Tetoroto's Blog

Just another WordPress.com weblog

KESENIAN dalam KONTEKS KEBUDAYAAN

Tulisan ini bermaksud hendak memahami bagaimana hakekat kesenian dalam konteks kebudayaan suatu masyarakat. Pemahaman tentang hakekat kesenian dalam konteks kebudayaan tersebut mutlak diperlukan, agar peneliti dapat secara benar menyikapi kesenian yang kelak dijadikan obyek dalam penelitiannya. Untuk itu masalah-masalah yang akan dibahas adalah pengertian-pengertian mengenai: kebudayaan, kesenian dan hakekat kesenian dalam masyarakat.

Kebudayaan

Dalam pengertian sehari-hari seringkali kita mendengar orang berbicara tentang kebudayaan, tetapi sebenarnya yang mereka maksud dengan kebudayaan adalah kesenian. Ada sementara orang yang kagum atas tari-tarian tertentu, pakaian adat tertentu, arsitektur tradisional, seni pertunjukan; atau ada pula orang yang terpesona akan lukisan cat minyak, pembacaan sajak atau lagu-lagu daerah. Lalu serta-merta mereka menilai: “Sungguh hebat kebudayaan masyarakat itu.” Tentu saja penggunaan istilah kebudayaan di sana tidak salah, hanya perlu dilengkapi; karena kalau tidak kebudayaan hanya akan diartikan secara sempit dan sederhana saja. Lalu bagaimana agar konsep kebudayaan pengertiannya tidak sesempit itu.

Ada seorang antropolog yang pernah memodifikasi konsep kebudayaan yang berangkat dari pengertian-pengertian yang mendahuluinya. Ia lalu mendefinisikan konsep kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya diri manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia melalui proses belajar. Jadi hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaan, karena hanya amat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar, yaitu tindakan berdasarkan naluri, refleks atau kelakukan yang bersifat membabi-buta. Dengan demikian jelaslah bahwa apa yang dimaksud dengan kebudayaan itu jauh lebih luas dan kompleks daripada kesenian. Sedangkan kesenian itu sendiri hanyalah merupakan salah satu unsur kebudayaan. Unsur-unsur lainnya adalah bahasa, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian, sistem organisasi sosial, sistem peralatan dan teknologi serta sistem religi. Ketujuh unsur tersebut seringkali disebut sebagai isi kebudayaan yakni unsur yang universal karena hampir semua masyarakat yang ada di muka bumi ini mempunyai unsur-unsur tersebut; dari masyarakat yang amat sederhana hingga yang kompleks.

Mengenai batasan kebudayaan serupa itu, penjelasan bahwa kebudayaan adalah sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia, itu merupakan cara pandang kebudayaan secara lahiriah. Itu adalah wujud kebudayaan. Wujud pertama, yakni sistem ide yang isinya berupa gagasan, nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan, adat-istiadat, aturan tata-krama, pandangan hidup, kepercayaan-kepercayaan, wawasan dan lain-lain. Wujud pertama ini bersifat idiil sekaligus ideal, abstrak, tidak dapat diamati, tidak dapat dipegang dan bersifat kognitif; karena adanya dalam benak kepala manusia. Sedangkan wujud yang kedua merupakan kompleks perilaku, tindakan atau keseluruhan aktivitas manusia. Wujud yang ini dapat diamati dan dapat dilihat serta tertangkap oleh panca-indera manusia. Sementara wujud yang ketiga adalah hasil karya manusia. Wujud ini merupakan wujud yang paling kongkret, karena dapat dipegang dan kasat mata. Ia merupakan semua benda hasil ciptaan manusia seperti peniti, jarum, radio, jembatan, mobil, rumah, komputer, satelit, lukisan, cinderamata, patung dan sebagainya.

Kerangka Kebudayaan

Apabila kedua dimensi analisis dari konsep kebudayaan teruarai di atas (isi dan wujud kebudayaan) dikombinasikan ke dalam satu bagan, maka akan terbentuk suatu kerangka kebudayaan. Kerangka kebudayaan itu dapat dipakai sebagai pangkal analisis dari segala macam gejala kebudayaan yang mungkin dapat terjadi dalam kehidupan masyarakat. Karena kebudayaan yang hidup itu bersifat dinamis, selalu berubah setiap saat, maka penggunaan bagan lingkaran dianggap lebih cocok untuk menggambarkan dinamika itu daripada bagan yang berpangkal pada suatu matriks.

Analisis dimensi pertama dari kebudayaan ke dalam tiga wujud, yaitu sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik, digambarkan sebagai tiga lingkaran konsentris. Dalam hal itu sistem budayanya digambarkan sebagai lingkaran yang paling dalam dan inti. Adapun lingkaran yang kedua di sekitar inti menggambarkan sistem sosial, sedangkan kebudayaan fisik digambarkan sebagai lingkaran yang paling luar dan paling tampak.

Analisis dimensi kedua dari kebudayaan ke dalam tujuh unsur universal digambarkan pada bagan lingkaran dengan membaginya menjadi tujuh sektor, yang masing-masing menggambarkan salah satu dari ketujuh unsur tersebut. Maka dengan demikian akan terlihat bahwa tiap unsur kebudayaan itu memang dapat mempunyai tiga wujud yaitu wujud sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik.

Tiap unsur kebudayaan universal itu lebih jauh dapat dirinci beberapa kali lagi ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil. Kerangka mengenai ketujuh unsur kebudayaan universal itu yang biasanya juga dipakai oleh para penulis etnografi ketika bermaksud hendak melukiskan kebudayaan suatu masyarakat.

Kalau kebudayaan memiliki tiga wujud, sedangkan kebudayaan itu juga mempunyai tujuh unsur yang universal, maka sebagai konsekuensi logisnya adalah bahwa masing-masing unsur tersebut juga memiliki tiga wujud kebudayaan.

Di antara ketiga wujud kebudayaan tersebut agaknya wujud pertama menduduki tempat yang paling istimewa. Karena, ia yang berupa cita-cita, nilai-nilai, makna, norma-norma, pandangan, wawasan, kepercayaan, sikap-sikap dan sebagainya itu; yang mendorong, mengarahkan, mengatur serta mengendalikan kelakuan (seperangkat aktivitas) dan hasil kelakuan (seperangkat hasil karya, yang biasanya berupa benda) dari masyarakat pendukungnya. Oleh karenanya wujud kebudayaan yang abstrak yakni sistem budaya ini seringkali disebut sebagai tata kelakuan.

Kesenian

Dalam hal ini kesenian dipandang sebagai salah sebuah unsur kebudayaan. Secara umum orang sering menyatakan bahwa kesenian adalah ekspresi jiwa manusia akan keindahan. Sebenarnya tidak semua karya seni dapat dikatakan demikian, karena ada karya seni yang lebih mengutamakan pesan budaya yang mengandung nilai budaya dari masyarakat yang bersangkutan. Hal ini berarti masyarakat yang bersangkutan bermaksud menjawab atau menginterpretasikan permasalahan kehidupan sosialnya, mendambakan kemakmuran, kebahagiaan dan rasa aman, serta rasa kecewa dan sedih, dalam bentuk karya seni. Dengan demikian karya seni itu sarat dengan berbagai makna yang tersirat di belakang obyek tadi; yang acapkali bersifat simbolis.

Sehubungan dengan hal itu, memang ada beberapa fungsi kesenian bagi masyarakat pendukungnya, antara lain sebagai: media pendidikan, media pelampiasan angan-angan terpendam, alat protes sosial dan hiburan.

Kesenian sebagai hasil ekspresi keindahan yang mengandung pesan budaya tersebut terwujud dalam bermacam-macam bentuk seperti seni tari, seni musik, seni karawitan, seni pedalangan, seni teater, seni sastra, film dan seni rupa.

Hakekat Kesenian dalam Masyarakat

Secara universal kebudayaan suatu masyarakat manusia terdiri dari tujuh unsur. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut satu sama lain saling berkaitan, saling mempengaruhi dan merupakan satu kesatuan yang utuh; sehingga ketujuh unsur tersebut saling berhubungan dan membentuk sebuah sistem. Dengan demikian unsur kebudayaan kesenian merupakan salah sebuah komponen pembentuk kebudayaan suatu masyarakat. Unsur kebudayaan ini tentu saja berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan yang lain seperti bahasa, sistem pengetahuan, sistem religi dan sebagainya. Karena keberadaan kesenian sangat terkait erat dengan aspek-aspek kehidupan yang lain maka sebagai konsekuensi logisnya jika seseorang hendak mempelajari kesenan, ia juga harus mempelajari aspek-aspek kehidupan yang lain, termasuk juga cabang-cabang kesenian lain yang dimiliki oleh masyarakat yang bersangkutan. Itulah pengertian dan penerapan pendekatan holistik pada penelitian kesenian.

Pengertian pendekatan holistik juga dipakai untuk memandang sebuah cabang seni itu sendiri, misalnya seni tari. Artinya, karena yang dimaksud dengan tari bukan sekedar kumpulan gerak indah saja, tetapi mencakup unsur tari lainnya, maka sejumlah unsur tari itu juga merupakan satu kesatuan yang utuh bahkan mempunyai hubungan satu sama lain yang serasi dan harmonis sehingga sarat dengan nilai-nilai keindahan. Unsur-unsur tari tersebut meliputi seperangkat busana tari, ragam hias pada busana tari, tata rias tari, properti dan aksesori yang dipakai, musik dan alat yang dipakai untuk mengiringi, tata dan teknik pentas, makna yang melatar-belakangi keseluruhan tari dan yang paling pokok adalah serangkaian gerak baik yang mengandung makna maupun gerak-gerak kembangan (stilisasi). Itu semua harus dipandang secara holistik dan sistemis.

Untuk memberikan  contoh

Penutup

Kesenian dalam masyarakat selain bersifat sistemis, juga bersifat relatif. Artinya, tumbuh-kembangnya kesenian amatlah tergantung dari matra waktu dan ruang di mana masyarakat yang bersangkutan melangsungkan kehidupannya. Oleh karena itu seorang peneliti kesenian seyogyanya tidak bersifat etnosentris dan mengurangi sikap subyektif. Selain itu kesenian selalu dipandang sebagai milik suatu kolektif tertentu dan bukan milik individu tertentu. Akhirnya dapat ditambahkan bahwa kesenian dalam masyarakat itu bersifat dinamis, artinya ia senantiasa mengikuti detak jarum jam.

Mei 8, 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: