Tetoroto's Blog

Just another WordPress.com weblog

FOLKLOR INDONESIA

Dalam perbincangan sehari-hari istilah folklor dimengerti sebagai cerita rakyat atau lelucon saja. Adapula yang memakai istilah itu sebagai kata sifat, folklorik yang artinya bersifat kedaerahan atau kerakyatan. Bahkan oleh kalangan tertentu folklor disamaartikan dengan istilah tradisi lisan. Sebenarnya pengertian-pengertian itu tidak sepenuhnya salah. Katakan saja pengertian itu sempit. Dalam hal ini pengertian folklor adalah sebagian dari kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional, dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan, maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device) (Danandjaja, 1984:2). Jadi secara kongkret folklor Indonesia adalah sebagian dari kebudayaan suku-suku bangsa yang berada di Nusantara, seperti orang-orang Jawa, Sunda, Bali, Aceh, Dayak Ngaju, Manado, Bugis, Makasar, Asmat dan lain-lain. Bahkan bukan saja terbatas dari folklor orang yang tergolong “pribumi” saja, tetapi juga orang Indonesia keturunan Cina, Arab, India dan Belanda, asalkan kebudayaannya telah lama diadaptasikan di Indonesia.

Adapun ciri-ciri folklor tersebut adalah : pertama, penyebaran dan pewarisannya biasanya secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut terkadang dengan gerak isyarat; dari generasi satu ke generasi berikutnya, jadi bukan melalui cetakan, rekaman atau media elektronik lainnya. Proses pewarisan ini berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, ia bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau bentuk baku. Ketiga, ia ada dalam bentuk versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini karena cara penyebarannya yang secara lisan tadi, sehingga oleh proses lupa diri manusia folklor dapat dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian seringkali perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.

Keempat, ia bersifat anonim, yakni nama penciptanya sudah tidak dikenal lagi, sehingga menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Dalam hal ini setiap anggota kolektif yang bersangkutan boleh merasa memilikinya. Kelima, ia berfungsi bagi pendukungnya, misalnya untuk membela diri, atribut untuk menunjukkan identitas, sebagai hiburan, sebagai alat pendidikan dan lain sebagainya.

Keenam, ia bersifat pralogis, dalam arti mempunyai sistem logika sendiri, yang tidak sesuai dengan logika Aristotelian. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan. Ketujuh, pada umumnya folklor bersifat polos, spontan dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, bahkan porno, atau bersifat sara. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur sifat manifestasinya (Danandjaja, 1984:3-5).

Unsur-unsur kebudayaan yang mempunyai ciri-ciri khas itu, dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar yakni folklor lisan, folklor sebagian lisan dan folklor bukan lisan. Kelompok yang terakhir dapat dibagi menjadi dua sub kelompok lagi yakni yang material dan yang non material (Danandjaja, 1984:21).

Yang tergolong kelompok folklor lisan dapat dibagi menjadi beberapa bentuk (genre) seperti : (a) ujaran rakyat, (a.l.: logat, julukan, pangkat tradisional, dan titel kebangsawanan); (b) ungkapan tradisional (a..l.: peribahasa, pepatah dan pemeo); (c) pertanyaan tradisional (a.l.: teka-teki); (d) puisi rakyat, seperti pantun, gurindam, dan syair; (e) cerita prosa rakyat (mite, legenda, dan dongeng); dan (f) nyanyian rakyat (balada dan epos) (Danandjaja, 1984:21-22).

Kelompok folklor sebagian lisan adalah permainan rakyat, teater rakyat, makanan dan minuman rakyat, tari rakyat, adat istiadat, upacara, pesta rakyat dan kepercayaan rakyat.
Yang tergolong folklor bukan lisan sub kelompok material a.l.: adalah arsitektur rakyat, seni kriya rakyat (kerajinan tangan); pakaian dan perhiasan tubuh rakyat. Dan yang tergolong non material a.l.: adalah gerak isyarat tradisional (gesture), bunyi-bunyian rakyat untuk komunikasi seperti beduk pada orang Afrika, kentongan bagi orang Jawa, atau gong bagi orang Dayak.

Karena folklor adalah sebagian kebudayaan, maka kita harus memandangnya bahwa ia merupakan produk budaya suatu masyarakat tertentu. Tentu saja padanya juga berlaku bagaimana hakekat keberadaan kebudayaan dalam masyarakat. Karakter itu antara lain bahwa ia bersifat dinamis, relatif, adaptif dan sistemis. Oleh karena itu pendekatan holistik terhadap kebudayaan juga harus diberlakukan bagi pemahaman keberadaan folklor di tengah-tengah kolektif pendukungnya. Sebagai konsekuensi logisnya maka jika kita bermaksud mengumpulkan folklor dan hendak didokumentasikan secara tertulis harus diperhatikan masalah konteks dari lore dimaksud; selain teks bentuk folklor yang dikumpulkan dan pendapat serta penilaian informan maupun pengumpul. Inilah yang biasanya disebut sebagai pendekatan folklor modern, yakni memperhatikan secara seimbang antara folk dan lore nya. Hal ini amat perlu bagi kepentingan analisis dan interpretasi folklor baik dengan pendekatan etik maupun emik.

Hal-hal tersebutlah yang patut kita perhatikan ketika kita harus memandang, menilai, dan menyikapi produk-produk budaya suatu masyarakat yang dapat digolongkan sebagai bentuk-bentuk (genre) folklor; baik lisan, sebagian lisan maupun bukan lisan.

ACUAN :

Danandjaja, James
1984 Folklor Indonesia : Ilmu gosip, dongeng dan lain-lain. Ja

Mei 8, 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: