Tetoroto's Blog

Just another WordPress.com weblog

Perencanaan Pembangunan Seni Budaya di Propinsi DKI Jakarta


  1. Program Pembangunan Kebudayaan Bidang Bahasa

2.1.  Seni Tutur Betawi

Berdasarkan jenis cerita, cara membawakan serta kelompok pendukungnya, teater tutur Betawi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: buleng atau dongeng, sahibul hikayat, dan rancag. Jenis kesenian ini pernah diangkat ke permukaan melalui acara sarasehan Pelestarian Teater Tutur dan Sastra Tradisional Betawi yang diselenggarakan pada tanggal 20-24 Maret 1994 di Gedung Kesenian Jakarta dalam kaitan dengan Pekan Kesenian Betawi VII. Acara tersebut diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Jakarta bekerjasama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB).

Kesimpulan dari peragaan ketiga jenis teater tutur itu adalah bahwa teater ini tidak hanya bertutur seperti cerita dongeng, melainkan terselip pesan, sindiran dan nasehat. Kadang-kadang alur cerita yang disampaikan sedikit menyimpang, tetapi tetap membawa pesan, sindiran, dan nasehat serta diselingi dengan lelucon.

2.1.1.      Buleng atau Dongeng

Di beberapa tempat di pinggiran Kota Jakarta dan sekitarnya, seperti di daerah Ciracas, Cijantung, Kalimalang, Curug dekat Depok, dan sebagainya, terdapat orang yang pandai bercerita. Julukan yang diberikan kepadanya adalah “tukang dongeng” atau buleng. Kata buleng yang sebenarnya juga berarti cerita atau dongeng. Kata ngebuleng berarti bercerita, dan kata buleng, selain sebagai nama seni cerita lisan, juga berarti tukang cerita. Di kalangan masyarakat Betawi, buleng dibedakan antara dongeng dan cerita. Dongeng dipergunakan untuk menyebut cerita-cerita kerajaan, yaitu cerita para raja atau bangsawan, dan babad. Sedangkan cerita, kadang-kadang disebut cerita roman, dipergunakan untuk menyebut cerita-cerita dari kehidupan rakyat, yakni kisah kehidupan sehari-hari baik di masa lampau maupun masa kini.

Buleng atau ngebuleng (dongeng) adalah sejenis cerita lisan yang dibawakan dalam bentuk prosa atau prosa liris. Jenis cerita yang dibawakan termasuk yang disebut dongeng (seperti Ciung Wanara), yaitu dongeng-dongeng yang bersumber pada dongeng Sunda (Cagak Karancang, Raden Gondang, dan Dalem Bandung). Cerita yang biasa dibawakan berbeda dengan cerita yang dibawakan oleh juru Sahibul Hikayat. Dalam bercerita mereka tidak pernah memulai ceritanya dengan kata “Sahibul hikayat”. Cerita yang disajikan biasanya mirip dengan cerita pantun Sunda, seperti cerita “Sumur Bandung”, “Ciungwanara”, “Mundinglaya”, dan sebagainya, namun dengan versi yang berbeda sebagaimana umumnya folklor lisan. Biasa pula dibawakan cerita-cerita yang sering dipentaskan oleh rombongan Blantek atau Topeng, seperti cerita “Mandor Alias”, “Si Ombak”, “Amat Tompel”, dan sebagainya. Cerita dibawakan tanpa iringan musik, tidak seperti pantun Sunda yang biasanya diiringi kecapi, tarawangsa dan suling. Sesuai dengan isi cerita, biasanya bahasa yang dipergunakan oleh buleng adalah bahasa Melayu Tinggi bercampur dengan bahasa Sunda.

Buleng atau Tukang Dongeng biasa memperoleh panggilan dari orang yang mempunyai hajatan untuk ikut memeriahkan “malam ngangkat“, yaitu malam sebelum pesta sesungguhnya dilangsungkan. Pada “malam ngangkat” itu telah berkumpul sanak keluarga yang empunya hajat, dari dekat dan dari jauh, untuk ikut membantu persiapan dan pelaksanaan hajatan. Pria dan wanita bekerja menurut kemampuan dan tugas masing-masing. Ada yang menyiapkan pelampang, yaitu bangunan sementara untuk menerima tamu, ada yang menyiapkan panggung untuk tontonan. Demikian pula ada yang menyiapkan penganan di tempat yang khusus disediakan untuk keperluan itu. Sebagian, yang tugasnya sudah selesai, sebagian sambil terus bekerja menyelesaikan tugasnya, dihibur dengan mendengarkan “tukang dongeng” membawakan cerita yang menarik, lebih-lebih diselipi dengan lelucon.

Pada umumnya Tukang Dongeng tidak mendapat imbalan uang. Mereka cukup disediakan makanan dan minuman, serta ketika pulang dibekali sekedarnya untuk oleh-oleh bagi keluarganya di rumah. Saat ini Tukang Dongeng di Jakarta dan sekitarnya telah berusia lanjut, dengan kondisi fisik yang menurun seperti kurangnya pendengaran, kurang penglihatan, dan bicaranya sudah tidak jelas. Popularitas Tukang Dongeng itu telah lama memudar, terutama akhir-akhir ini makin terdesak oleh kemajuan hiburan-hiburan elektronis.

2.1.2.      Sahibul Hikayat

Sahibul Hikayat adalah kata Arab yang berarti ‘yang empunya cerita’. Kata itu nama sejenis sastra lisan yang dibawakan oleh tukang cerita (pencerita) atau Juru Cerita atau Juru Hikayat.

Pada waktu khitanan, perkawinan, pindah rumah dan malam menjelang keberangkatan naik haji, atau pada hari-hari raya Islam, masyarakat Betawi seringkali mengundang sang Tukang Cerita. Pementasan kesenian ini di kampung-kampung biasanya berlangsung semalam suntuk, akan tetapi radio-radio amatir yang menyiarkan Sahibul Hikayat dengan sponsor dari para pengusaha menjadikannya sebagai cerita bersambung.

Cerita diawali dengan pembacaan pujian dan doa yang diucapkannya dalam bahasa Arab, lengkap dengan terjemahannya. Kemudian pencerita mengemukakan bahwa cerita yang akan dibawakannya itu adalah rekaan semata. Bila ada kejadian atau penyebutan nama yang kebetulan sama dengan nama salah seorang penonton, hal itu semata-mata kebetulan belaka.

Dalam permulaan cerita atau dalam adegan-adegan cerita baru, seringkali kita mendengar kata-kata bahasa Melayu klasik, seperti kata sahibul- hikayat, kata yang empunya cerita atau syahdan. Cerita yang dibawakan disampaikan dalam bentuk prosa bahkan dengan beberapa bait pantun di sana-sini. Dalam cerita tidak ada adegan khusus atau tokoh jenaka tertentu, seperti dalam wayang, topeng atau lenong. Namun hampir setiap kesempatan ada bagian dialog atau karakterisasi pelaku yang menggelikan.

Cerita yang dibawakan oleh Sahibul Hikayat yaitu cerita-cerita yang berasal dari Persia, seperti “Seribu Satu Malam” dan “Nurul Laila”. Daerah penyebaran seni Ssahibul Hikayat ini terutama di wilayah Jakarta Pusat (Salemba, Tanah Abang, Kebon Sirih, dan Kemayoran).

Juru Hikayat yang terkenal pada masa lalu antara lain: Haji Ja’far, Haji Ma’ruf, Mohammad Zahid atau yang dikenal dengan nama Wak Jait. Wak Jait kemudian menurunkan ilmu bertuturnya kepada anaknya yang bernama Sofyan Zahid. Kisah yang diangkat oleh Sofyan adalah “Ma’ruf Tukang Sol Sepatu dan Isterinya si Romlah”, yang berkisah tentang kehidupan rumah tangga sepasang suami-isteri yang semula rukun menjadi kurang harmonis karena usaha suaminya tidak maju. Cerita ini sederhana, tetapi cara melakoninya cukup menarik, sehingga membuat penonton sering terkekeh.

Juru Hikayat biasanya bercerita sambil duduk bersila, ada yang sambil memangku bantal atau sesekali memukul gendang kecil untuk memberikan aksentuasi pada jalan cerita. Hingga tahun 1963, cerita-cerita yang biasanya dibawakan antara lain “Hasan Husin”, “Malakarma”, “Indra Sakti”, “Ahmad Muhamad”, “Dahrul Indra Laila Bangsawan”, dan lain-lain yang berbau Timur Tengah dan antara lain yang bersumber dari kumpulan cerita Seribu Satu Malam.

2.1.3.      Rancag atau Gambang Rancag

Rancag menurut ucapan orang Betawi Pinggiran, atau menurut ucapan orang Betawi Tengahan berarti ‘pantun’. Rancag adalah macam cerita lisan yang disampaikan dalam bentuk pantun berkait diiringi dengan improvisasi oleh dua orang secara bersahutan. Rancag itu diiringi oleh musik Gambang Kromong, yang dalam hubungan ini disebut Gambang Rancak atau Rancag.

Cerita lisan dalam pementasan rancag dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: cerita-cerita dari daratan Cina, cerita dongeng (cerita para bangsawan), dan cerita roman (cerita yang membawakan lelakon sehari-hari, kehidupan dalam masyarakat umum). Cerita yang disampaikan tergantung pada permintaan sang pengundang. Dalam satu kali pertunjukan bisa diceritakan beberapa judul cerita sekaligus.

Teater tutur ini boleh dikatakan nyaris punah karena banyak pencerita (pelakon) yang sudah almarhum. Pencerita (pelakon) yang masih hidup sudah berusia lanjut, sedangkan generasi penerusnya belum ada.

Salah satu pelakon tua yang masih hidup adalah Amsar berusia sekitar sembilan puluh tahun, namun masih mampu memperagakan kebolehannya dalam menyuguhkan cerita “Si Angkri Jago Pasar Ikan”. Amsar yang sedikit kocak itu memperagakan cerita dengan iringan orkes gambang kromong. Peragaan itu dalam bentuk pantun dengan nada berirama yang kadangkala diselingi dengan komentar pemain musik gambang kromong. Meskipun giginya semua sudah ompong, vokal suara Amsar masih tetap jernih dan lantang. Pendengarannya masih cukup baik.  Apa yang diucapkannya itu dihafalkan di luar kepala. Ia lebih banyak melakukan improvisasi lewat lirik pantunnya. Namun, kadangkala ucapannya kurang jelas karena terlalu cepat diucapkan.

Menurut kesan penonton (orang Betawi), teater tutur yang dibawakan ini kurang begitu komunikatif antar pemusik dengan penutur maupun penonton. Dahulu dalam teater tutur ada dialog yang saling bersahutan dengan penonton.

Pergelaran Gambang Rancag dilakukan oleh dua orang Juru Rancag atau lebih. Ceritanya disampaikan dengan cara dinyanyikan dan diiringi orkes Gambang Kromong. Sejak awal perkembangannya Gambang Rancag biasa memeriahkan pesta-pesta, terutama dalam lingkungan terbatas. Biasanya dipentaskan tanpa panggung, sejajar dengan penonton yang berada di sekelilingnya.

Cerita-cerita yang dibawakan biasanya mengenai peristiwa yang mengesankan bagi warga kota, seperti “Si Pitung”, “Angkri”, “Delep”, dan lain-lain. Sering pula disajikan sketsa kehidupan atau gambaran sesuatu keadaan, seperti pada cerita “Randa Bujang”.

Pada tahun dua puluhan Juru Rancag yang terkenal antara lain seorang tunanetra bernama Jian yang memiliki suara “serak-serak basah”.             Tokoh-tokoh Gambang Rancag dewasa ini antara lain Samad Modo dengan Jali alias Jalut dan Ma’in yang berada di daerah Pekayon, Entong Dale dengan Bedeh yang berada di daerah Cijantung, serta Amsar bersama Ali dan Minggu yang berada di daerah Bendungan Jago. Samad Modo, Amsar, dan Rame Reyot telah mendapat penghargaan Gubernur KDKI Jakarta sebagai seniman tua yang bertahan selama tiga jaman.

Dari dahulu sampai sekarang pantun-pantun yang dibawakan disusun secara improvisasi, tanpa cerita tertentu dan seringkali disesuaikan dengan tempat dan keadaan di saat pergelaran berlangsung. Kadang-kadang dipanjang-panjangkan disertai bumbu-bumbu lelucon untuk menambah kegembiraan penonton. Lebih-lebih kalau malam semakin larut, para perancag berusaha menghilangkan kantuk penonton dengan lawakan-lawakan tanpa direncanakan lebih dahulu, disertai dengan mimik dan artikulasi yang memberikan tekanan-tekanan pada cerita atau lawakan yang dibawakan.

Pada zaman lampau penyebaran Gambang Rancak sama luasnya dengan penyebaran Gambang Kromong, karena masing-masing rombongan Gambang Kromong dilengkapi pula dengan Juru Rancag. Dewasa ini sudah tidak banyak lagi seniman Gambang Kromong yang pandai merancag.

2.2.      Folklor Betawi

Jan Harold Brunvand dalam bukunya The Study of American Folklore, membagi folklor dalam tiga kelompok besar, yaitu: folklor lisan (verbal folklore), folklor setengah lisan (partly verbal folklore), dan folklor bukan lisan (non verbal folklore). Pembagian tersebut kiranya berlaku juga bagi folklor Betawi.

Folklor lisan Betawi terdiri dari:

  1. Bahasa rakyat Betawi, meliputi: logat, julukan, sindiran, titel, bahasa rahasia dan sebagainya.
  2. Ungkapan tradisional Betawi meliputi peribahasa, pepatah, dan sebagainya.
  3. Pertanyaan tradisional Betawi meliputi teka-teki dan sebagainya.
  4. Puisi rakyat Betawi meliputi pantun,syair, dan sebagainya.
  5. Cerita prosa rakyat Betawi, meliputi: mite, legenda, dan dongeng. Selain itu juga cerita pendek lucu (anekdot) baik yang bersifat sopan maupun yang cabul atau yang dapat menyinggung perasaan orang lain.
  6. Nyanyian rakyat Betawi.

Folklor setengah lisan Betawi antara lain: kepercayaan dan takhayul orang Betawi, permainan rakyat dan hiburan rakyat,  drama rakyat, tari-tarian, adat kebiasaan orang Betawi, upacara-upacara adat, dan pesta-pesta rakyat Betawi.

Folklor bukan lisan Betawi dapat dibagi menjadi dua sub golongan, yaitu: yang material dan yang bukan material. Yang material antara lain adalah: arsitektur rakyat, seni kerajinan tangan, pakaian dan perhiasan, obat-obatan, makanan dan minuman, alat-alat musik, peralatan dan senjata, serta mainan orang Betawi. Yang bukan material antara lain: bahasa isyarat dan musik Betawi.

Setiap macam folklor yang tercantum dalam deretan daftar tersebut di atas merupakan satu genre atau bentuk folklor. Masing-masing genre itu merupakan unsur dari kebudayaan orang Betawi masa kini yang mempunyai fungsi dalam kehidupan orang-orang yang mendukung kebudayaan tersebut. Oleh karena itu seyogyanya dalam mempelajari folklor Betawi, kita tidak hanya memperhatikan teksnya saja, tetapi juga harus menelaah konteksnya. Kita tidak cukup hanya mempelajari lore-nya, tetapi juga mengungkapkan kehidupan dan alam pikiran orang Betawi sebagai folk-nya.

2.3.      Peta Persebaran Bahasa Betawi

Ternyata usaha untuk mengangkat kebetawian ke permukaan dalam rangka mewarnai Jakarta dengan tradisi lokal tidaklah semudah yang diperkirakan. Bukan saja miskinnya pengetahuan serta perhatian yang pernah diberikan kepada kelompok ini, melainkan juga banyak ketidakjelasan, variasi serta pertentangan-pertentangan yang terdapat di dalamnya. Pertentangan-pertentangan ini berupa perbedaan pengertian serta penafsiran kebetawian antara kelompok-kelompok Betawi, serta antara orang Betawi dan pengamat Betawi.

Bagi mereka yang menyadari adanya kelompok-kelompok Betawi, maka biasanya pengelompokan mereka terbatas pada Betawi Tengah/Betawi Kota dan Betawi Pinggir. Ada yang cenderung mengelompokkan Betawi lebih dari ini. Kadang-kadang orang menamakan Betawi Pinggir sebagai Betawi Udik. Kami sendiri melihat bahwa berdasarkan variasi yang tampak, maka orang Betawi dapat dikelompokkan sekurang-kurangnya atas Betawi Tengah, Betawi Pinggir, dan Betawi Udik. Betawi Udik seringkali juga disebut sebagai Betawi Ora. Orang-orang keturunan Arab dan keturunan Cina, yang telah beberapa generasi berada di Betawi dan tidak lagi berorientasi pada negeri leluhurnya, telah mengidentifikasikan diri mereka sebagai anak Betawi. Kelompok ini dinamakan sebagai Arab Betawi dan Cina Betawi.

Dari kenyataan ini sudah tentu bahasa sehari-hari yang dipakai juga mempunyai versi atau logat yang berbeda-beda yang sekaligus sebagai atribut penunjuk komunitas kelompok-kelompok orang Betawi. Hal tersebut akan kelihatan misalnya pada penyebutan istilah-istilah kekerabatan, aksentuasi dan intonasi serta bunyi bahasa yang dipakai. Masalah-masalah inilah yang dalam waktu dekat ini perlu dilakukan penelitian, misalnya mengenai daerah-daerah persebaran dan pemetaan dialek Betawi tersebut di atas.

  1. Program Bidang Religi

6.1.      Preservasi Bangunan Ibadah Tua

Upaya preservasi bangunan-bangunan tempat ibadah tua sekurang-kurangnya mempunyai dua kepentingan, yakni sebagai situs peninggalan sejarah dan sekaligus sebagai obyek wisata ziarah. Dalam hal  ini bangunan ibadah tersebut tidak dipandang sebagai sesuatu yang bersifat fisik semata, tetapi yang lebih penting adalah kandungan nilai-nilai historis-akademik yang ada di dalamnya. Dengan menjaga keutuhan bangunan ibadah itu kita dapat memahami bagaimana sejarah tumbuh dan berkembangnya pemeluk agama tertentu di tempat itu; apa dan bagaimana pula percampuran budaya sebagaimana yang tampak dalam gaya arsitektur bangunan ibadah itu. Bangunan-bangunan ibadah tua yang dimaksud dapat disebut sebagai contoh adalah: Vihara Avalokitesvara di Pasar Jatinegara; Mesjid Angke di Jakarta Kota; dan Gereja Katolik St. Servatius di Kampung Sawah – yang jemaatnya mengaku sebagai orang Betawi. Di lain pihak bangunan-bangunan ibadah itu juga merupakan daya tarik kota Jakarta sebagai tempat wisata ziarah, antara lain karena keunikannya.

6.2.      Toleransi Beragama

Ketika masa Orde Baru, berkenaan dengan masalah toleransi antar umat beragama, kota Jakarta selayaknya bangga karena sekurang-kurangnya ada dua penanda, kendati bersifat fisik. Penanda itu adalah letak dua bangunan ibadah yang megah berdekatan yakni Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Lapangan Banteng. Selain itu di Taman Mini Indonesia Indah dengan sengaja telah dibangun sejumlah tempat ibadah seturut agama-agama yang ada di Indonesia secara berdampingan sebelah-menyebelah. Tentu saja pembangunan tempat-tempat ibadah secara berdampingan itu diharapkan bukan hanya tampak luar saja, tetapi juga terwujud dalam beragam aspek kehidupan sehari-hari.

DAFTAR BACAAN

Shahab, Yasmine Zaki

2001       “Rekacipta Tradisi Betawi: Sisi Otoritas dalam Proses Nasionalisasi Tradisi Lokal”, dalam Antropologi Indonesia Th. XXV, No. 66, halaman 46-56.

1997              “Betawi dalam Mite dan Kenyataan”, Betawi dalam Perspektif Kontemporer, Perkembangan, Potensi dan Tantangannya (Yasmine Z. Shahab, ed.). Jakarta : Lembaga Kebudayaan Betawi, halaman 135-163.

Budiaman, Drs.

1982              Folklor Betawi. Jakarta : Pustaka Jaya.

Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta

2000              Seni Budaya Betawi : Pralokakarya, Penggalian dan Pengembangannya. Jakarta : Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta Proyek Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Betawi.

Ruchiat, H. Rachmat, Drs. Singgih Wibisono, dan Drs. H. Rachmat Syamsudin

2000              Ikhtisar Kesenian Betawi. Jakarta : Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Danandjaja, James

1986              Folklor Indonesia : Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta : Grafitipers.

Hendrowinoto, Nirwanto Ki S., dkk.

1998       Seni Budaya Betawi Menggiring Zaman. Jakarta : Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Mei 9, 2010 - Posted by | Uncategorized

2 Komentar »

  1. Thanks ya kak, atas kepedulianya terhadap proses pembelajaran siswa yg banyak berhubungan dengan tittle ini.
    nice share

    Komentar oleh Ichal | November 23, 2011 | Balas

    • Ya, Ichal sama=sama. Selamat belajar ya, semoga sukses.

      Komentar oleh hstaryanto | November 23, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: