Tetoroto's Blog

Just another WordPress.com weblog

FOLKLOR TARI di INDONESIA

Pendahuluan

Tari di Indonesia pada dasarnya merupakan pengertian yang dikaitkan dengan tari-tarian yang berasal dari berbagai kelompok budaya dari wilayah Indonesia. Sedangkan Sejarah Indonesia berkaitan dengan sejarah perkembangan kebangsaan Indonesia sejak zaman prasejarah hingga kini. Namun demikian studi tentang Sejarah Tari Indonesia dapat dilaksanakan dengan bertolak terlebih dulu dari bidang studi lain seperti Sastra, Antropologi, Arkeologi dan Seni Rupa ataupun dari bidang Teater dan Musik. Bidang-bidang studi tersebut kemudian diproyeksikan dalam konteks Sejarah Indonesia pada umumnya dan Sejarah Kesenian pada khususnya.

Periodisasi Sejarah Tari Indonesia terkait dengan periodisasi Sejarah Kesenian yang pada dasarnya terbagi sebagai berikut : 1) Kesenian Jaman Prasejarah (mulai sebelum abad Masehi). 2) Kesenian yang mendapat pengaruh Budaya Hindu (mulai abad 1 Masehi). 3) Kesenian yang mendapat pengaruh Budaya Islam (mulai abad 13 Masehi). 4) Kesenian yang mendapat pengaruh Budaya Eropa (mulai abad 15 Masehi). 5) Kesenian Jaman Pergerakan Nasional (mulai awal abad 20 Masehi). 6) Kesenian pada Masa Kemerdekaan (mulai 17 Agustus 1945).

Itulah antara lain yang sekurang-kurangnya harus diperhatikan ketika membicarakan tari-tarian di Indonesia. Namun membicarakan tentangnya pada dasarnya meliputi ruang lingkup yang sangat luas, sangat bervariasi dan multi kompleks. Misalnya tari-tarian dari jaman prasejarah hidup berdampingan dengan tari-tarian dari jaman-jaman lainnya maupun dengan berbagai ekspresi jaman kini.

Selain itu kalau kita bicara mengenai masyarakat Indonesia yang mendiami kepulauan Nusantara ini, ia mempunyai sifat plural yang besar dalam hal bahasa dan kebudayaan. Menurut variasi kebudayaannya, mereka dapat digolongkan menjadi bentuk kesatuan sosial yang disebut suku-bangsa. Namun demikian jumlah suku-bangsa di Indonesia itu sukar dihitung karena konsep suku-bangsa dapat mengembang atau menyempit menurut keadaan secara subyektif. Belum lagi kalau kita menggolongkannya sampai pada bentuk kesatuan sosial yang disebut sub suku-bangsa.

Oleh karena itu sudah selayaknyalah jika sekurang-kurangnya masyarakat Indonesia itu dapat mengenal salah sebuah tarian yang mewakili salah satu suku-bangsa atau sub suku-bangsa yang ada di Indonesia; sekaligus tarian mana dapat dianggap sebagai atribut penunjuk dan pembeda identitas kesuku-bangsaannya, seperti tari Seudati untuk Aceh, Topeng Cirebon untuk sub suku-bangsa Jawa-Indramayu, dan sebagainya.

Sehubungan dengan hal itu dalam kesempatan ini penulis tidak bermaksud untuk membicarakannya satu persatu. Untuk maksud itu ada beberapa literatur yang dapat memberikan informasi tentangnya (lihat bibliografi).

Hakekat Seni Tari
Secara universal kebudayaan suatu masyarakat manusia terdiri dari tujuh unsur. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut satu sama lain saling berkaitan, saling mempengaruhi dan merupakan satu kesatuan yang utuh; sehingga ketujuh unsur tersebut saling berhubungan dan membentuk sebuah sistem. Dengan demikian unsur kebudayaan kesenian merupakan salah sebuah komponen pembentuk kebudayaan suatu masyarakat. Unsur kebudayaan ini tentu saja berkaitan erat dengan unsur-unsur kebudayaan yang lain seperti bahasa, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup, organisasi sosial, sistem peralatan dan teknologi serta sistem religi. Karena keberadaan kesenian sangat terkait erat dengan aspek-aspek kehidupan yang lain maka sebagai konsekuensi logisnya jika seseorang hendak memahami kesenian, ia juga harus memahami aspek-aspek kehidupan yang lain, termasuk juga cabang-cabang kesenian lain yang dimiliki oleh masyarakat yang bersangkutan. Itulah pengertian dan penerapan pendekatan holistik pada pemahaman kesenian.

Pengertian pendekatan holistik juga dipakai untuk memandang sebuah cabang seni itu sendiri, dalam hal ini seni tari. Artinya, karena yang dimaksud dengan tari bukan sekedar kumpulan gerak indah saja, tetapi mencakup unsur tari lainnya, maka sejumlah unsur tari itu juga merupakan satu kesatuan yang utuh bahkan mempunyai hubungan satu sama lain yang serasi dan harmonis sehingga sarat dengan nilai-nilai keindahan. Unsur-unsur tari tersebut meliputi seperangkat busana tari, ragam hias pada busana tari, tata rias tari, properti dan aksesori yang dipakai, musik dan alat yang dipakai untuk mengiringi, tata dan teknik pentas, makna yang melatar-belakangi keseluruhan tari, dan yang paling cocok adalah serangkaian gerak baik yang mengandung makna maupun gerak-gerak kembangan (stilisasi). Itu semua harus dipandang secara holistik dan sistemis.

Sehubungan dengan hal itu dalam kesempatan ini ada baiknya jika pertama-tama kita sepakati dahulu pengertian tari. Mengenai pengertian tari, sebenarnya sudah banyak ahli yang mengungkapkannya dari beragam sudut pandang seturut dengan disiplin ilmu yang dikuasainya. Namun demikian dari sejumlah batasan yang coba mengupas tari, terdapat unsur-unsur dan ciri-ciri dalam tari yang selalu hadir dalam setiap batasan. Unsur-unsur tersebut adalah gerak, ruang, ritme, pesan dan nilai estetis. Adapun ciri-ciri yang terkandung dalam tari antara lain adalah ekspresi manusia manusia secara artistik; gerak yang dilakukan oleh manusia; gerak yang berpola, gerak stilisasi dan distorsi; mengandung ritme; di dalam ruang; mengandung pesan dan mengandung simbol.

Dari unsur-unsur dan ciri-ciri tersebut dapat dibuat sebuah batasan tari yakni: tari adalah hasil karya kreatif manusia yang diwujudkan melalui gerak tubuh manusia, disusun secara artistik dengan memperhatikan kaidah-kaidah keindahan di dalam ruang berdasarkan ritme tertentu dan mengandung pesan atau makna tertentu baik secara tersurat maupun tersirat. Itulah yang dikenali sebagai tari oleh masyarakat pendukungnya. Artinya, dalam hal ini tari dipandang sebagai sebuah seni pertunjukan yang ditonton oleh masyarakat pendukungnya.
Dengan demikian, dalam hal ini kesenian dipandang sebagai salah sebuah unsur kebudayaan. Secara umum orang sering menyatakan bahwa kesenian adalah ekspresi jiwa manusia akan keindahan. Sebenarnya tidak semua karya seni dapat dikatakan demikian, karena ada karya seni yang lebih mengutamakan pesan budaya yang mengandung nilai budaya dari masyarakat yang bersangkutan. Hal ini berarti masyarakat yang bersangkutan bermaksud menjawab atau menginterpretasikan permasalahan kehidupan sosialnya, mendambakan kemakmuran, kebahagiaan dan rasa aman, serta rasa kecewa dan sedih, dalam bentuk karya seni; sehingga karya seni itu sarat dengan berbagai makna yang tersirat di belakang obyek tadi; yang acapkali bersifat simbolis. Itulah beberapa hal yang seyogyanya kita perhatikan manakala hendak memahami seni tari dalam konteks kebudayaan dan masyarakat pendukungnya. Sekarang marilah kita tilik bersama bagaimana dan sampai sejauh mana perkembangan tari di Indonesia kini.

Prospek Tari di Indonesia
Secara administratif pemerintahan Indonesia terbagi atas 26 propinsi. Namun demikian, sebagai wilayah budaya masing-masing propinsi dapat memiliki kesenian dari berbagai etnik maupun sub-etnik yang jumlahnya bukan saja puluhan tetapi ratusan.

Di dalam kelompok etnik maupuan sub-etnik dapat ditemukan beragam jenis tarian. Tari-tarian ini mempunyai latar belakang sejarah, peranan dan perkembangan kebudayaan yang berbeda. Dalam proses perkembangannya di masa kini, terutama semenjak kemerdekaan Indonesia ada jenis tari-tarian yang dapat mencapai tingkat dan bobot artistik yang tinggi yang dapat dianggap klasik maupun kontemporer. Namun demikian tidak sedikit yang berada di ambang kepunahan dan masih tertinggal sisa-sisanya yang sebagai seni pertunjukan tidak berarti lagi atau telah menjadi hiburan ringan, bahkan ada pula yang hidupnya menempel dan tergantung pada aspek kehidupan lain.

Kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun 1945 dan perjuangan kebangsaan pada masa pergerakan nasional, telah membawa nafas baru pada tari Indonesia. Hal itu muncul melalui suatu kesadaran nasional untuk menghidupkan tari-tarian Indonesia yang bersumber pada berbagai budaya daerah.
Sejak kemerdekaan Indonesia, seni tari tradisional sebagai budaya daerah menjadi bagian dari kebudayaan nasional yang memperkuat identitas bangsa Indonesia. Sehubungan dengan hal itu banyak tari daerah yang hampir punah diangkat kembali melalui program revitalisasi, rehabilitasi dan akhirnya dipreservasi sebagai khasanah budaya Indonesia. Dalam hal ini pusat-pusat kesenian daerah amat sangat diharapkan peran sertanya untuk memacu dan memberikan suasana yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya tari-tarian daerah.

Sudah sejak lama bangsa Indonesia mempunyai kesadaran baru akan suatu kebutuhan terhadap sejenis tarian yang dapat memiliki ciri nasional dan tidak lagi dapat dikategorikan sebagai tari daerah atau tari suku-bangsa tertentu, tapi suatu tari bangsa Indonesia. Pemikiran ini sejalan dengan apa yang terjadi di bidang sastra, bahasa dan lain-lain, di mana kebutuhan kesatuan dan persatuan merupakan masalah yang nyata. Namun demikian kebutuhan yang menyangkut kepentingan tari tidak semudah bidang lainnya. Secara intrinsik tari memiliki kaidahnya tersendiri yang proses pemecahannya sedemikian rupa sehingga memerlukan seperangat permasalahan teknis tersendiri apabila mau dikembangkan ke arah itu.

Dengan demikian apabila kesenian Indonesia, khususnya seni tari ingin terangkat sebagai khasanah bangsa secara menyeluruh maka ia memerlukan sistem pembinaan secara tersendiri.

Pembinaan yang memacu kepada sistem kesenian nasional Indonesia mulai dikembangkan melalui sarana pendidikan formal yang sifatnya kejuruan pada bidang seni tari itu sendiri. Hal ini sudah dilaksanakan melalui pendidikan seni tari di sekolah formal dalam tingkatan menengah, tinggi maupun yang tersebar melalui sanggar dan perkumpulan seni tari. Pada dasarnya memang tari tradisional yang menjadi titik tolak pembinaan. Akan tetapi melalui pembinaan kreativitas dan komposisi serta koreografi, konsepsi nasional dapat tertampung dalam pengembangan tari sebagai seni pertunjukan Indonesia.

Selebihnya pembinaan seni tari melalui kegiatan festival, pekan kesenian di tingkat lokal dan nasional membawa serta kepentingan akan pemahaman kesatuan dan persatuan. Pada mulanya jenis kreasi tari sedemikian masih dikategorikan sebagai tari modern, tari kontemporer atau dengan istilah lebih lunak tari kreasi baru. Aspirasi nasional semakin terasa dan sudah mulai terlihat bentuknya melalui seni tari ini. Sering kali unsur etnik atau kedaerahan masih terasa dan masih kuat muatan lokalnya, tapi nafas baru sebagai khasanah nasional lebih terasa daripada kelokalannya atau keetnikannya. Permasalahannya kemudian menjadi masalah teknis artistik, di mana kesenimanan nasional pada dasarnya juga memerlukan pendidikan dan pembinaan secara tersendiri. Hal ini juga diperkuat ketika seniman tari Indonesia mengikuti berbagai peristiwa internasional dan pengalaman tersebut menjadi bekal dalam berkarya selanjutnya.

Prospek tari di Indonesia adalah suatu proses pengangkatan berbagai aspek warisan budaya menuju makna kekinian yang nasional, regional maupun universal dan global untuk dapat disumbangkan sebagai khasanah kebudayaan umat manusia yang lintas budaya dan batas geografi. Bhineka Tunggal Ika dalam seni tari sudah mulai terungkap; tidak saja dalam konteks nasional juga di dalam pergaulan internasional, di mana multikulturalisme dan pluralisme dalam berkesenian justru merupakan suatu kekuatan yang menyatu berbagai kepentingan kesenian di dunia dalam memupuk sikap saling mengerti dan saling menghargai antar kehidupan berbangsa.

Tokoh-tokoh dan seniman-seniman yang telah mengembangkan karyanya ke arah wawasan ini sudah banyak terutama di lingkungan Perguruan Tinggi Kesenian, Pusat Kesenian, Dewan Kesenian, Taman Budaya yang sudah tersebar di berbagai sentral-sentral budaya seperti Aceh, Medan, Padang, Padang Panjang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Tenggarong, Ujung Pandang, Jayapura dan lain-lain.

Mungkin sebagai titik tolak perkembangan itu adalah kegiatan sebagaimana yang terpusat di Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan Dewan Kesenian Jakarta dan Institut Kesenian Jakarta.
Pada generasi pertama kita mengenal tokoh-tokoh tari seperti Bagong Kussudiardjo dan Wisnu Wardhana; koreografer yang berasal dari Yogyakarta yang berjasa dalam mengembangkan karya tarinya tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Sardono W. Kusumo, koreografer yang berasal dari Surakarta dan memulai kariernya pada pentas Ramayana di Prambanan, kemudian mengembara dan menetap di Jakarta dan melakukan pertunjukan ke berbagai tempat di luar negeri. Karya-karya tarinya seringkali kontroversal, tetapi tampak pula bahwa ia merintis kebaharuan dalam kreativitas seni tari Indonesia. Dalam kelompoknya perlu dicatat tokoh semacam Sal Murgiyanto, seorang koreografer yang menjadi ilmuwan dalam ilmu tari, di samping Sentot Sudiharto, Retno Maruti dan S. Kardjono yang lebih mengembangkan gaya tari Yogyakarta. Dari wilayah lain ada Huriah Adam dari Sumatera Barat, Tengku Mazly H. Mansur dari Sumatera Timur, Munasiah Najamuddin dan Nani Sapada dari Ujung Pandang serta I Wayan Diya dari Bali.

Dari generasi yang lebih muda muncul seniman yang potensinya tak kalah dibandingkan generasi sebelumnya. Tom Ibnur, Deddy Luthan, Gusmiati Suid dan Boi G. Sakti yang berasal dari Sumatera Barat; Wiwiek Sipala dari Sulawesi Tenggara; Trisapto, Sulistyo S. Tirtokusumo, Wahyu Santosa, Tri Nardono dan Sukarji Sriman dari Surakarta; Wiwiek Widyastuti, Djoko Suko Sadono, Elly Pasha dari lingkungan DKI Jakarta; Noerdin Daoed dan Marzuki Hasan dari Aceh, serta I Made Bandem, I Wayan Dibya dan Netra dari Bali.

Selain nama-nama di atas masih banyak lagi tokoh-tokoh pengembang dan pelestari seni tari di Indonesia, baik dari generasi yang lalu, maupun yang akan datang yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

BIBLIOGRAFI

Parani, Yulianti L. dan Hilarius S. Taryanto
1994 Tari-tarian di Indonesia (Konsep Awal). Jakarta : Sekretariat Asean

Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depdikbud
1980 Ensiklopedi Tari Indonesia. Jakarta : Proyek Media Kebudayaan Jakarta Direktorat Jenderal Kebudayaan Depdikbud

Soedarsono
1972 Jawa dan Bali: Dua Pusat Perkembangan Drama Tari Tradisional di Indonesia. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
1979 Tari-tarian Indonesia I, II. Jakarta : Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Dirjen. Kebudayaan Dep. P & K

Mei 8, 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: