Tetoroto's Blog

Just another WordPress.com weblog

PEDOMAN PENELITIAN PERMAINAN RAKYAT di INDONESIA

Sub Direktorat Pranata Sosial dan Folklor bermaksud melakukan penelitian tentang Permainan Rakyat di sejumlah daerah di Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan sebagai panduan bagi maksud tersebut. Dalam hal ini Permainan Rakyat hendak dilihat sebagai salah sebuah bentuk (genre) folklor yakni Folklor Sebagian Lisan. Tentu saja Permainan Rakyat yang dimaksud dipandang dalam konteks kebudayaan dan masyarakat pendukungnya.

Oleh karena itu pertama-tama ada baiknya jika dibatasi terlebih dahulu sejumlah konsep yang bertalian dalam penelitian tersebut. Pengertian-pengertian tersebut antara lain mengenai: kebudayaan, folklor dan permainan rakyat. Setelah itu akan dipaparkan pula hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam membuat naskah folklor bagi kepentingan pengarsipan dan dokumentasi permainan rakyat.

Pengertian Kebudayaan

Dalam perbincangan sehari-hari seringkali kita mendengar orang berbicara tentang kebudayaan, tetapi sebenarnya yang mereka maksud dengan kebudayaan adalah kesenian. Ada sementara orang yang kagum atas tari-tarian tertentu, pakaian adat tertentu, arsitektur tradisional, seni pertunjukan; atau ada pula orang yang terpesona akan lukisan cat minyak, pembacaan sajak atau lagu-lagu daerah. Lalu serta-merta mereka menilai: “Sungguh hebat kebudayaan masyarakat itu.” Tentu saja penggunaan istilah kebudayaan di sana tidak salah, hanya perlu dilengkapi; karena kalau tidak kebudayaan hanya akan diartikan secara sempit dan sederhana saja. Lalu bagaimana agar konsep kebudayaan pengertiannya tidak sesempit itu.

Ada seorang antropolog yang pernah memodifikasi konsep kebudayaan yang berangkat dari pengertian-pengertian yang mendahuluinya. Ia lalu mendefinisikan konsep

kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya diri manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia melalui proses belajar. Jadi hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaan, karena hanya amat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar, yaitu tindakan berdasarkan naluri, refleks atau kelakukan yang bersifat membabi-buta. Dengan demikian jelaslah bahwa apa yang dimaksud dengan kebudayaan itu jauh lebih luas dan kompleks daripada kesenian. Sedangkan kesenian itu sendiri hanyalah merupakan salah satu unsur kebudayaan. Unsur-unsur lainnya adalah bahasa, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian, sistem organisasi sosial, sistem peralatan dan teknologi serta sistem religi. Ketujuh unsur tersebut seringkali disebut sebagai isi kebudayaan yakni unsur yang universal karena hampir semua masyarakat yang ada di muka bumi ini mempunyai unsur-unsur tersebut; dari masyarakat yang amat sederhana hingga yang kompleks.

Mengenai batasan kebudayaan serupa itu, penjelasan bahwa kebudayaan adalah sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia, itu merupakan cara pandang kebudayaan secara lahiriah. Itu adalah wujud kebudayaan. Pertama, yakni sistem ide yang isinya berupa gagasan, nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan, adat-istiadat, aturan tata-krama, pandangan hidup, kepercayaan-kepercayaan, wawasan dan lain-lain. Wujud pertama ini bersifat idiil sekaligus ideal, abstrak, tidak dapat diamati, tidak dapat dipegang dan bersifat kognitif; karena adanya dalam benak kepala manusia. Sedangkan wujud yang kedua merupakan kompleks perilaku, tindakan atau keseluruhan aktivitas

manusia. Wujud yang ini dapat diamati dan dapat dilihat serta tertangkap oleh panca-indera manusia. Sementara wujud yang ketiga adalah hasil karya manusia. Wujud ini merupakan wujud yang paling kongkret, karena dapat dipegang dan kasat mata. Ia merupakan semua benda hasil ciptaan manusia seperti peniti, jarum, radio, jembatan, mobil, rumah, komputer, satelit, lukisan, cinderamata, patung dan sebagainya.

Apabila kedua dimensi analisis dari konsep kebudayaan teruarai di atas (isi dan wujud kebudayaan) dikombinasikan ke dalam satu bagan, maka akan terbentuk suatu kerangka kebudayaan. Kerangka kebudayaan itu dapat dipakai sebagai pangkal analisis dari segala macam gejala kebudayaan yang mungkin dapat terjadi dalam kehidupan masyarakat. Karena kebudayaan yang hidup itu bersifat dinamis, selalu berubah setiap saat, maka penggunaan bagan lingkaran dianggap lebih cocok untuk menggambarkan dinamika itu daripada bagan yang berpangkal pada suatu matriks.

Analisis dimensi pertama dari kebudayaan ke dalam tiga wujud, yaitu sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik, digambarkan sebagai tiga lingkaran konsentris. Dalam hal itu sistem budayanya digambarkan sebagai lingkaran yang paling dalam dan inti. Adapun lingkaran yang kedua di sekitar inti menggambarkan sistem sosial, sedangkan kebudayaan fisik digambarkan sebagai lingkaran yang paling luar dan paling tampak.

Analisis dimensi kedua dari kebudayaan ke dalam tujuh unsur universal digambarkan pada bagan lingkaran dengan membaginya menjadi tujuh sektor, yang masing-masing menggambarkan salah satu dari ketujuh unsur tersebut. Maka dengan demikian akan terlihat bahwa tiap unsur kebudayaan itu memang dapat mempunyai tiga wujud yaitu wujud sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik.

Tiap unsur kebudayaan universal itu lebih jauh dapat dirinci beberapa kali lagi ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil. Kerangka mengenai ketujuh unsur kebudayaan universal itu yang biasanya juga dipakai oleh para penulis etnografi ketika bermaksud hendak melukiskan kebudayaan suatu masyarakat.

Kalau kebudayaan memiliki tiga wujud, sedangkan kebudayaan itu juga mempunyai tujuh unsur yang universal, maka sebagai konsekuensi logisnya adalah bahwa masing-masing unsur tersebut juga memiliki tiga wujud kebudayaan.

Di antara ketiga wujud kebudayaan tersebut agaknya wujud pertama menduduki tempat yang paling istimewa. Karena, ia yang berupa cita-cita, nilai-nilai, makna, norma-norma, pandangan, wawasan, kepercayaan, sikap-sikap dan sebagainya itu; yang mendorong, mengarahkan, mengatur serta mengendalikan kelakuan (seperangkat aktivitas) dan hasil kelakuan (seperangkat hasil karya, yang biasanya berupa benda) dari masyarakat pendukungnya. Oleh karenanya wujud kebudayaan yang abstrak yakni sistem budaya ini seringkali disebut sebagai tata kelakuan.

Pengertian Folklor

Dalam perbincangan sehari-hari istilah folklor dimengerti sebagai cerita rakyat atau lelucon saja. Adapula yang memakai istilah itu sebagai kata sifat, folklorik yang artinya bersifat kedaerahan atau kerakyatan. Bahkan oleh kalangan tertentu folklor disamaartikan dengan istilah tradisi lisan. Sebenarnya pengertian-pengertian itu tidak sepenuhnya salah. Katakan saja pengertian itu sempit. Dalam  hal ini pengertian folklor adalah sebagian dari kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional, dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan, maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device) (Danandjaja, 1984:2). Jadi secara kongkret folklor Indonesia adalah sebagian dari kebudayaan suku-suku bangsa yang berada di Nusantara, seperti orang-orang Jawa, Sunda, Bali, Aceh, Dayak Ngaju, Manado, Bugis, Makasar, Asmat dan lain-lain. Bahkan bukan saja terbatas dari folklor orang yang tergolong “pribumi” saja, tetapi juga orang Indonesia keturunan Cina, Arab, India dan Belanda, asalkan kebudayaannya telah lama diadaptasikan di Indonesia.

Adapun ciri-ciri folklor tersebut adalah : pertama, penyebaran dan pewarisannya biasanya secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut terkadang dengan gerak isyarat; dari generasi satu ke generasi berikutnya, jadi bukan melalui cetakan, rekaman atau media elektronik lainnya. Proses pewarisan ini berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, ia bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau bentuk baku. Ketiga, ia ada dalam bentuk versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini karena cara penyebarannya yang secara lisan tadi, sehingga oleh proses lupa diri manusia folklor dapat dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian seringkali perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.

Keempat, ia bersifat anonim, yakni nama penciptanya sudah tidak dikenal lagi, sehingga menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Dalam hal ini setiap anggota kolektif yang bersangkutan boleh merasa memilikinya. Kelima, ia berfungsi bagi pendukungnya, misalnya untuk  membela diri, atribut untuk menunjukkan identitas, sebagai hiburan, sebagai alat pendidikan dan lain sebagainya.

Keenam, ia bersifat pralogis, dalam arti mempunyai sistem logika sendiri, yang tidak sesuai dengan logika Aristotelian. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan. Ketujuh, pada umumnya folklor bersifat polos, spontan dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, bahkan porno, atau bersifat sara. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur sifat manifestasinya (Danandjaja, 1984:3-5).

Unsur-unsur kebudayaan yang mempunyai ciri-ciri khas itu, dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar yakni  folklor lisan, folklor sebagian lisan dan folklor bukan lisan. Kelompok yang terakhir dapat dibagi menjadi dua sub kelompok lagi  yakni  yang material dan yang non material (Danandjaja, 1984:21).

Yang tergolong kelompok folklor lisan dapat dibagi menjadi beberapa bentuk (genre) seperti : (a) ujaran rakyat, (a.l.: logat, julukan, pangkat tradisional, dan titel kebangsawanan); (b) ungkapan tradisional (a..l.: peribahasa, pepatah dan  pemeo); (c) pertanyaan tradisional (a.l.: teka-teki); (d) puisi rakyat, seperti pantun, gurindam, dan syair; (e) cerita prosa rakyat (mite, legenda, dan dongeng); dan (f) nyanyian rakyat (balada dan epos) (Danandjaja, 1984:21-22).

Kelompok folklor sebagian lisan adalah permainan rakyat, teater rakyat, makanan dan minuman rakyat, tari rakyat, adat istiadat, upacara, pesta rakyat  dan kepercayaan rakyat. Yang tergolong folklor bukan lisan sub kelompok material a.l.: adalah arsitektur rakyat, seni kriya rakyat (kerajinan tangan); pakaian dan perhiasan tubuh rakyat. Dan yang tergolong non material a.l.: adalah gerak  isyarat tradisional (gesture), bunyi-bunyian rakyat untuk komunikasi seperti beduk pada orang Afrika, kentongan bagi orang Jawa, atau gong bagi orang Dayak.

Karena folklor adalah sebagian kebudayaan, maka kita harus memandangnya bahwa ia merupakan produk budaya suatu masyarakat tertentu. Tentu saja padanya juga berlaku bagaimana hakekat keberadaan kebudayaan dalam masyarakat. Karakter itu antara lain bahwa ia bersifat dinamis, relatif,  adaptif,  sistemis, fungsional dan rasional. Oleh karena itu pendekatan holistik terhadap kebudayaan juga harus diberlakukan bagi pemahaman keberadaan folklor di tengah-tengah kolektif pendukungnya. Sebagai konsekuensi logisnya maka jika kita bermaksud mengumpulkan folklor dan hendak didokumentasikan secara tertulis harus diperhatikan masalah konteks dari lore dimaksud; selain teks bentuk folklor yang dikumpulkan dan pendapat serta penilaian informan maupun pengumpul. Inilah yang biasanya disebut sebagai pendekatan folklor modern, yakni memperhatikan secara seimbang antara folk dan lore nya. Hal ini amat perlu bagi kepentingan analisis dan interpretasi folklor baik dengan pendekatan etik maupun emik.

Hal-hal tersebutlah yang patut kita perhatikan ketika kita harus memandang, menilai, dan menyikapi produk-produk budaya suatu masyarakat yang dapat  digolongkan sebagai bentuk-bentuk (genre) folklor; baik lisan, sebagian lisan maupun bukan lisan.

Pengertian Permainan Rakyat

Permainan rakyat sebagai bagian dari kebudayaan manusia pada masa lalu, merupakan salah satu unsur kebudayaan daerah yang keberadaannya perlu dikembangkan dan dibina untuk menunjang pengembangan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional. Karena permainan rakyat mempunyai peranan penting dalam masyarakat yang berfungsi sebagai sarana sosialisasi nilai-nilai luhur, seperti: menanamkan rasa disiplin, membina sikap dan sebagainya.

Pada awalnya permainan rakyat merupakan usaha manusia untuk mengisi waktu senggang dan sebagai sarana hiburan. Selain itu, permainan rakyat juga merupakan suatu perwujudan dari tingkah laku manusia yang dilakukan dalam kegiatan fisik dan mental, dan merupakan hasil budaya manusia yang terwujud dari serentetan nilai-nilai yang menurut masyarakat atau kelompok suku-bangsa pendukungnya diakui keberadaannya. Nilai-nilai ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembinaan dan pengembangan nilai- nilai budaya bangsa.

Sehubungan dengan hal tersebut, seperti yang tercantum dalam UUD 1945, pasal 32 disebutkan bahwa “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia”. Dalam hal ini pemerintah melalui Sub Direktorat Tradisi dan Kepercayaan Direktorat Nilai Budaya menyusun pedoman penulisan dan pengkajian permainan rakyat daerah. Hal ini, karena permainan rakyat yang terdapat di daerah-daerah yang ada di wilayah Indonesia mempunyai berbagai macam bentuk serta beragam pula cara memainkannya. Selain itu juga mempunyai berbagai macam nama yang diberikan pada bentuk-bentuk permainan, kadangkala macam permainan sama, namun nama yang diberikan di daerah yang satu dengan di daerah yang lain berbeda namanya. Selanjutnya, keanekaragaman bentuk dan wujud permainan tersebut sejajar dengan kelompok umur para pemainnya dan sesuai dengan perkembangan jasmani yang bersangkutan, serta dapat pula dikelompokkan jenis kelamin para pemainnya.

Permainan rakyat di daerah ialah suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia pendukungnya guna kepentingan pembinaan jasmani dan sikap mental yang bersangkutan. Kegiatan jasmaniah itu dapat dilakukan secara perorangan ataupun bersama dan melibatkan lebih dari seorang sekaligus, baik dimaksudkan untuk sekedar mengisi waktu luang dan memecahkan rasa kelelahan hidup sehari-hari, ataupun dimaksudkan untuk membina keterampilan dan sikap dalam pergaulan sosial yang lebih luas. Oleh karena itu kegiatan jasmani dapat dibedakan antara permainan yang sifatnya menghibur, sebagai selingan hidup maupun sebagai kegiatan yang sifatnya bertanding (competitive) dengan segala ketentuannya. Baik permainan yang sifatnya pengisi waktu luang maupun permainan yang dipertandingkan, dalam kenyataan tidak mudah dibedakan, apalagi jika melihat jumlah orang yang terlibat, mengingat peranannya dalam pembinaan anggota masyarakat (sosialisasi).

Adapun bentuk dan wujud permainan yang berpangkal tolak sebagai kegiatan jasmani yang diperlukan oleh setiap kehidupan, khususnya makhluk manusia dalam usahanya membina keseimbangan jasmani, dengan menyalurkan energi yang berlebihan, dengan selingan yang dapat dinikmati itu merupakan gejala universal yang dapat dijumpai dalam setiap masyarakat manusia. Adapun permainan rakyat di daerah dalam rangka penulisan ini, ialah segala kegiatan jasmani yang dilakukan secara tertib dan berpola oleh para pendukungnya.

Pada hakekatnya, permainan rakyat daerah dapat berwujud permainan olah raga, yaitu permainan yang menuntut keterampilan jasmani; permainan kecerdasan (games of strategy) yang menuntut kepandaian pemain untuk memilih cara atau siasat yang tepat guna mencapai sasaran; permainan bimbingan (games of chances) yang sifatnya memberikan bimbingan kepada anggota masyarakat untuk melakukan peranan; dan permainan sosial (social games) yang lebih banyak mementingkan hiburan dan memperluas pergaulan dalam masyarakat yang bersangkutan.

Signifikansi Penelitian

Kegiatan penulisan dan pengkajian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan rakyat ini dilaksanakan oleh pamong budaya di daerah. Kelompok sasaran yang menjadi obyek kegiatan ini antara lain:

  1. permainan rakyat tradisional yang dimiliki oleh setiap suku-bangsa di daerah minimal sebanyak 5 (lima) buah.
  2. Permainan rakyat yang menjadi bahan kajian adalah permainan rakyat yang mengandung unsur pengembangan fisik maupun non fisik yang memakai alat maupun yang tidak memakai alat dan dilakukan baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.
  3. Permainan yang mengandung nilai-nilai luhur yang dapat mendukung pengembangan kebudayaan bangsa, misalnya nilai persatuan, kemandirian dan kebersamaan.
  4. Daerah kajiannya meliputi D.I. Aceh, Riau, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan penulisan dan pengkajian nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan rakyat ini bertujuan:

  1. Untuk memperoleh bahan informasi budaya tentang permainan rakyat
  2. Mengkaji nikai-nilai budaya bangsa yuang terkandung dalam permainan rakyat daerah untuk bahan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.

Deskripsi Permainan Rakyat

Dalam penulisan ditetapkan, bahwa permainan rakyat yang harus dikumpulkan minimal berjumlah 5 (lima) buah permainan terdiri dari permainan anak-anak, orang dewasa dan orang-orang tua.

Pelakunya biasanya laki-laki, perempuan ataupun campuran. Jenis permainan yang dipilih yang berciri khas daerah, dengan aturan permainan yang agak kompleks dan dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lama serta dapat mengasyikan bagi pemain maupun penonton. Yang jelas, permainan yang bersifat kompetitif, rekreatif dan edukatif. Dapat pula permainan yang diselenggarakan pada peristiwa sosial tertentu. Untuk penulisan, setiap permainan yang dicatat harus meliputi:

  1. a. Nama Permainan

Nama ini didasarkan pada penyebutan masyarakat setempat di mana permainan itu diambil. Bila ada nama lain yang mungkin asalnya dari penamaan orang luar, sebaiknya dicatat untuk bahan perbandingan dalam usaha mengusut sejarah perkembangannya serta penyebarannya.

Nama permainan dalam bahasa Daerah perlu dicarikan padanan bahasa Indonesianya dengan uraian secara etimologis (asal terbentuknya kata atau istilah) dan disertai makna atau pengertian yang terkandung dalam kata atau istilah tersebut. Dengan demikian dapat sedikit terungkap latar belakang sosial budaya permainan.

  1. b. Hubungan permainan dengan peristiwa lain

Permainan itu biasanya dilakukan pada peristiwa apa. Apakah penyelenggaraannya bisa tersendiri atau tidak terpisahkan dari peristiwa sosial tertentu lainnya. Adakah unsur-unsur kepercayaan religio-magis yang terkandung dalam penyelenggaraan permainan.

  1. c. Latar belakang sosial budaya penyelenggaraan permainan

Perlu dikemukakan apakah permainan itu hanya dilakukan secara terbatas dalam lingkungan sosial tertentu, dan erat berhubungan dengan peristiwa tradisional dalam lingkungan. Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan bahwa pada masa pemerintahan feodal ada jenis-jenis permainan yang hanya dilakukan dalam lingkungan istan. Ada pula jenis permainan yang dianggap sakral sehingga untuk penyelenggaraannya diperlukan persyaratan tertentu yang tidak boleh diabaikan begitu saja.

  1. d. Latar belakang sejarah perkembangan permainan

Diharapkan ada uraian tentang perkembangan permainan berdasarkan informasi dari orang-orang tua yang pernah mengalaminya ketika masih kanak-kanak.

  1. e. Peserta/Pelaku

Diutarakan mengenai peserta atau pemain-pemainnya secara lengkap, yang meliputi jumlah pemain, usia, jenis kelamin serta latar belakang sosial para pemainnya. Dikemukakan pula, apakah ada permainan tertentu yang khusus dilakukan oleh laki-laki atau perempuan saja, dan mengapa ada pembatasan atau ketentuan pemain menurut jenis kelamin.

Selain itu, kemukakan juga apakah para pelaku permainan itu terbatas dari kelompok sosial tertentu, misal hanya khusus anak-anak bangsawan saja atau hanya biasa dilakukan oleh anak-anak gembala di desa-desa sebagai pengisi waktu selama menggembalakan ternaknya dan sebagainya.

  1. f. Peralatan/perlengkapan permainan

Alat-alat yang dipergunakan dalam permainan, khususnya yang berciri khas daerah perlu dideskripsikan secara jelas dan terurai. Bila nama-nama alat itu memakai bahasa daerah perlu dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia, jika ada atau agak mendekati pengertian aslinya agar dapat menambah kejelasan informasi. Bentuk ukuran dan bahan yang digunakan serta cara menggunakan alat-alat tersebut perlu dikemukakan. Hal ini perlu diwujudkan dalam gambar atau foto sebagai ilustrasi.

  1. g. Iringan permainan

Adakalanya permainan disertai iringan dengan bunyi-bunyian, berupa musik atau gamelan. Ada pula lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para pemain selama permainan berlangsung. Semua unsur dikemukakan dengan cukup terurai lengkap dengan notasinya untuk mendukung kejelasan deskripsi permainan.

  1. h. Jalannya permainan

Dalam penguraian jalannya permainan, terlebih dahulu diuraikan persiapan-persiapan sebelumnya yang merupakan prasarana bagi penyelenggaraan permainan. Aturan-aturan permainan diuraikan dengan jelas. Jika permainan terdiri dari beberapa tahap, maka tiap-tiap tahap harus dijelaskan dan dikemukakan apa ciri-ciri tiap tahap itu. Uraikan pula konsekuensi bagi peserta yang kalah dan yang menang.

Dalam arena permaian ukurannya yang jelas perlu dicantumkan. Lebih baik lagi jika deskripsi permaian dilengkapi dengan ilustrasi ketika permainan berlangsung yang dapat memperjelas gambaran permainan.

KEPUSTAKAAN

Budiaman

1980        Folklor Betawi. Jakarta : Pustaka Jaya

Danandjaja, James

1978    Penuntun Cara Pengumpulan Folklore bagi Pengarsipan. Jakarta : Jurusan Antropologi Fakultas Sastra  Universitas Indonesia.

1984        Folklor Indonesia : Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain. Jakarta : Grafitipers

Koentjaraningrat

1998        Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Mei 9, 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: