yang lampau ia pernah membunuh musuhnya. Bentuk-bentuk yang bersamaan pada suami-isteri menggambarkan pasangan dan pakaian sampai mati.

Hingga saat ini sebagian besar orang Mentawai terutama yang berusia separuh baya masih banyak yang ditemui dengan pakaian khas mereka., yaitu sejenis cawat dari kulit kayu (kabid) untuk laki laki dan penutup tubuh dari daun-daunan untuk perempuan. Oleh karena itu menurut mereka tato juga merupakan pakaian yang justru dimaksudkan untuk memperindah tubuh dan sekaligus dianggap sebagai busana abadi mereka, karena tato dapat mereka bawa sampai mati.

Mei 9, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

PESAN BUDAYA TATO DAYAK AUHENG

Oleh: Hilarius S. Taryanto

Secara umum orang berpendapat bahwa kesenian adalah hasil ekspresi jiwa manusia akan keindahan. Sebenarnya tidak semua hasil karya seni dapat dinyatakan demikian, karena ada karya seni yang lebih mengutamakan pesan budaya yang mengandung unsur-unsur sistem budaya dari masyarakat yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa dengan kesenian masyarakat yang bersangkutan bermaksud menjawab atau menginterpretasikan permasalahan kehidupan sosialnya, mengisi kebutuhan atau mencapai suatu tujuan bersama, seperti kemakmuran, persatuan, kemuliaan, kebahagiaan dan rasa aman yang berhubungan dengan yang gaib (supernatural) dan lain-lain. Kesenian sebagai hasil ekspresi keindahan yang mengandung pesan budaya terwujud dalam bermacam-macam bentuk, seperti seni lukis, seni rias, seni patung, seni sastra, seni tari, seni vokal, seni instrumental, dan seni drama.

Seperti telah disinggung di atas, karya seni dari suatu etnik biasanya berpedoman kepada sistem budayanya. Kesenian itu berpedoman kepada sistem pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma-norma yang hidup dalam budaya masyarakat pemilik kesenian tersebut. Pada saat ini suatu jenis kesenian tertentu, mungkin sekali masih “murni” mengandung pesan budaya etniknya. Akan tetapi ada pula kesenian etnik yang telah mendapat pengaruh dari unsur sistem budaya asing.

Dalam masyarakat tradisional, para senimannya tidak banyak yang mempertimbangkan apakah karya yang diciptakannya sudah menampilkan mutu artistik yang tinggi atau belum. Mereka lebih banyak berorientasi pada apakah karya-karyanya itu sudah memenuhi pesan budaya yang dititipkan atau yang diharapkan oleh masyarakatnya. Pesan itu berupa nilai, kepercayaan, pengetahuan, norma atau makna tertentu dalam motif, bentuk, gaya pada hasil karya tadi.

Motif-motif hiasan tersebut merupakan simbol-simbol yang mengandung bermacam-macam arti. Simbol-simbol itu ada yang mengisyaratkan harapan agar memperoleh keselamatan, kemakmuran, kebahagiaan, persatuan, kemuliaan, hubungan dengan yang gaib, dan sebagainya.

Orang Auheng adalah  nama lain dari orang Dayak Penihing dan kadang-kadang disebut Oheng saja. Orang Auheng adalah salah satu sub sukubangsa Dayak yang berdiam di Kabupaten Kutai, Propinsi Kalimantan Timur. Menurut pendapat Y. Mallinckrodt, orang Auheng ini merupakan subkelompok dari Dayak Bahau. Subkelompok Dayak Bahau lainnya adalah Modang, Long Gelat, Ma Suling, Huang Sirau, Long Wai, dan Huang Tering. Akan tetapi sekarang orang Auheng juga Modang dan Long Gelat sudah dapat dianggap sebagai satu kelompok tersendiri seperti juga kelompok Bahau tadi. Kelompok orang Dayak Auheng dan kelompok-kelompok lainnya merupakan sub sukubangsa yang mempunyai bahasa sendiri.

Sub sukubangsa Dayak Auheng ini berasal dari daerah Apo Kayan dekat dengan perbatasan Serawak di Malaysia Timur. Kini daerah Apo Kayan merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bulungan. Apo Kayan merupakan daerah yang terbilang terpencil, yang seolah-olah berada di pusat pulau raksasa Kalimantan. Dayak Auheng ini pertama kali bermigrasi dari Apo Kayan sekitar tahun 1700 dan menetap di sekitar aliran Sungai Penihing, Kalimantan Barat.

Seni rajah tubuh atau tato tradisional bermotif khas di kalangan suku Dayak Auheng kini mulai menunjukkan gejala revitalisasi. Para pemuda di Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, kini lebih membanggakan tato khas Dayak sebagai tren model daripada tato bermotif modern.

Hampir setiap supir taksi air yang dijumpai memilki tato di bagian tubuhnya. Hal yang menarik, tato-tato tersebut tidak lagi bermotif modern, seperti tengkorak atau jangkar, melainkan bermotif tradisional khas Dayak.

Empat motif utama yang disukai adalah motif aso (anjing), naga, irap aran, dan anyam darli (tali beranyam). Selain keempat motif itu masih ada ratusan motif khas Dayak yang dihapal Laurensius, seorang pembuat Art Tatoo Dayak,  dalam kepala dan tidak pernah didokumentasikan dalam bentuk gambar cetakan.

Kepala adat Kampung Long Bagun Ilir Yosep Lie Aran mengatakan bahwa pada masa yang lampau tato dibuat dari jelaga asap hitam damar yang dibakar. Jelaga itu dicampur dengan sari daun terong pipit.

Oleh karena itu, tato bagi orang Dayak Auheng secara filosofis dilambangkan sebagai lentera atau lampu penerang menuju surga layaknya damar yang digunakan zaman dulu untuk alat penerangan. Bagi mereka tato merupakan aspek spiritual dan tidak dimaksudkan sebagai lambang “jagoan” seperti dicitrakan selama ini. Citra tato yang diidentikkan dengan kekerasan belakangan ini menimbulkan keprihatinan bagi Laurensius sebagai putera Dayak Auheng.

Tato Dayak memiliki simbol-simbol sakral yang secara sosial kemasyarakatan dapat menjadi penanda dari status seseorang. Oleh karena alasan inilah, Laurensius kini hanya mau melayani pembuatan tato untuk warga Dayak.

Tato yang berkembang di kalangan masyarakat luas dibuat dalam beragam motif, seperti gambar wajah orang, bunga, binatang, huruf, atau motif-motif “tribal” seperti garis-garis hitam. Motif-motif ini diminati oleh kelompok yang berbeda-beda. Motif wajah umumnya diminati kaum pria; motif bunga lebih banyak dipilih oleh wanita, sementara wanita asing memilih tulisan nama pasangannya.

Selain dibutuhkan keteguhan niat, calon pemilik tato juga harus menahan rasa sakit saat jarum menembus kulit. Itulah sebabnya orang yang ingin membuat tato tidak boleh setengah-setengah. Sehubungan dengan hal ini ketika penulis bermaksud minta dibuatkan tato pada seniman pembuat tato Dayak Auheng, ia minta kepada penulis untuk memikirkannya kembali selama sehari semalam guna meneguhkan niat penulis. Sementara ia juga harus mencari inspirasi motif apa gerangan yang cocok bagi penulis. Karena tato yang dimaksud adalah permanen, jadi harus dibuat sekali jadi dan tidak boleh salah atau ragu-ragu.

Tato yang indah dan menarik membutuhkan kelihaian senimannya. Selain itu juga dibutuhkan peralatan pendukung yang memadai seperti jarum dan mesin tato, serta tinta pewarna sebagai unsur yang tepenting. Sedikitnya sebuah studio harus memiliki 14 tinta warna dasar, seperti hitam dan merah. Tinta pewarna ini berbeda dengan tinta pulpen. Memang ada yang memakai tinta pulpen sebagai tinta tato, namun sebaiknya digunakan tinta yang khusus untuk tato. Selain warnanya lebih cerah, tinta khusus ini aman di kulit.

Pada bagian betis kaki kiri sebelah luar penulis, berhasil dibuatkan sebuah motif tato Dayak Auheng yang diberi judal “Aso”. Luas bidangnya kira-kira 10 x 25 cm memanjang ke atas. Durasi pembuatannya kira-kira memakan waktu empat jam, tetapi tidak terus menerus. Pembuat tato tadi selang beberapa lama “istirahat” untuk merokok atau menenggak kopi sambil keluar rumah. Ia berdiam sejenak di halaman depan atau belakang rumah sambil mencari inspirasi, supaya jangan sampai salah. Sementara orang yang sedang ditato mengerang kesakitan.

Adapun proses pembuatannya adalah sebagai berikut. Pertama-tama pembuat tato akan menanyakan kepada pemohon bagian tubuh mana yang akan ditato. Pada saat ini akan terjadi dialog; pertanyaan dan penjelasan; bagian mana yang akan terasa sakit sekali dan yang tidak begitu sakit; bagian mana yang sulit dan lama mengerjakannya, dan sebagainya. Pembuat tato kemudian menjelaskan sambil memberikan contoh bagian-bagian yang paling sulit, lama dan sakit di antaranya adalah seputar leher.

Setelah pemohon menentukan bagian betis kiri sebelah luar yang akan ditato, kemudian pembuat tato menyodorkan sabun mandi dan alat pencukur kumis modern guna membersihkan bulu-bulu yang tumbuh pada bagian itu. Setelah bersih, kemudian pembuat tato mengajak pemohon menuju ruang tengah yang beralaskan papan.

Segeralah Pak Ding, demikian panggilan si pembuat tato, mempersiapkan peralatannya yakni sebotol tinta yang menurut pengakuannya dipesan dari Austria, melalui seorang teman. Selain itu disiapkan pula sebuah jarum “suntik” yang nyatanya adalah jarum jahit biasa yang didapat dari warung sebelah rumah. Jarum jahit tersebut ternyata hanya dimanfaatkan bagian yang runcing saja sebagai mata jarum suntik, karena akan disambung dengan semacam kawat baja yang diikat dengan benang. Jarum “suntik” yang sudah diperpanjang tadi kemudian dimasukkan ke dalam tabung bekas spidol kecil, laksana tinta ballpoint. Kawat baja penyambung jarum tadi berbentuk huruf Z. Kawat tersebut berfungsi mengubah gerak berputar menjadi gerak naik-turun, ke atas dan ke bawah seperti mesin jahit. Gerakan naik-turun itu disebabkan oleh gerak mekanik yang berasal dari penggerak mobil-mobilan mainan anak-anak. Gerakan mekanik tadi bekerja melalui tenaga dua  buah baterai kecil; masing-masing berkekuatan 1,5 volt. Ribuan tusukan jarum jahit tadi kedalamannya menembus kulit sekitar 1 mm, hingga mampu mengeluarkan cairan darah.

Sementara jarum jahit melubangi kulit, saat itu pula tinta tato yang sedikit bercampur darah segar membasahi dan mengisi ribuan lubang tadi membentuk mofif yang dikehendaki Pak Ding, sehingga berwarna hitam kebiru-biruan. Pencegahan terhadap infeksi dilakukan dengan cara membersihkan darah dan sisa tinta, menggunakan gumpalan kapas yang dibasahi cairan alkohol 70%.

Setelah proses pentatoan dianggap selesai, Pak Ding kemudian mengambil hand and body lotion merk Viva dan dioleskan hingga merata pada bagian tubuh yang baru saja selesai ditato. Anjuran Pak Ding kepada penulis supaya melakukan hal serupa sesering mungkin; sekurang-kurangnya dua kali sehari sesudah mandi selama seminggu. Menurut Pak Ding pengolesan krem pelembab itu dimaksudkan agar hasil tato tadi dapat kering dengan sempurna. Nyatanya dengan krem tersebut memang bekas lukisan tato tadi terasa lebih dingin sehingga mengurangi rasa sakit/perih, dan tidak tampak ada bekas luka. Sebagai tambahan, penulis juga tidak mengalami demam; barangkali karena memang pada malam-malam sebelumnya telah mengkonsumsi vitamin C secara cukup.

Motif aso tadi awalnya berupa satu titik, kemudian berangsur-angsur memenuhi bidang kira-kira seluas 10 x 25 cm. Lukisan tato seluas itu semua terkait satu sama lain, tidak terputus. Ini merupakan ciri khas ragam hias Dayak pada umumnya, yang disebut karung berkait atau ulang paku, atau terkadang disebut juga motif anyam darli (tali beranyam). Motif itu kurang lebih mirip seperti sarang laba-laba atau gurita.

Mengenai motif anyam darli ini, sebenarnya juga tersebar di semua bentuk ragam hias orang Dayak, termasuk ukir-ukiran yang seringkali menghiasi rumah adat mereka (lamin). Melalui motif inilah hampir semua sub sukubangsa Dayak memiliki ikatan batin bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang. Jadi motif anyam darli ini bermakna mempersatukan semua orang Dayak, baik mereka yang berada di Serawak, Sabah, Kuching dan di seluruh pelosok pulau Kalimantan. Oleh karena itulah hampir semua motif ragam hias Dayak yang termasuk dalam seni tato, saling berkaitan satu sama lain dan merupakan satu kesatuan yang utuh; tidak ada yang putus.

Hampir di setiap ragam hias Dayak motif aso itu dimunculkan; terkadang hanya digambarkan matanya saja, kepalanya atau lengkap dengan badannya. Motif ini mempunyai makna yang mendalam karena binatang (anjing) ini melambangkan kesetiaan. Anjing adalah binatang yang senantiasa menemani orang Dayak berladang, terlebih ketika berburu babi atau rusa di tengah hutan.

Selain aso dan ulang paku, yang dianggap motif utama pada masyarakat Auheng adalah motif naga dan irap aran. Motif naga (lio) dianggap mewakili segala sesuatu yang datang dari langit; segala sesuatu yang bersifat supranatural, termasuk kekuatan-kekuatan magis yang berada di luar jangkauan pikiran manusia. Sedangkan irap aran menggambarkan muka manusia, namun terkadang hanya tampak matanya saja. Irap aran ini mewakili segala sesuatu yang ada di bumi ini; termasuk di dalamnya semua jenis makhluk hidup.

Mei 9, 2010 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Perencanaan Pembangunan Seni Budaya di Propinsi DKI Jakarta


  1. Program Pembangunan Kebudayaan Bidang Bahasa

2.1.  Seni Tutur Betawi

Berdasarkan jenis cerita, cara membawakan serta kelompok pendukungnya, teater tutur Betawi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: buleng atau dongeng, sahibul hikayat, dan rancag. Jenis kesenian ini pernah diangkat ke permukaan melalui acara sarasehan Pelestarian Teater Tutur dan Sastra Tradisional Betawi yang diselenggarakan pada tanggal 20-24 Maret 1994 di Gedung Kesenian Jakarta dalam kaitan dengan Pekan Kesenian Betawi VII. Acara tersebut diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Jakarta bekerjasama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB).

Kesimpulan dari peragaan ketiga jenis teater tutur itu adalah bahwa teater ini tidak hanya bertutur seperti cerita dongeng, melainkan terselip pesan, sindiran dan nasehat. Kadang-kadang alur cerita yang disampaikan sedikit menyimpang, tetapi tetap membawa pesan, sindiran, dan nasehat serta diselingi dengan lelucon.

2.1.1.      Buleng atau Dongeng

Di beberapa tempat di pinggiran Kota Jakarta dan sekitarnya, seperti di daerah Ciracas, Cijantung, Kalimalang, Curug dekat Depok, dan sebagainya, terdapat orang yang pandai bercerita. Julukan yang diberikan kepadanya adalah “tukang dongeng” atau buleng. Kata buleng yang sebenarnya juga berarti cerita atau dongeng. Kata ngebuleng berarti bercerita, dan kata buleng, selain sebagai nama seni cerita lisan, juga berarti tukang cerita. Di kalangan masyarakat Betawi, buleng dibedakan antara dongeng dan cerita. Dongeng dipergunakan untuk menyebut cerita-cerita kerajaan, yaitu cerita para raja atau bangsawan, dan babad. Sedangkan cerita, kadang-kadang disebut cerita roman, dipergunakan untuk menyebut cerita-cerita dari kehidupan rakyat, yakni kisah kehidupan sehari-hari baik di masa lampau maupun masa kini.

Buleng atau ngebuleng (dongeng) adalah sejenis cerita lisan yang dibawakan dalam bentuk prosa atau prosa liris. Jenis cerita yang dibawakan termasuk yang disebut dongeng (seperti Ciung Wanara), yaitu dongeng-dongeng yang bersumber pada dongeng Sunda (Cagak Karancang, Raden Gondang, dan Dalem Bandung). Cerita yang biasa dibawakan berbeda dengan cerita yang dibawakan oleh juru Sahibul Hikayat. Dalam bercerita mereka tidak pernah memulai ceritanya dengan kata “Sahibul hikayat”. Cerita yang disajikan biasanya mirip dengan cerita pantun Sunda, seperti cerita “Sumur Bandung”, “Ciungwanara”, “Mundinglaya”, dan sebagainya, namun dengan versi yang berbeda sebagaimana umumnya folklor lisan. Biasa pula dibawakan cerita-cerita yang sering dipentaskan oleh rombongan Blantek atau Topeng, seperti cerita “Mandor Alias”, “Si Ombak”, “Amat Tompel”, dan sebagainya. Cerita dibawakan tanpa iringan musik, tidak seperti pantun Sunda yang biasanya diiringi kecapi, tarawangsa dan suling. Sesuai dengan isi cerita, biasanya bahasa yang dipergunakan oleh buleng adalah bahasa Melayu Tinggi bercampur dengan bahasa Sunda.

Buleng atau Tukang Dongeng biasa memperoleh panggilan dari orang yang mempunyai hajatan untuk ikut memeriahkan “malam ngangkat“, yaitu malam sebelum pesta sesungguhnya dilangsungkan. Pada “malam ngangkat” itu telah berkumpul sanak keluarga yang empunya hajat, dari dekat dan dari jauh, untuk ikut membantu persiapan dan pelaksanaan hajatan. Pria dan wanita bekerja menurut kemampuan dan tugas masing-masing. Ada yang menyiapkan pelampang, yaitu bangunan sementara untuk menerima tamu, ada yang menyiapkan panggung untuk tontonan. Demikian pula ada yang menyiapkan penganan di tempat yang khusus disediakan untuk keperluan itu. Sebagian, yang tugasnya sudah selesai, sebagian sambil terus bekerja menyelesaikan tugasnya, dihibur dengan mendengarkan “tukang dongeng” membawakan cerita yang menarik, lebih-lebih diselipi dengan lelucon.

Pada umumnya Tukang Dongeng tidak mendapat imbalan uang. Mereka cukup disediakan makanan dan minuman, serta ketika pulang dibekali sekedarnya untuk oleh-oleh bagi keluarganya di rumah. Saat ini Tukang Dongeng di Jakarta dan sekitarnya telah berusia lanjut, dengan kondisi fisik yang menurun seperti kurangnya pendengaran, kurang penglihatan, dan bicaranya sudah tidak jelas. Popularitas Tukang Dongeng itu telah lama memudar, terutama akhir-akhir ini makin terdesak oleh kemajuan hiburan-hiburan elektronis.

2.1.2.      Sahibul Hikayat

Sahibul Hikayat adalah kata Arab yang berarti ‘yang empunya cerita’. Kata itu nama sejenis sastra lisan yang dibawakan oleh tukang cerita (pencerita) atau Juru Cerita atau Juru Hikayat.

Pada waktu khitanan, perkawinan, pindah rumah dan malam menjelang keberangkatan naik haji, atau pada hari-hari raya Islam, masyarakat Betawi seringkali mengundang sang Tukang Cerita. Pementasan kesenian ini di kampung-kampung biasanya berlangsung semalam suntuk, akan tetapi radio-radio amatir yang menyiarkan Sahibul Hikayat dengan sponsor dari para pengusaha menjadikannya sebagai cerita bersambung.

Cerita diawali dengan pembacaan pujian dan doa yang diucapkannya dalam bahasa Arab, lengkap dengan terjemahannya. Kemudian pencerita mengemukakan bahwa cerita yang akan dibawakannya itu adalah rekaan semata. Bila ada kejadian atau penyebutan nama yang kebetulan sama dengan nama salah seorang penonton, hal itu semata-mata kebetulan belaka.

Dalam permulaan cerita atau dalam adegan-adegan cerita baru, seringkali kita mendengar kata-kata bahasa Melayu klasik, seperti kata sahibul- hikayat, kata yang empunya cerita atau syahdan. Cerita yang dibawakan disampaikan dalam bentuk prosa bahkan dengan beberapa bait pantun di sana-sini. Dalam cerita tidak ada adegan khusus atau tokoh jenaka tertentu, seperti dalam wayang, topeng atau lenong. Namun hampir setiap kesempatan ada bagian dialog atau karakterisasi pelaku yang menggelikan.

Cerita yang dibawakan oleh Sahibul Hikayat yaitu cerita-cerita yang berasal dari Persia, seperti “Seribu Satu Malam” dan “Nurul Laila”. Daerah penyebaran seni Ssahibul Hikayat ini terutama di wilayah Jakarta Pusat (Salemba, Tanah Abang, Kebon Sirih, dan Kemayoran).

Juru Hikayat yang terkenal pada masa lalu antara lain: Haji Ja’far, Haji Ma’ruf, Mohammad Zahid atau yang dikenal dengan nama Wak Jait. Wak Jait kemudian menurunkan ilmu bertuturnya kepada anaknya yang bernama Sofyan Zahid. Kisah yang diangkat oleh Sofyan adalah “Ma’ruf Tukang Sol Sepatu dan Isterinya si Romlah”, yang berkisah tentang kehidupan rumah tangga sepasang suami-isteri yang semula rukun menjadi kurang harmonis karena usaha suaminya tidak maju. Cerita ini sederhana, tetapi cara melakoninya cukup menarik, sehingga membuat penonton sering terkekeh.

Juru Hikayat biasanya bercerita sambil duduk bersila, ada yang sambil memangku bantal atau sesekali memukul gendang kecil untuk memberikan aksentuasi pada jalan cerita. Hingga tahun 1963, cerita-cerita yang biasanya dibawakan antara lain “Hasan Husin”, “Malakarma”, “Indra Sakti”, “Ahmad Muhamad”, “Dahrul Indra Laila Bangsawan”, dan lain-lain yang berbau Timur Tengah dan antara lain yang bersumber dari kumpulan cerita Seribu Satu Malam.

2.1.3.      Rancag atau Gambang Rancag

Rancag menurut ucapan orang Betawi Pinggiran, atau menurut ucapan orang Betawi Tengahan berarti ‘pantun’. Rancag adalah macam cerita lisan yang disampaikan dalam bentuk pantun berkait diiringi dengan improvisasi oleh dua orang secara bersahutan. Rancag itu diiringi oleh musik Gambang Kromong, yang dalam hubungan ini disebut Gambang Rancak atau Rancag.

Cerita lisan dalam pementasan rancag dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: cerita-cerita dari daratan Cina, cerita dongeng (cerita para bangsawan), dan cerita roman (cerita yang membawakan lelakon sehari-hari, kehidupan dalam masyarakat umum). Cerita yang disampaikan tergantung pada permintaan sang pengundang. Dalam satu kali pertunjukan bisa diceritakan beberapa judul cerita sekaligus.

Teater tutur ini boleh dikatakan nyaris punah karena banyak pencerita (pelakon) yang sudah almarhum. Pencerita (pelakon) yang masih hidup sudah berusia lanjut, sedangkan generasi penerusnya belum ada.

Salah satu pelakon tua yang masih hidup adalah Amsar berusia sekitar sembilan puluh tahun, namun masih mampu memperagakan kebolehannya dalam menyuguhkan cerita “Si Angkri Jago Pasar Ikan”. Amsar yang sedikit kocak itu memperagakan cerita dengan iringan orkes gambang kromong. Peragaan itu dalam bentuk pantun dengan nada berirama yang kadangkala diselingi dengan komentar pemain musik gambang kromong. Meskipun giginya semua sudah ompong, vokal suara Amsar masih tetap jernih dan lantang. Pendengarannya masih cukup baik.  Apa yang diucapkannya itu dihafalkan di luar kepala. Ia lebih banyak melakukan improvisasi lewat lirik pantunnya. Namun, kadangkala ucapannya kurang jelas karena terlalu cepat diucapkan.

Menurut kesan penonton (orang Betawi), teater tutur yang dibawakan ini kurang begitu komunikatif antar pemusik dengan penutur maupun penonton. Dahulu dalam teater tutur ada dialog yang saling bersahutan dengan penonton.

Pergelaran Gambang Rancag dilakukan oleh dua orang Juru Rancag atau lebih. Ceritanya disampaikan dengan cara dinyanyikan dan diiringi orkes Gambang Kromong. Sejak awal perkembangannya Gambang Rancag biasa memeriahkan pesta-pesta, terutama dalam lingkungan terbatas. Biasanya dipentaskan tanpa panggung, sejajar dengan penonton yang berada di sekelilingnya.

Cerita-cerita yang dibawakan biasanya mengenai peristiwa yang mengesankan bagi warga kota, seperti “Si Pitung”, “Angkri”, “Delep”, dan lain-lain. Sering pula disajikan sketsa kehidupan atau gambaran sesuatu keadaan, seperti pada cerita “Randa Bujang”.

Pada tahun dua puluhan Juru Rancag yang terkenal antara lain seorang tunanetra bernama Jian yang memiliki suara “serak-serak basah”.             Tokoh-tokoh Gambang Rancag dewasa ini antara lain Samad Modo dengan Jali alias Jalut dan Ma’in yang berada di daerah Pekayon, Entong Dale dengan Bedeh yang berada di daerah Cijantung, serta Amsar bersama Ali dan Minggu yang berada di daerah Bendungan Jago. Samad Modo, Amsar, dan Rame Reyot telah mendapat penghargaan Gubernur KDKI Jakarta sebagai seniman tua yang bertahan selama tiga jaman.

Dari dahulu sampai sekarang pantun-pantun yang dibawakan disusun secara improvisasi, tanpa cerita tertentu dan seringkali disesuaikan dengan tempat dan keadaan di saat pergelaran berlangsung. Kadang-kadang dipanjang-panjangkan disertai bumbu-bumbu lelucon untuk menambah kegembiraan penonton. Lebih-lebih kalau malam semakin larut, para perancag berusaha menghilangkan kantuk penonton dengan lawakan-lawakan tanpa direncanakan lebih dahulu, disertai dengan mimik dan artikulasi yang memberikan tekanan-tekanan pada cerita atau lawakan yang dibawakan.

Pada zaman lampau penyebaran Gambang Rancak sama luasnya dengan penyebaran Gambang Kromong, karena masing-masing rombongan Gambang Kromong dilengkapi pula dengan Juru Rancag. Dewasa ini sudah tidak banyak lagi seniman Gambang Kromong yang pandai merancag.

2.2.      Folklor Betawi

Jan Harold Brunvand dalam bukunya The Study of American Folklore, membagi folklor dalam tiga kelompok besar, yaitu: folklor lisan (verbal folklore), folklor setengah lisan (partly verbal folklore), dan folklor bukan lisan (non verbal folklore). Pembagian tersebut kiranya berlaku juga bagi folklor Betawi.

Folklor lisan Betawi terdiri dari:

  1. Bahasa rakyat Betawi, meliputi: logat, julukan, sindiran, titel, bahasa rahasia dan sebagainya.
  2. Ungkapan tradisional Betawi meliputi peribahasa, pepatah, dan sebagainya.
  3. Pertanyaan tradisional Betawi meliputi teka-teki dan sebagainya.
  4. Puisi rakyat Betawi meliputi pantun,syair, dan sebagainya.
  5. Cerita prosa rakyat Betawi, meliputi: mite, legenda, dan dongeng. Selain itu juga cerita pendek lucu (anekdot) baik yang bersifat sopan maupun yang cabul atau yang dapat menyinggung perasaan orang lain.
  6. Nyanyian rakyat Betawi.

Folklor setengah lisan Betawi antara lain: kepercayaan dan takhayul orang Betawi, permainan rakyat dan hiburan rakyat,  drama rakyat, tari-tarian, adat kebiasaan orang Betawi, upacara-upacara adat, dan pesta-pesta rakyat Betawi.

Folklor bukan lisan Betawi dapat dibagi menjadi dua sub golongan, yaitu: yang material dan yang bukan material. Yang material antara lain adalah: arsitektur rakyat, seni kerajinan tangan, pakaian dan perhiasan, obat-obatan, makanan dan minuman, alat-alat musik, peralatan dan senjata, serta mainan orang Betawi. Yang bukan material antara lain: bahasa isyarat dan musik Betawi.

Setiap macam folklor yang tercantum dalam deretan daftar tersebut di atas merupakan satu genre atau bentuk folklor. Masing-masing genre itu merupakan unsur dari kebudayaan orang Betawi masa kini yang mempunyai fungsi dalam kehidupan orang-orang yang mendukung kebudayaan tersebut. Oleh karena itu seyogyanya dalam mempelajari folklor Betawi, kita tidak hanya memperhatikan teksnya saja, tetapi juga harus menelaah konteksnya. Kita tidak cukup hanya mempelajari lore-nya, tetapi juga mengungkapkan kehidupan dan alam pikiran orang Betawi sebagai folk-nya.

2.3.      Peta Persebaran Bahasa Betawi

Ternyata usaha untuk mengangkat kebetawian ke permukaan dalam rangka mewarnai Jakarta dengan tradisi lokal tidaklah semudah yang diperkirakan. Bukan saja miskinnya pengetahuan serta perhatian yang pernah diberikan kepada kelompok ini, melainkan juga banyak ketidakjelasan, variasi serta pertentangan-pertentangan yang terdapat di dalamnya. Pertentangan-pertentangan ini berupa perbedaan pengertian serta penafsiran kebetawian antara kelompok-kelompok Betawi, serta antara orang Betawi dan pengamat Betawi.

Bagi mereka yang menyadari adanya kelompok-kelompok Betawi, maka biasanya pengelompokan mereka terbatas pada Betawi Tengah/Betawi Kota dan Betawi Pinggir. Ada yang cenderung mengelompokkan Betawi lebih dari ini. Kadang-kadang orang menamakan Betawi Pinggir sebagai Betawi Udik. Kami sendiri melihat bahwa berdasarkan variasi yang tampak, maka orang Betawi dapat dikelompokkan sekurang-kurangnya atas Betawi Tengah, Betawi Pinggir, dan Betawi Udik. Betawi Udik seringkali juga disebut sebagai Betawi Ora. Orang-orang keturunan Arab dan keturunan Cina, yang telah beberapa generasi berada di Betawi dan tidak lagi berorientasi pada negeri leluhurnya, telah mengidentifikasikan diri mereka sebagai anak Betawi. Kelompok ini dinamakan sebagai Arab Betawi dan Cina Betawi.

Dari kenyataan ini sudah tentu bahasa sehari-hari yang dipakai juga mempunyai versi atau logat yang berbeda-beda yang sekaligus sebagai atribut penunjuk komunitas kelompok-kelompok orang Betawi. Hal tersebut akan kelihatan misalnya pada penyebutan istilah-istilah kekerabatan, aksentuasi dan intonasi serta bunyi bahasa yang dipakai. Masalah-masalah inilah yang dalam waktu dekat ini perlu dilakukan penelitian, misalnya mengenai daerah-daerah persebaran dan pemetaan dialek Betawi tersebut di atas.

  1. Program Bidang Religi

6.1.      Preservasi Bangunan Ibadah Tua

Upaya preservasi bangunan-bangunan tempat ibadah tua sekurang-kurangnya mempunyai dua kepentingan, yakni sebagai situs peninggalan sejarah dan sekaligus sebagai obyek wisata ziarah. Dalam hal  ini bangunan ibadah tersebut tidak dipandang sebagai sesuatu yang bersifat fisik semata, tetapi yang lebih penting adalah kandungan nilai-nilai historis-akademik yang ada di dalamnya. Dengan menjaga keutuhan bangunan ibadah itu kita dapat memahami bagaimana sejarah tumbuh dan berkembangnya pemeluk agama tertentu di tempat itu; apa dan bagaimana pula percampuran budaya sebagaimana yang tampak dalam gaya arsitektur bangunan ibadah itu. Bangunan-bangunan ibadah tua yang dimaksud dapat disebut sebagai contoh adalah: Vihara Avalokitesvara di Pasar Jatinegara; Mesjid Angke di Jakarta Kota; dan Gereja Katolik St. Servatius di Kampung Sawah – yang jemaatnya mengaku sebagai orang Betawi. Di lain pihak bangunan-bangunan ibadah itu juga merupakan daya tarik kota Jakarta sebagai tempat wisata ziarah, antara lain karena keunikannya.

6.2.      Toleransi Beragama

Ketika masa Orde Baru, berkenaan dengan masalah toleransi antar umat beragama, kota Jakarta selayaknya bangga karena sekurang-kurangnya ada dua penanda, kendati bersifat fisik. Penanda itu adalah letak dua bangunan ibadah yang megah berdekatan yakni Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Lapangan Banteng. Selain itu di Taman Mini Indonesia Indah dengan sengaja telah dibangun sejumlah tempat ibadah seturut agama-agama yang ada di Indonesia secara berdampingan sebelah-menyebelah. Tentu saja pembangunan tempat-tempat ibadah secara berdampingan itu diharapkan bukan hanya tampak luar saja, tetapi juga terwujud dalam beragam aspek kehidupan sehari-hari.

DAFTAR BACAAN

Shahab, Yasmine Zaki

2001       “Rekacipta Tradisi Betawi: Sisi Otoritas dalam Proses Nasionalisasi Tradisi Lokal”, dalam Antropologi Indonesia Th. XXV, No. 66, halaman 46-56.

1997              “Betawi dalam Mite dan Kenyataan”, Betawi dalam Perspektif Kontemporer, Perkembangan, Potensi dan Tantangannya (Yasmine Z. Shahab, ed.). Jakarta : Lembaga Kebudayaan Betawi, halaman 135-163.

Budiaman, Drs.

1982              Folklor Betawi. Jakarta : Pustaka Jaya.

Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta

2000              Seni Budaya Betawi : Pralokakarya, Penggalian dan Pengembangannya. Jakarta : Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta Proyek Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Betawi.

Ruchiat, H. Rachmat, Drs. Singgih Wibisono, dan Drs. H. Rachmat Syamsudin

2000              Ikhtisar Kesenian Betawi. Jakarta : Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Danandjaja, James

1986              Folklor Indonesia : Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta : Grafitipers.

Hendrowinoto, Nirwanto Ki S., dkk.

1998       Seni Budaya Betawi Menggiring Zaman. Jakarta : Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Mei 9, 2010 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

PEDOMAN PENELITIAN PERMAINAN RAKYAT di INDONESIA

Sub Direktorat Pranata Sosial dan Folklor bermaksud melakukan penelitian tentang Permainan Rakyat di sejumlah daerah di Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan sebagai panduan bagi maksud tersebut. Dalam hal ini Permainan Rakyat hendak dilihat sebagai salah sebuah bentuk (genre) folklor yakni Folklor Sebagian Lisan. Tentu saja Permainan Rakyat yang dimaksud dipandang dalam konteks kebudayaan dan masyarakat pendukungnya.

Oleh karena itu pertama-tama ada baiknya jika dibatasi terlebih dahulu sejumlah konsep yang bertalian dalam penelitian tersebut. Pengertian-pengertian tersebut antara lain mengenai: kebudayaan, folklor dan permainan rakyat. Setelah itu akan dipaparkan pula hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam membuat naskah folklor bagi kepentingan pengarsipan dan dokumentasi permainan rakyat.

Pengertian Kebudayaan

Dalam perbincangan sehari-hari seringkali kita mendengar orang berbicara tentang kebudayaan, tetapi sebenarnya yang mereka maksud dengan kebudayaan adalah kesenian. Ada sementara orang yang kagum atas tari-tarian tertentu, pakaian adat tertentu, arsitektur tradisional, seni pertunjukan; atau ada pula orang yang terpesona akan lukisan cat minyak, pembacaan sajak atau lagu-lagu daerah. Lalu serta-merta mereka menilai: “Sungguh hebat kebudayaan masyarakat itu.” Tentu saja penggunaan istilah kebudayaan di sana tidak salah, hanya perlu dilengkapi; karena kalau tidak kebudayaan hanya akan diartikan secara sempit dan sederhana saja. Lalu bagaimana agar konsep kebudayaan pengertiannya tidak sesempit itu.

Ada seorang antropolog yang pernah memodifikasi konsep kebudayaan yang berangkat dari pengertian-pengertian yang mendahuluinya. Ia lalu mendefinisikan konsep

kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya diri manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia melalui proses belajar. Jadi hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaan, karena hanya amat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar, yaitu tindakan berdasarkan naluri, refleks atau kelakukan yang bersifat membabi-buta. Dengan demikian jelaslah bahwa apa yang dimaksud dengan kebudayaan itu jauh lebih luas dan kompleks daripada kesenian. Sedangkan kesenian itu sendiri hanyalah merupakan salah satu unsur kebudayaan. Unsur-unsur lainnya adalah bahasa, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian, sistem organisasi sosial, sistem peralatan dan teknologi serta sistem religi. Ketujuh unsur tersebut seringkali disebut sebagai isi kebudayaan yakni unsur yang universal karena hampir semua masyarakat yang ada di muka bumi ini mempunyai unsur-unsur tersebut; dari masyarakat yang amat sederhana hingga yang kompleks.

Mengenai batasan kebudayaan serupa itu, penjelasan bahwa kebudayaan adalah sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia, itu merupakan cara pandang kebudayaan secara lahiriah. Itu adalah wujud kebudayaan. Pertama, yakni sistem ide yang isinya berupa gagasan, nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan, adat-istiadat, aturan tata-krama, pandangan hidup, kepercayaan-kepercayaan, wawasan dan lain-lain. Wujud pertama ini bersifat idiil sekaligus ideal, abstrak, tidak dapat diamati, tidak dapat dipegang dan bersifat kognitif; karena adanya dalam benak kepala manusia. Sedangkan wujud yang kedua merupakan kompleks perilaku, tindakan atau keseluruhan aktivitas

manusia. Wujud yang ini dapat diamati dan dapat dilihat serta tertangkap oleh panca-indera manusia. Sementara wujud yang ketiga adalah hasil karya manusia. Wujud ini merupakan wujud yang paling kongkret, karena dapat dipegang dan kasat mata. Ia merupakan semua benda hasil ciptaan manusia seperti peniti, jarum, radio, jembatan, mobil, rumah, komputer, satelit, lukisan, cinderamata, patung dan sebagainya.

Apabila kedua dimensi analisis dari konsep kebudayaan teruarai di atas (isi dan wujud kebudayaan) dikombinasikan ke dalam satu bagan, maka akan terbentuk suatu kerangka kebudayaan. Kerangka kebudayaan itu dapat dipakai sebagai pangkal analisis dari segala macam gejala kebudayaan yang mungkin dapat terjadi dalam kehidupan masyarakat. Karena kebudayaan yang hidup itu bersifat dinamis, selalu berubah setiap saat, maka penggunaan bagan lingkaran dianggap lebih cocok untuk menggambarkan dinamika itu daripada bagan yang berpangkal pada suatu matriks.

Analisis dimensi pertama dari kebudayaan ke dalam tiga wujud, yaitu sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik, digambarkan sebagai tiga lingkaran konsentris. Dalam hal itu sistem budayanya digambarkan sebagai lingkaran yang paling dalam dan inti. Adapun lingkaran yang kedua di sekitar inti menggambarkan sistem sosial, sedangkan kebudayaan fisik digambarkan sebagai lingkaran yang paling luar dan paling tampak.

Analisis dimensi kedua dari kebudayaan ke dalam tujuh unsur universal digambarkan pada bagan lingkaran dengan membaginya menjadi tujuh sektor, yang masing-masing menggambarkan salah satu dari ketujuh unsur tersebut. Maka dengan demikian akan terlihat bahwa tiap unsur kebudayaan itu memang dapat mempunyai tiga wujud yaitu wujud sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik.

Tiap unsur kebudayaan universal itu lebih jauh dapat dirinci beberapa kali lagi ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil. Kerangka mengenai ketujuh unsur kebudayaan universal itu yang biasanya juga dipakai oleh para penulis etnografi ketika bermaksud hendak melukiskan kebudayaan suatu masyarakat.

Kalau kebudayaan memiliki tiga wujud, sedangkan kebudayaan itu juga mempunyai tujuh unsur yang universal, maka sebagai konsekuensi logisnya adalah bahwa masing-masing unsur tersebut juga memiliki tiga wujud kebudayaan.

Di antara ketiga wujud kebudayaan tersebut agaknya wujud pertama menduduki tempat yang paling istimewa. Karena, ia yang berupa cita-cita, nilai-nilai, makna, norma-norma, pandangan, wawasan, kepercayaan, sikap-sikap dan sebagainya itu; yang mendorong, mengarahkan, mengatur serta mengendalikan kelakuan (seperangkat aktivitas) dan hasil kelakuan (seperangkat hasil karya, yang biasanya berupa benda) dari masyarakat pendukungnya. Oleh karenanya wujud kebudayaan yang abstrak yakni sistem budaya ini seringkali disebut sebagai tata kelakuan.

Pengertian Folklor

Dalam perbincangan sehari-hari istilah folklor dimengerti sebagai cerita rakyat atau lelucon saja. Adapula yang memakai istilah itu sebagai kata sifat, folklorik yang artinya bersifat kedaerahan atau kerakyatan. Bahkan oleh kalangan tertentu folklor disamaartikan dengan istilah tradisi lisan. Sebenarnya pengertian-pengertian itu tidak sepenuhnya salah. Katakan saja pengertian itu sempit. Dalam  hal ini pengertian folklor adalah sebagian dari kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional, dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan, maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device) (Danandjaja, 1984:2). Jadi secara kongkret folklor Indonesia adalah sebagian dari kebudayaan suku-suku bangsa yang berada di Nusantara, seperti orang-orang Jawa, Sunda, Bali, Aceh, Dayak Ngaju, Manado, Bugis, Makasar, Asmat dan lain-lain. Bahkan bukan saja terbatas dari folklor orang yang tergolong “pribumi” saja, tetapi juga orang Indonesia keturunan Cina, Arab, India dan Belanda, asalkan kebudayaannya telah lama diadaptasikan di Indonesia.

Adapun ciri-ciri folklor tersebut adalah : pertama, penyebaran dan pewarisannya biasanya secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut terkadang dengan gerak isyarat; dari generasi satu ke generasi berikutnya, jadi bukan melalui cetakan, rekaman atau media elektronik lainnya. Proses pewarisan ini berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, ia bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau bentuk baku. Ketiga, ia ada dalam bentuk versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini karena cara penyebarannya yang secara lisan tadi, sehingga oleh proses lupa diri manusia folklor dapat dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian seringkali perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.

Keempat, ia bersifat anonim, yakni nama penciptanya sudah tidak dikenal lagi, sehingga menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Dalam hal ini setiap anggota kolektif yang bersangkutan boleh merasa memilikinya. Kelima, ia berfungsi bagi pendukungnya, misalnya untuk  membela diri, atribut untuk menunjukkan identitas, sebagai hiburan, sebagai alat pendidikan dan lain sebagainya.

Keenam, ia bersifat pralogis, dalam arti mempunyai sistem logika sendiri, yang tidak sesuai dengan logika Aristotelian. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan. Ketujuh, pada umumnya folklor bersifat polos, spontan dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, bahkan porno, atau bersifat sara. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur sifat manifestasinya (Danandjaja, 1984:3-5).

Unsur-unsur kebudayaan yang mempunyai ciri-ciri khas itu, dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar yakni  folklor lisan, folklor sebagian lisan dan folklor bukan lisan. Kelompok yang terakhir dapat dibagi menjadi dua sub kelompok lagi  yakni  yang material dan yang non material (Danandjaja, 1984:21).

Yang tergolong kelompok folklor lisan dapat dibagi menjadi beberapa bentuk (genre) seperti : (a) ujaran rakyat, (a.l.: logat, julukan, pangkat tradisional, dan titel kebangsawanan); (b) ungkapan tradisional (a..l.: peribahasa, pepatah dan  pemeo); (c) pertanyaan tradisional (a.l.: teka-teki); (d) puisi rakyat, seperti pantun, gurindam, dan syair; (e) cerita prosa rakyat (mite, legenda, dan dongeng); dan (f) nyanyian rakyat (balada dan epos) (Danandjaja, 1984:21-22).

Kelompok folklor sebagian lisan adalah permainan rakyat, teater rakyat, makanan dan minuman rakyat, tari rakyat, adat istiadat, upacara, pesta rakyat  dan kepercayaan rakyat. Yang tergolong folklor bukan lisan sub kelompok material a.l.: adalah arsitektur rakyat, seni kriya rakyat (kerajinan tangan); pakaian dan perhiasan tubuh rakyat. Dan yang tergolong non material a.l.: adalah gerak  isyarat tradisional (gesture), bunyi-bunyian rakyat untuk komunikasi seperti beduk pada orang Afrika, kentongan bagi orang Jawa, atau gong bagi orang Dayak.

Karena folklor adalah sebagian kebudayaan, maka kita harus memandangnya bahwa ia merupakan produk budaya suatu masyarakat tertentu. Tentu saja padanya juga berlaku bagaimana hakekat keberadaan kebudayaan dalam masyarakat. Karakter itu antara lain bahwa ia bersifat dinamis, relatif,  adaptif,  sistemis, fungsional dan rasional. Oleh karena itu pendekatan holistik terhadap kebudayaan juga harus diberlakukan bagi pemahaman keberadaan folklor di tengah-tengah kolektif pendukungnya. Sebagai konsekuensi logisnya maka jika kita bermaksud mengumpulkan folklor dan hendak didokumentasikan secara tertulis harus diperhatikan masalah konteks dari lore dimaksud; selain teks bentuk folklor yang dikumpulkan dan pendapat serta penilaian informan maupun pengumpul. Inilah yang biasanya disebut sebagai pendekatan folklor modern, yakni memperhatikan secara seimbang antara folk dan lore nya. Hal ini amat perlu bagi kepentingan analisis dan interpretasi folklor baik dengan pendekatan etik maupun emik.

Hal-hal tersebutlah yang patut kita perhatikan ketika kita harus memandang, menilai, dan menyikapi produk-produk budaya suatu masyarakat yang dapat  digolongkan sebagai bentuk-bentuk (genre) folklor; baik lisan, sebagian lisan maupun bukan lisan.

Pengertian Permainan Rakyat

Permainan rakyat sebagai bagian dari kebudayaan manusia pada masa lalu, merupakan salah satu unsur kebudayaan daerah yang keberadaannya perlu dikembangkan dan dibina untuk menunjang pengembangan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional. Karena permainan rakyat mempunyai peranan penting dalam masyarakat yang berfungsi sebagai sarana sosialisasi nilai-nilai luhur, seperti: menanamkan rasa disiplin, membina sikap dan sebagainya.

Pada awalnya permainan rakyat merupakan usaha manusia untuk mengisi waktu senggang dan sebagai sarana hiburan. Selain itu, permainan rakyat juga merupakan suatu perwujudan dari tingkah laku manusia yang dilakukan dalam kegiatan fisik dan mental, dan merupakan hasil budaya manusia yang terwujud dari serentetan nilai-nilai yang menurut masyarakat atau kelompok suku-bangsa pendukungnya diakui keberadaannya. Nilai-nilai ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembinaan dan pengembangan nilai- nilai budaya bangsa.

Sehubungan dengan hal tersebut, seperti yang tercantum dalam UUD 1945, pasal 32 disebutkan bahwa “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia”. Dalam hal ini pemerintah melalui Sub Direktorat Tradisi dan Kepercayaan Direktorat Nilai Budaya menyusun pedoman penulisan dan pengkajian permainan rakyat daerah. Hal ini, karena permainan rakyat yang terdapat di daerah-daerah yang ada di wilayah Indonesia mempunyai berbagai macam bentuk serta beragam pula cara memainkannya. Selain itu juga mempunyai berbagai macam nama yang diberikan pada bentuk-bentuk permainan, kadangkala macam permainan sama, namun nama yang diberikan di daerah yang satu dengan di daerah yang lain berbeda namanya. Selanjutnya, keanekaragaman bentuk dan wujud permainan tersebut sejajar dengan kelompok umur para pemainnya dan sesuai dengan perkembangan jasmani yang bersangkutan, serta dapat pula dikelompokkan jenis kelamin para pemainnya.

Permainan rakyat di daerah ialah suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia pendukungnya guna kepentingan pembinaan jasmani dan sikap mental yang bersangkutan. Kegiatan jasmaniah itu dapat dilakukan secara perorangan ataupun bersama dan melibatkan lebih dari seorang sekaligus, baik dimaksudkan untuk sekedar mengisi waktu luang dan memecahkan rasa kelelahan hidup sehari-hari, ataupun dimaksudkan untuk membina keterampilan dan sikap dalam pergaulan sosial yang lebih luas. Oleh karena itu kegiatan jasmani dapat dibedakan antara permainan yang sifatnya menghibur, sebagai selingan hidup maupun sebagai kegiatan yang sifatnya bertanding (competitive) dengan segala ketentuannya. Baik permainan yang sifatnya pengisi waktu luang maupun permainan yang dipertandingkan, dalam kenyataan tidak mudah dibedakan, apalagi jika melihat jumlah orang yang terlibat, mengingat peranannya dalam pembinaan anggota masyarakat (sosialisasi).

Adapun bentuk dan wujud permainan yang berpangkal tolak sebagai kegiatan jasmani yang diperlukan oleh setiap kehidupan, khususnya makhluk manusia dalam usahanya membina keseimbangan jasmani, dengan menyalurkan energi yang berlebihan, dengan selingan yang dapat dinikmati itu merupakan gejala universal yang dapat dijumpai dalam setiap masyarakat manusia. Adapun permainan rakyat di daerah dalam rangka penulisan ini, ialah segala kegiatan jasmani yang dilakukan secara tertib dan berpola oleh para pendukungnya.

Pada hakekatnya, permainan rakyat daerah dapat berwujud permainan olah raga, yaitu permainan yang menuntut keterampilan jasmani; permainan kecerdasan (games of strategy) yang menuntut kepandaian pemain untuk memilih cara atau siasat yang tepat guna mencapai sasaran; permainan bimbingan (games of chances) yang sifatnya memberikan bimbingan kepada anggota masyarakat untuk melakukan peranan; dan permainan sosial (social games) yang lebih banyak mementingkan hiburan dan memperluas pergaulan dalam masyarakat yang bersangkutan.

Signifikansi Penelitian

Kegiatan penulisan dan pengkajian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan rakyat ini dilaksanakan oleh pamong budaya di daerah. Kelompok sasaran yang menjadi obyek kegiatan ini antara lain:

  1. permainan rakyat tradisional yang dimiliki oleh setiap suku-bangsa di daerah minimal sebanyak 5 (lima) buah.
  2. Permainan rakyat yang menjadi bahan kajian adalah permainan rakyat yang mengandung unsur pengembangan fisik maupun non fisik yang memakai alat maupun yang tidak memakai alat dan dilakukan baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.
  3. Permainan yang mengandung nilai-nilai luhur yang dapat mendukung pengembangan kebudayaan bangsa, misalnya nilai persatuan, kemandirian dan kebersamaan.
  4. Daerah kajiannya meliputi D.I. Aceh, Riau, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan penulisan dan pengkajian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan rakyat ini bertujuan:

  1. Untuk memperoleh bahan informasi budaya tentang permainan rakyat
  2. Mengkaji nikai-nilai budaya bangsa yuang terkandung dalam permainan rakyat daerah untuk bahan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.

Deskripsi Permainan Rakyat

Dalam penulisan ditetapkan, bahwa permainan rakyat yang harus dikumpulkan minimal berjumlah 5 (lima) buah permainan terdiri dari permainan anak-anak, orang dewasa dan orang-orang tua.

Pelakunya biasanya laki-laki, perempuan ataupun campuran. Jenis permainan yang dipilih yang berciri khas daerah, dengan aturan permainan yang agak kompleks dan dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lama serta dapat mengasyikan bagi pemain maupun penonton. Yang jelas, permainan yang bersifat kompetitif, rekreatif dan edukatif. Dapat pula permainan yang diselenggarakan pada peristiwa sosial tertentu. Untuk penulisan, setiap permainan yang dicatat harus meliputi:

  1. a. Nama Permainan

Nama ini didasarkan pada penyebutan masyarakat setempat di mana permainan itu diambil. Bila ada nama lain yang mungkin asalnya dari penamaan orang luar, sebaiknya dicatat untuk bahan perbandingan dalam usaha mengusut sejarah perkembangannya serta penyebarannya.

Nama permainan dalam bahasa Daerah perlu dicarikan padanan bahasa Indonesianya dengan uraian secara etimologis (asal terbentuknya kata atau istilah) dan disertai makna atau pengertian yang terkandung dalam kata atau istilah tersebut. Dengan demikian dapat sedikit terungkap latar belakang sosial budaya permainan.

  1. b. Hubungan permainan dengan peristiwa lain

Permainan itu biasanya dilakukan pada peristiwa apa. Apakah penyelenggaraannya bisa tersendiri atau tidak terpisahkan dari peristiwa sosial tertentu lainnya. Adakah unsur-unsur kepercayaan religio-magis yang terkandung dalam penyelenggaraan permainan.

  1. c. Latar belakang sosial budaya penyelenggaraan permainan

Perlu dikemukakan apakah permainan itu hanya dilakukan secara terbatas dalam lingkungan sosial tertentu, dan erat berhubungan dengan peristiwa tradisional dalam lingkungan. Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan bahwa pada masa pemerintahan feodal ada jenis-jenis permainan yang hanya dilakukan dalam lingkungan istan. Ada pula jenis permainan yang dianggap sakral sehingga untuk penyelenggaraannya diperlukan persyaratan tertentu yang tidak boleh diabaikan begitu saja.

  1. d. Latar belakang sejarah perkembangan permainan

Diharapkan ada uraian tentang perkembangan permainan berdasarkan informasi dari orang-orang tua yang pernah mengalaminya ketika masih kanak-kanak.

  1. e. Peserta/Pelaku

Diutarakan mengenai peserta atau pemain-pemainnya secara lengkap, yang meliputi jumlah pemain, usia, jenis kelamin serta latar belakang sosial para pemainnya. Dikemukakan pula, apakah ada permainan tertentu yang khusus dilakukan oleh laki-laki atau perempuan saja, dan mengapa ada pembatasan atau ketentuan pemain menurut jenis kelamin.

Selain itu, kemukakan juga apakah para pelaku permainan itu terbatas dari kelompok sosial tertentu, misal hanya khusus anak-anak bangsawan saja atau hanya biasa dilakukan oleh anak-anak gembala di desa-desa sebagai pengisi waktu selama menggembalakan ternaknya dan sebagainya.

  1. f. Peralatan/perlengkapan permainan

Alat-alat yang dipergunakan dalam permainan, khususnya yang berciri khas daerah perlu dideskripsikan secara jelas dan terurai. Bila nama-nama alat itu memakai bahasa daerah perlu dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia, jika ada atau agak mendekati pengertian aslinya agar dapat menambah kejelasan informasi. Bentuk ukuran dan bahan yang digunakan serta cara menggunakan alat-alat tersebut perlu dikemukakan. Hal ini perlu diwujudkan dalam gambar atau foto sebagai ilustrasi.

  1. g. Iringan permainan

Adakalanya permainan disertai iringan dengan bunyi-bunyian, berupa musik atau gamelan. Ada pula lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para pemain selama permainan berlangsung. Semua unsur dikemukakan dengan cukup terurai lengkap dengan notasinya untuk mendukung kejelasan deskripsi permainan.

  1. h. Jalannya permainan

Dalam penguraian jalannya permainan, terlebih dahulu diuraikan persiapan-persiapan sebelumnya yang merupakan prasarana bagi penyelenggaraan permainan. Aturan-aturan permainan diuraikan dengan jelas. Jika permainan terdiri dari beberapa tahap, maka tiap-tiap tahap harus dijelaskan dan dikemukakan apa ciri-ciri tiap tahap itu. Uraikan pula konsekuensi bagi peserta yang kalah dan yang menang.

Dalam arena permaian ukurannya yang jelas perlu dicantumkan. Lebih baik lagi jika deskripsi permaian dilengkapi dengan ilustrasi ketika permainan berlangsung yang dapat memperjelas gambaran permainan.

KEPUSTAKAAN

Budiaman

1980        Folklor Betawi. Jakarta : Pustaka Jaya

Danandjaja, James

1978    Penuntun Cara Pengumpulan Folklore bagi Pengarsipan. Jakarta : Jurusan Antropologi Fakultas Sastra  Universitas Indonesia.

1984        Folklor Indonesia : Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain. Jakarta : Grafitipers

Koentjaraningrat

1998        Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Mei 9, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

GENRE MUSIK DANGDUT dalam PERUBAHAN

Abstrak

Biasanya unsur budaya yang digolongkan folklor bersifat kedaerahan, kerakyatan, tradisional, polos, lugu, bersahaja, mudah dicerna, cenderung kasar dan didukung oleh kelompok masyarakat yang mempunyai karekter serupa. Dalam percakapan sehari-hari unsur budaya dimaksud mendapat cap “kampungan” atau “norak”. Tentu saja penilaian tersebut dipakai oleh orang-orang di luar kelompoknya; yakni mereka yang dapat digolongkan berasal dari strata menengah ke atas. Kalau unsur budaya yang dimaksud adalah genre musik Dangdut, maka pada awal perkembangannya hingga dekade 80-an ia memang mendapat cap seperti itu. Tetapi hasil pengamatan penulis selama ini menunjukkan bahwa ternyata genre musik Dangdut kini didukung oleh jenis folk yang berbeda; sehingga ciri-ciri yang menempel padanya juga cenderung berubah. Perubahan tersebut sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari tuntutan pendukungnya yang ditanggapi secara amat positif oleh para pelaku  dan seniman musik Dangdut. Hal inilah yang sekaligus memacu proses kreatif mereka. Melalui pelukisan fenomena musik Dangdut ini penulis mau menunjukkan bahwa musik Dangdut tetap dapat digolongkan ke dalam genre folklor kendati mempunyai ciri-ciri yang berbeda dan didukung oleh folk yang luas dan beragam.

Baca lebih lanjut

Mei 8, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

MEMAHAMI SISTEM BUDAYA melalui KESENIAN

Tulisan ini bermaksud hendak memahami bagaimana hakekat kesenian dalam konteks kebudayaan suatu masyarakat. Pemahaman tentang hakekat kesenian dalam konteks kebudayaan tersebut mutlak diperlukan, agar peneliti dapat secara benar menyikapi kesenian yang kelak dijadikan obyek dalam penelitiannya. Untuk itu masalah-masalah yang akan dibahas adalah pengertian-pengertian mengenai: kebudayaan, kesenian dan hakekat kesenian dalam masyarakat.

Baca lebih lanjut

Mei 8, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

KESENIAN dalam KONTEKS KEBUDAYAAN

Tulisan ini bermaksud hendak memahami bagaimana hakekat kesenian dalam konteks kebudayaan suatu masyarakat. Pemahaman tentang hakekat kesenian dalam konteks kebudayaan tersebut mutlak diperlukan, agar peneliti dapat secara benar menyikapi kesenian yang kelak dijadikan obyek dalam penelitiannya. Untuk itu masalah-masalah yang akan dibahas adalah pengertian-pengertian mengenai: kebudayaan, kesenian dan hakekat kesenian dalam masyarakat.

Baca lebih lanjut

Mei 8, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

HEIDEGGER : MEMBANGUN EKSISTENSI MANUSIA LEWAT “KEMATIAN”

Salah seorang filsuf eksistensialis adalah Marthin Heidegger. Seluruh filsafat Heidegger dapat dilihat sebagai usaha untuk menemukan kembali keagungan “Ada”. Oleh karena itu, dalam hal ini Heidegger lebih tepat disebut sebagai seorang “ontolog” daripada seorang “filsuf eksistensi”. Dalam tulisan pendek ini saya hanya mau coba mengerti bagaimana eksistensi manusia itu, khususnya melalui salah satu pandangannya yakni kematian.
Baca lebih lanjut

Mei 8, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL : TINJAUAN FOLKLOR Kasus: Pencak Silat Betawi

Pendahuluan
Tulisan ini bermaksud hendak memahami keberadaan seni pertunjukan tradisional dalam konteks masyarakat pendukungnya. Seni pertunjukan tradisional dipandang sebagai salah sebuah bentuk produk budaya masyarakat yang bersangkutan. Artinya seni pertunjukan tersebut dipandang sebagai cerminan; apa dan bagaimana masyarakat pendukungnya berangan-angan dan berpikir. Untuk memahaminya ilmu folklor dipakai sebagai pisau analisanya.
Karena pengertian folklor adalah sebagian kebudayaan suatu masyarakat, maka pertama-tama kita harus membatasi terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan konsep kebudayaan itu. Kemudian bagaimana pemahaman salah sebuah unsur kebudayaan, yakni kesenian dalam konteks masyarakat pendukungnya. Akhirnya perlu juga dibatasi apa dan bagaimana pengertian folklor itu, dan hubungannya dengan kesenian, khususnya seni pertunjukan tradisional.
Sebagai ilustrasi akan diambil salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Betawi, yakni pencak silat, yang sekaligus akan dijadikan sumber garapan bagi penciptaan karya tari. Dalam hal ini pencak silat akan dipandang sebagai folklornya masyarakat Betawi.
Baca lebih lanjut

Mei 8, 2010 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

FOLKLOR TARI di INDONESIA

Pendahuluan

Tari di Indonesia pada dasarnya merupakan pengertian yang dikaitkan dengan tari-tarian yang berasal dari berbagai kelompok budaya dari wilayah Indonesia. Sedangkan Sejarah Indonesia berkaitan dengan sejarah perkembangan kebangsaan Indonesia sejak zaman prasejarah hingga kini. Namun demikian studi tentang Sejarah Tari Indonesia dapat dilaksanakan dengan bertolak terlebih dulu dari bidang studi lain seperti Sastra, Antropologi, Arkeologi dan Seni Rupa ataupun dari bidang Teater dan Musik. Bidang-bidang studi tersebut kemudian diproyeksikan dalam konteks Sejarah Indonesia pada umumnya dan Sejarah Kesenian pada khususnya.
Baca lebih lanjut

Mei 8, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar