Tetoroto's Blog

Just another WordPress.com weblog

GENRE MUSIK DANGDUT dalam PERUBAHAN

Abstrak

Biasanya unsur budaya yang digolongkan folklor bersifat kedaerahan, kerakyatan, tradisional, polos, lugu, bersahaja, mudah dicerna, cenderung kasar dan didukung oleh kelompok masyarakat yang mempunyai karekter serupa. Dalam percakapan sehari-hari unsur budaya dimaksud mendapat cap “kampungan” atau “norak”. Tentu saja penilaian tersebut dipakai oleh orang-orang di luar kelompoknya; yakni mereka yang dapat digolongkan berasal dari strata menengah ke atas. Kalau unsur budaya yang dimaksud adalah genre musik Dangdut, maka pada awal perkembangannya hingga dekade 80-an ia memang mendapat cap seperti itu. Tetapi hasil pengamatan penulis selama ini menunjukkan bahwa ternyata genre musik Dangdut kini didukung oleh jenis folk yang berbeda; sehingga ciri-ciri yang menempel padanya juga cenderung berubah. Perubahan tersebut sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari tuntutan pendukungnya yang ditanggapi secara amat positif oleh para pelaku  dan seniman musik Dangdut. Hal inilah yang sekaligus memacu proses kreatif mereka. Melalui pelukisan fenomena musik Dangdut ini penulis mau menunjukkan bahwa musik Dangdut tetap dapat digolongkan ke dalam genre folklor kendati mempunyai ciri-ciri yang berbeda dan didukung oleh folk yang luas dan beragam.

Pendahuluan

Bilamana kita berbicara tentang irama “dangdut” dengan mencoba menelusuri ke belakang, ke akar irama joget Melayu, tentulah akan ada pula banyak yang berkeberatan. Argumentasinya bisa diuraikan dari berbagai segi pandangan, dan secara empiris memang tercatat bahwa irama joget Melayu pernah mencapai popularitas di masa-masa tahun 1950-an. Banyak Orkes Melayu yang berkibar namanya pada saat itu seperti : Orkes Melayu Chandralela pimpinan Mashabi, Orkes Melayu Bukit Siguntang pimpinan Abdul Chalik (dengan biduannya yang terkenal Hasnah Thahar, Suhaimi), Orkes Melayu Sinar Kemala pimpinan A. Kadir, serta Orkes Melayu Kenangan pimpinan  Husein Aidit.

Jelas bahwa irama “dangdut” baru muncul dan dikenal pada sekitar tahun 1960-an dengan pemunculan seorang bintang Ellya Khadam dengan hitnya Boneka dari India disusul oleh banyak ciptaan dan bintang-bintang lain. Dalam jenis ini terlihat kuatnya pengaruh nada dan beat irama musik tanah Hindustan. Sebuah berita dalam majalah Majapada mencatat tanggapan penonton pada malam pesta lawak di Senayan, bahwa penggemar seni menyukai lagi lagu-lagu yang berirama Melayu. “Penyanyi-penyanyi yang muncul itu tidak lagi menyanyikan lagu Melayu asli seperti Makan Sirih Berjauh Malam atau lagu-lagu Melayu lama seperti Anak Tiung, atau pula lagu Melayu Deli seperti Pulau Puteri, tetapi mereka menyanyikan irama lagu-lagu Melayu bergaya Hindustan yang diciptakan oleh A. Kadir, Husein Bawafie, dan lain-lain (Lohanda, 1982:140).

Selama jangka waktu yang cukup panjang ini, disayangkan bahwa belum ada studi yang mengkhususkan diri dalam hal penelusuran asal mula atau latar belakang yang dapat menjelaskan munculnya jenis musik yang berakar pada beat gendang Hindustan. Seberapa jauh kemunculan irama ini dipengaruhi oleh popularitas film-film India di kalangan masyarakat kita ? Bagaimanakah proses eksperimental dari penciptaan yang paling awal dan masih mungkinkah ditemukan karya lagu “dangdut” yang pertama ? Adakah pula unsur-unsur sosial budaya yang mempengaruhi munculnya jenis musik ini ?  Untuk menjawab masalah-masalah tersebut, sepertinya perlu dilakukan penelitian yang komprehensif.

Mengenai  penamaan irama “dangdut” pun sudah tentu perlu dicari asal-usulnya. Apakah ini merupakan onomatophea (pembentukan kata mengikuti bunyi yang keluar dari obyek) antara hentakan gendang dan liukan (dut). Dan kapan penamaan “dangdut” ini lahir, dalam kesempatan apa, dan siapa yang mencetuskan penamaan ini ? Jadi sebenarnya, ada banyak unsur yang perlu dimunculkan dan ditinjau untuk memperoleh gambaran historis yang lebih jelas tentang jenis musik ini. Apalagi perkembangan mutakhir memunculkan banyak superstar di bidangnya seperti Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Camelia Malik, Meggy Z. , Imam S. Arifin, hingga Evie Tamala, Iis Dahlia, Ikke Nurjanah, Fenty Noor, Vetty Vera, Irvan Mansyur, Anis Firia dan sebagainya.

Popularitas “dangdut” sedikit banyak ditolong pula oleh berkembangnya industri kaset, peranan radio-radio swasta, surat kabar, tabloid dan majalah hiburan populer, iklan dan akhirnya menjangkau dunia film. Jika popularitas mau diukur dengan jumlah pendukung, penggemar dan peminat, boleh jadi “dangdut” jaman kini dapat diartikan sebagai mass-music (musik yang digemari orang banyak), untuk tidak secara gegabah menyebutnya sebagai “musik rakyat” atau folk music yang masih mengandung nada tradisional dalam pengertiannya. Dalam hal ini pendukung dangdut dilihat dari dimensi horisontalnya lebih beragam latar  belakang sosial budayanya. Bahkan sekarang penggemarnya juga sudah beragam dilihat dari dimensi vertikal.

Untuk memperoleh sebutan “musik rakyat” tentu akan diperlukan rentang waktu yang panjang di samping aspek dukungan yang mapan yang terdapat dalam “dangdut”. Tetapi yang jelas, justru dari segi dukungan ini merupakan suatu gejala yang menarik muncul dalam dunia permusikan populer di tanah air kita.

Berlawanan dengan pendukung musik pop yang mengaku berorientasi ke Barat, yaitu orang-orang dari golongan kelas atas dan menengah, maka kelompok pendukung “dangdut” adalah dari golongan kelas bawah. Pendukung “dangdut” yang tampak lebih memassa, umumnya tinggal di kota tetapi bukan di bagian “elit gedongan”. Mereka tinggal di kampung-kampung pinggiran di banyak kota besar, tidak terdidik atau sedikit terdidik, dan lebih dianggap sebagai kelas bawah dilihat dari tingkat  pendapatan (walaupun belum tentu benar). Mereka inilah yang membentuk kelompok pendukung “dangdut” yang amat fanatik kepada jenis yang satu ini. Lirik dan irama yang sederhana lebih bersifat menghibur daripada memikir dan  berkontemplasi, ternyata berhasil memenuhi keinginan sebagian terbesar massa di kota-kota besar, dari Jakarta sampai ke pelosok di pinggir kota Jayapura sana. Meskipun statistik belum dapat membuktikan seberapa besar dukungan tersebut secara kuantitatif, namun kenyataan empiris sulit untuk diingkari.

Di sini terlihat bahwa kebutuhan akan hiburan dari berbagai macam kelompok masyarakat tentu dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan intelektualitas masing-masing. Seorang dengan pendidikan Sekolah Dasar tentu akan lebih mudah mencerna lirik dan nada lagu Begadang nya Rhoma Irama serta sekaligus menikmatinya, daripada misalnya harus bersusah payah merenung dan mencari makna lagu Ayah dari Ebiet G. Ade.

Gambaran Dangdut Dewasa Ini

Maraknya musik dangdut di negeri ini sangat didukung oleh industri-industri rekaman yang memproduksi kaset, CD, karaoke musik dangdut. Dari kemajuan di bidang ini pula, dangdut dengan mudahnya dicampurkan dengan warna musik lain seperti kecapian (kecadut), tarling (tardut), keroncong , dan jazz (trakebah). Ragamnya bertambah lagi dengan direkamnya lagu-lagu dangdut dalam berbagai bahasa daerah, seperti Jawa, Minang, Sunda, Indramayu, Osing dan sebagainya.

Produk rekaman musik dangdut berupa kaset ini kemudian dicari dan diusahakan untuk dimiliki oleh para penggemarnya agar pada setiap kesempatan yang diinginkan mereka dapat menikmati lagu-lagu dangdut.  Perkampungan di tengah atau pinggiran kota besar maupun desa-desa di pelosok daerah, makin ceria di malam hari oleh alunan suara musik dangdut dan gelak tawa orang yang berkumpul di warung maupun di rumah seorang teman.

Dampak dari semuanya itu adalah berkembangnya industri rekaman musik dangdut yang menjadi sumber penghasilan yang mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit. Hal tersebut mengundang banyak pihak untuk memanfaatkannya.  Bermunculan dan berkembangnya industri rekaman serta artis-artis penyanyi dangdut yang kesemuanya merupakan dampak dari berkembangnya musik dangdut, dapat memberikan peluang bagi peningkatan kesempatan kerja. Dengan demikian akan meningkat pula jumlah tenaga yang terserap, baik artis, pekerja dan ahli-ahli elektronik untuk industri-industri rekaman, serta pekerja maupun pelayan toko-toko kaset.

Radio dan TV merupakan media elektronik yang mempunyai peran penting bagi berkembangnya segala jenis maupun bentuk cabang seni termasuk segala jenis musik dangdut. TV sudah tidak lagi merupakan barang yang asing di pedalaman, maka tidaklah heran apabila sekarang banyak dijumpai muda-mudi yang berpakaian seperti artis-artis penyanyi TV yang muncul dengan lagu-lagu dangdut kegemaran mereka. Musik dangdut benar-benar telah dapat menghadirkan perubahan sosial budaya yang perlu dicatat.

Seiring dengan hasil-hasil rekaman tersebut, disebarkanlah musik dangdut kepada masyarakat pencintanya melalui audio-visual, baik siaran radio swasta (Agustina, Muara, Bwens Radio, CBB, SPFM, Mersi), televisi swasta, dalam berbagai bentuk mata acara dari panggung musik, siaran langsung, video klip lagu-lagu terbaru, tangga lagu favorit mingguan, kuis hingga sineteron. Judul-judul acara tersebut seperti : Sik Asik, In Dangdut, Liga Dangdut, Kuis Dangdut, JogeD, Laris Manis, Tak Tak Dut, Café Dangdut, Salam Dangdut MTV, dan masih banyak lagi.

Lagu-lagu dangdut yang semakin bervariasi tersebut sangat mudah kita temui saat diperdengarkan di pemukiman penduduk perkampungan di tengah / pinggiran kota besar, warung-warung, bis kota lewat pengamen, dagangan yang dijajakan secara berkeliling kampung (penjaja roti, siomai), hajatan, hingga yang menggeser upacara adat yang bermakna sakral.

Dengan kehadiran  musik dangdut, pesta-pesta di kalangan masyarakat menengah dan bawah dimeriahkan oleh joget bersama dengan iringan musik dangdut tersebut. Di warung-warung tak jarang didengar alunan lagu-lagu  dangdut yang diikuti oleh hentakan kaki serta anggukan kepala dari mereka yang mendengar dari radio kaset atau memasukkannya dari sebuah acara TV.  Di tempat-tempat para pengemudi truk beristirahat sejenak melepaskan lelahnya, terdengar pula alunan suara penyanyi-penyanyi dangdut dari radio kaset truk mereka masing-masing, sehingga kadang tak ubahnya  seperti keramaian Sekaten sedang berlangsung di tempat perhentian itu. Mereka benar-benar dapat menemukan  hiburan musik yang sesuai dengan selera mereka.

Akhir-akhir ini dalam kesempatan berkumpul dalam perayaan perkawinan, dan perayaan-perayaan peringatan hari-hari tertentu juga sering ditampilkan musik dangdut. Dalam setiap perayaan Sekatenan di Yogyakarta, yang merupakan kegiatan budaya setiap tahun musik dangdut selalu tetap ditampilkan. Demikian pula dengan ditampilkannya musik dangdut dalam acara guro-guro aron (pesta muda-mudi) di Batak Karo menggantikan musik gendang Karo.

Demikian pula, dangdut kini melanda  diskotik-diskotik di kawasan Puncak untuk menjaring para pencari hiburan dari kelas menengah ke atas.

Penggemar dangdut yang porsinya paling besar di masyarakat kita sangat nampak pada penyelenggaraan panggung-panggung hiburan, baik yang permanen diadakan secara rutin setiap malam minggu, maupun pada saat-saat tertentu ketika memperingati hari-hari besar, hari ulang tahun kesatuan-kesatuan ABRI atau dalam masa kampanye menjelang Pemilu.

Pada mulanya musik dangdut dapat dikatakan hanya mempunyai penggemar dari golongan menengah dan  bawah, tetapi setelah adanya aliran musik dangdut yang baru, dengan adanya unsur-unsur rock, jazz, house music dan disko, maka sekarang setiap remaja apapun latar belakang pendidikannya mengenal jenis musik ini dan bahkan tanpa disadari ikut menikmatinya dalam setiap kesempatan pemunculan musik dangdut baik di radio maupun di TV. Jumlah penggemar musik dangdut meningkat relatif lebih cepat dibanding dengan jenis pop lainnya. Ini berarti pertambahan konsumennya pun meningkat lebih cepat. Lebih-lebih dengan masuknya unsur-unsur jenis musik pop lainnya ke dalam irama musik dangdut, menjadikan musik dangdut mampu menarik peminat yang tadinya bukan pendukung musik dangdut.

Dengan meluasnya dangdut dalam beberapa dekade terakhir ini, penggemarnya pun tampak meningkat dari kelas bawah hingga menengah ke atas. Dewasa ini musik dangdut merupakan salah satu jenis musik yang paling banyak penggemarnya. Dampaknya pada kehidupan sosial budaya dan ekonomi dapat jelas diamati dari kehidupan sehari-hari dalam lingkungan masyarakat pendukungnya, musik dangdut begitu dekat dengan masyarakat pendukungnya dan begitu populer karena masyarakat penggemarnya merasa telah menemukan jenis musik yang sesuai, sehingga menikmati musik dangdut tersebut sehari-hari telah merupakan bagian dari hidup mereka.

Di samping itu ada hal lain yang menunjang kehadirannya di tengah-tengah masyarakat yang luas itu. Perkembangan musik dangdut merupakan perkembangan yang sedikit banyak didasarkan juga atas adanya ketidakseimbangan perkembangan seni musik di masyarakat Indonesia. Di satu pihak musik pop dari jenis rock dan jazz terus melaju memenuhi pasaran bisnis rekaman maupun pentas seni yang mewah dan hanya dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat elit.

Pemunculan musik dangdut ini dari segi perkembangan masyarakat merupakan suatu sikap tanggap dari suatu kelompok masyarakat yang berkembang sebagai reaksi terhadap ketidakseimbangan tersebut. Kalau kelompok masyarakat elit dapat memiliki jenis hiburan tertentu seperti itu, bagaimana dengan mereka ini, yang tidak mempunyai uang dan pendidikan yang cukup untuk mengerti jenis musik pop rock dan jazz, apalagi konser-konser dan opera.

Tak kurang dari pejabat dan artis film/sinetron memperkaya sekaligus memperkuat keberadaan musik dangdut melalui dapur rekaman. Kita dapat menjumpai Basofi Sudirman, sang Gubernur di sebuah sampul kaset dangdut, mantan Mensekneg Moerdiono diangkat sebagai Bapak Dangdut Indonesia atau seorang model dan artis sinetron bernama Thomas Jorghi.

Akhir-akhir ini banyak artis penyanyi baru bermunculan menampilkan lagu dangdut, baik dengan gayanya sendiri maupun meniru gaya pendahulunya yang menurut pendapatnya merupakan idola penggemar musik dangdut, seperti Elvi Sukaesih dan Rhoma Irama, yang pantas disebut “tonggak”  musik dangdut.

Dangdut sebagai Salah Satu Genre Folklor

Dalam perbincangan sehari-hari istilah folklor dimengerti sebagai cerita rakyat atau lelucon saja. Ada pula yang memakai istilah itu sebagai kata sifat, folklorik yang artinya bersifat kedaerahan atau kerakyatan. Bahkan oleh kalangan tertentu folklor disama-artikan dengan istilah tradisi lisan. Sebenarnya  pengertian-pengertian itu tidak sepenuhnya salah. Katakan saja pengertian itu sempit. Dalam  hal ini pengertian folklor adalah “sebagian dari kebudayaan kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional, dalam versi yang berbeda  baik dalam bentuk lisan, maupun  contoh yang disertai dengan gerak isyarat  atau alat pembantu pengingat (mnemonic device)” (Danandjaja, 1984:2).

Dilihat dari bentuknya ada tiga golongan folklor yakni folklor lisan, folklor sebagian lisan dan folklor bukan lisan. Dalam hal ini musik dangdut bisa  digolongkan sebagai folklor  lisan. Jika kita  memandang musik dangdut sebagai salah satu bentuk (genre) folklor, itu artinya musik dangdut dipandang sebagai sebagian kebudayaan suatu komunitas tertentu.  Dengan kata lain musik dangdut sebagai produk budaya yang mereka hasilkan dan mereka miliki dan tentu saja fungsional.

Adapun ciri-ciri folklor tersebut  adalah :  pertama, penyebaran dan pewarisannya  biasanya secara lisan, yakni disebarkan melalui  tutur kata dari mulut ke mulut terkadang  disertai dengan gerak isyarat; dari generasi satu ke generasi berikutnya, jadi bukan melalui cetakan, rekaman atau media elektronik lainnya. Proses  pewarisan ini berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian  bisa saja terjadi pada awal persebarannya melalui cetakan, rekaman atau media elektronik lainnya, baru kemudian diteruskan secara lisan.

Kedua, ia bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap  atau bentuk baku. Ketiga, ia ada dalam bentuk versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini karena cara penyebarannya  yang secara lisan tadi, sehingga oleh proses lupa  diri manusia folklor dapat dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian seringkali perbedaannya hanya  terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan. Itulah sebabnya sebuah  judul lagu dangdut A mempunyai beberapa versi. Selain berupa versi karena didendangkan oleh penyanyi  lain, juga ada versi Jawa, Sunda, Minang, dan sebagainya.

Keempat, ia bersifat anonim, yakni nama penciptanya sudah tidak dikenal lagi, sehingga menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Dalam hal ini setiap  anggota kolektif yang bersangkutan boleh merasa memilikinya. Itulah sebabnya tidak sembarang penggemar dangdut bisa mengikuti dan menang dalam acara Kuis Dangdut  yang dipandu H. Jaja Miharja di TPI; karena  tidak memperhatikan siapa  penciptanya.  Kelima, ia berfungsi bagi pendukungnya, misalnya untuk membela diri, atribut untuk menunjukkan identitas, sebagai hiburan, sebagai alat pendidikan, sebagai  alat proyeksi angan-angan terpendam, dan lain sebagainya. Mengenai ciri fungsional pada dangdut ini akan  dibicarakan lebih    khusus.

Keenam,  ia bersifat  pralogis, dalam arti mempunyai sistem logika  sendiri, yang tidak sesuai   dengan logika Aristotelian. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan. Ketujuh, pada umumnya folklor bersifat  polos, spontan dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya “kampungan”, norak, atau bahkan kasar. Hal   ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur sifat manifestasinya (Danandjaja, 1984:3-5). Mengenai ciri  keenam ini juga melekat pada dangdut terlebih-lebih  pada masa awal perkembangannya.

Karena  folklor  adalah  sebagian kebudayaan, maka kita harus memandangnya bahwa ia  merupakan produk budaya suatu masyarakat  tertentu. Tentu saja padanya juga berlaku bagaimana hakekat keberadaan kebudayaan dalam masyarakat. Karakter itu antara lain bahwa ia bersifat dinamis, relatif, adaptif dan sistemis. Oleh karena itu pendekatan holistik terhadap kebudayaan juga harus diberlakukan bagi pemahaman keberadaan folklor di tengah-tengah kolektif  pendukungnya. Sebagai konsekuensi logisnya maka jika kita bemaksud memahami folklor maka harus diperhatikan masalah konteks dari lore dimaksud. Inilah yang biasanya  disebut sebagai pendekatan folklor modern, yakni memperhatikan secara seimbang antara folk dan lore nya. Jadi harus memperhatikan siapa dan bagaimana  karakter folk sebagai pendukung dangdut di  satu sisi dan analisis musik dangdut itu sendiri.  Di samping itu juga harus diperhatikan  bahwa  setiap lore pasti melekat dan  didukung serta dimiliki oleh folk tertentu, dan hampir tidak mungkin antara folk dan lore saling bersilangan. Dalam hal ini artinya sebenarnya musik dangdut sebagai lore juga mempunyai pendukungnya sendiri (folk). Sementara itu juga harus diingat pula bahwa pada hakekatnya  setiap produk budaya yang muncul dan didukung oleh  suatu folk tertentu  adalah  relatif nilainya dan merupakan hasil maksimal ketika mereka menginterpretasikan dunianya. Oleh karena itu  sebenarnya keberadaan genre dangdut juga sejajar dengan genre-genre musik yang lain yang ada di dunia ini.

Hal-hal tersebutlah yang patut kita perhatikan ketika kita harus memandang,  menilai dan menyikapi produk-produk budaya suatu masyarakat yang dapat digolongkan sebagai bentuk-bentuk (genre) folklor.

Fungsi Dangdut bagi Pendukungnya

Dengan liriknya yang sederhana dan mudah dimengerti oleh masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan rendah, musik dangdut telah berhasil dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan yang bersifat mendidik dan meningkatkan kesadaran dan permasalahan-permasalahan yang perlu diketahui oleh anggota masyarakat tersebut. Lewat lagu-lagu dangdut, pesan tentang agama, keluarga berencana, lingkungan hidup, cinta tanah air, bahaya narkotika, judi dan sebagainya dapat dengan mudah mencapai sasaran.

Tema lagu Melayu asli sebagian besar hingga sekarang mengenai cinta. Bentuk syair lagu dangdut sangat berbeda dengan lagu Melayu, bahkan lebih mirip syair lagu jenis musik pop Indonesia lainnya. Temanya pun berkembang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat dewasa ini. Memang musik dangdut mula-mula hampir selalu hanya bertemakan cinta karena tema ini paling mudah mengena untuk semua  jenis musik dan selalu “welcome” bagi setiap penggemarnya serta selalu dapat menjadi hits. Sekarang, tak lepas dari fungsinya sebagai alat komunikasi untuk membawa misi-misi tertentu sejalan dengan keadaan masyarakat Indonesia waktu ini, tema dalam syair lagu dangdut sangat bermacam-macam. Misalnya mengenai lingkungan hidup, agama, narkotika, pembangunan dan generasi muda.

Dilihat dari fenomena yang sekarang muncul, maka patutlah  kita bertanya mengapa dangdut digemari oleh pendukungnya yang begitu melimpah ?

Itu artinya bahwa dangdut merupakan suatu jenis musik yang fungsional bagi masyarakat pendukungnya. Fungsi yang pertama dan utama adalah sebagai sarana hiburan untuk melepas lelah dan mengendurkan ketegangan dengan berjoget, didukung pula oleh lirik yang mengajak pendengarnya untuk bergembira.

Yang kedua, dangdut berfungsi sebagai sistem proyeksi atas angan-angan terpendam. Cobalah kita  simak kisah-kisah dalam lagu dangdut yang bercerita tentang penderitaan, duka lara akibat kemiskinan atau putus cinta.

Fungsi yang ketiga adalah sebagai sarana pendidikan atau  penyampai pesan. Di samping lagu-lagu yang menyampaikan duka lara, banyak pula lagu-lagu dangdut yang mengandung misi pendidikan, baik pendidikan yang bersifat rohani-dakwah maupun nasehat untuk berbuat kebaikan. Untuk fungsi ini tidaklah salah kalau kita sebut Rhoma Irama sebagai pelopornya. Sebagai sarana penyampai pesan atau pengumpul massa untuk kepentingan politik, dangdut sangat berperan di dalamnya. Lihatlah kampanye-kampanye menjelang Pemilu yang lalu yang menyelenggarakan panggung-panggung dangdut terbuka di tingkat propinsi hingga kelurahan.

Penutup

Dari apa yang telah diuraikan di atas, menunjukkan bahwa kehadiran musik dangdut dalam deretan jenis musik pop di Indonesia cukup meyakinkan  untuk mendapat tempat sejajar dengan jenis musik yang lain. Potensinya sebagai jenis musik yang dapat mengemban misi, kehadirannya sering diinginkan pada setiap kesempatan, pendukungnya melimpah dan dampak positifnya dapat dilihat dari aspek sosial ekonomi. Khususnya bagi mereka yang  secara langsung terkait dengan produk budaya ini.

Pengetengahan musik dangdut dalam tulisan ini kiranya dapat mengubah perhatian dan minat para pakar serta pengamat musik untuk meneliti lebih jauh sehingga dapat menempatkan musik dangdut yang ada pada taraf perkembangannya saat ini, sesuai dengan kenyataan yang ada.  Bahkan tidak menutup kemungkinan melalui tayangan Salam Dangdut MTV, ia lebih diperkenalkan kepada dunia internasional; walaupun masih terbatas pada kalangan kaum muda.

Dengan demikian penilaian yang menganggap musik dangdut adalah musik “kampungan” ataupun musik orang yang tidak terpelajar, lama kelamaan menjadi kabur. Musik dangdut saat ini telah mempunyai dukungan yang mapan dan dapat diartikan sebagai mass music atau musik yang digemari orang banyak yang berbeda dari musik rakyat atau folk music yang masih mengandung unsur-unsur tradisional.

Keadaan yang menunjukkan bahwa musik dangdut dapat diterima oleh orang banyak, bahkan sekarang ini oleh bagian terbesar penduduk Indonesia adalah suatu gejala dan kenyataan yang tidak mungkin kita ingkari. Dengan demikian semua langkah yang kita ambil untuk musik dangdut tentulah berdasarkan kenyataan yang ada, dimulai dari kenyataan dan kita semua dapat menerimanya sebagai kenyataan, sehingga dapat diharapkan tidak akan ada lagi rasa ragu, rasa rendah diri, rasa takut dinilai “kampungan” dan sebagainya dalam usaha untuk mencari  identitas musik dangdut.

Di samping penelitian, usaha peningkatannya pun perlu terus dilakukan. Rhoma Irama telah berhasil membuktikan kemampuan musik dangdut dalam meningatkan diri setaraf dengan jenis musik pop yang lain dengan merintis pencampuran pengaruh berbagai beat Barat, seperti rock dan jazz ke dalam ritme dangdut.

Yang terakhir, untuk menjawab mengapa musik dangdut digemari orang banyak adalah karena satu unsur yang senantiasa melekat padanya, yakni joget. Joget ini berbeda dengan gerak tari yang seringkali maknawi dan telah mengalami stilisasi. Dalam joget gerak-gerak yang dilahirkan lebih bebas (free expression); sehingga siapa saja yang suka bisa berjoget, tak perlu ada gerakan-gerakan istimewa. Yang diperlukan hanyalah telinga untuk mendengarkan irama. Oleh karena itu dalam suasana pertunjukan dangdut walaupun gerakannya berbeda-beda, tetapi semuanya merasakan suka-ria. Dalam suasana tersebutlah seseorang bisa mengaktualisasikan dirinya (self expression / self actualization). Keadaan semacam itu yang pada akhirnya dapat memberikan satu perasaan rileks (sense of relaxation), dan mendapatkan gairah hidup kembali untuk menghadapi hari esok.

Melalui gagasan-gagasan tersebut di atas saya berharap kita dapat mediskusikan keberadaan Salam Dangdut MTV atau juga dapat memahami musik dangdut di lingkungan kampus, misalnya.

REFERENSI

Danandjaja, James

1990      Folklor Indonesia : Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain. Jakarta : Grafitipers, hal. 1-5.

Hudijono, Anwar

1993    “Pilih Tembang Klasik atau Dangdut”, dalam Kompas, 3 Oktober 1993. Jakarta : PT. Kompas    Media Nusantara.

Ismangun, Soerjanto

1991    “Musik Pop Dangdut : Sebuah Kenyataan yang Patut Diperhatikan”, dalam Beberapa Catatan tentang Perkembangan Kesenian Kita (Soedarso SP, ed.). Yogyakarta : BP ISI Yogyakarta.

Kayam, Umar

1981    Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta : Penerbit Sinar Harapan.

Lohanda, Mona

1982    “Dangdut : Sebuah Pencarian Identitas”, dalam Seni dalam Masyarakat Indonesia : Bunga       Rampai (Edi Sedyawati dan Sapardi Djoko Damono, ed.). Jakarta : Gramedia.

Matra

1992    “Goyang Dangdut Wakil Gubernur” dalam Matra Juli. Jakarta : Yayasan Bapora, Halaman 137-               140.

Piper, Suzan dan Sawung Jabo

1987    “Musik Indonesia, dari 1950 an hingga 1980 an” dalam Prisma Mei. Jakarta : LP3ES.

Prisma

1977    Kebudayaan Pop : Komersialisasi Gaya Hidup (edisi Juni). Jakarta : LP3ES.

Raden, Franki

1997    “Pencarian Bahasa Musik Baru dalam Jazz” dalam Kompas 16 November 1997. Jakarta : PT.   Kompas Media Nusantara.

Sastrodihardjo, Gadis R. Sipin

1976    “Kesan-kesan Preliminer dari Kegunaan Terapi Menari-Joget- dalam Perawatan Penderita             dengan Gangguan Jiwa”. (Makalah yang dibacakan pada Kongres P.N.P. Nch Indonesia di          Jakarta pada tanggal 8-12 Nopember 1976).

Soemanto, Bakdi

1993    “Sekaten, Dangdut, Cekal” dalam Kompas 3 September 1993. Jakarta : PT. Kompas Media        Nusantara.

Mei 8, 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: