Tetoroto's Blog

Just another WordPress.com weblog

PESAN BUDAYA TATO DAYAK AUHENG

Oleh: Hilarius S. Taryanto

Secara umum orang berpendapat bahwa kesenian adalah hasil ekspresi jiwa manusia akan keindahan. Sebenarnya tidak semua hasil karya seni dapat dinyatakan demikian, karena ada karya seni yang lebih mengutamakan pesan budaya yang mengandung unsur-unsur sistem budaya dari masyarakat yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa dengan kesenian masyarakat yang bersangkutan bermaksud menjawab atau menginterpretasikan permasalahan kehidupan sosialnya, mengisi kebutuhan atau mencapai suatu tujuan bersama, seperti kemakmuran, persatuan, kemuliaan, kebahagiaan dan rasa aman yang berhubungan dengan yang gaib (supernatural) dan lain-lain. Kesenian sebagai hasil ekspresi keindahan yang mengandung pesan budaya terwujud dalam bermacam-macam bentuk, seperti seni lukis, seni rias, seni patung, seni sastra, seni tari, seni vokal, seni instrumental, dan seni drama.

Seperti telah disinggung di atas, karya seni dari suatu etnik biasanya berpedoman kepada sistem budayanya. Kesenian itu berpedoman kepada sistem pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma-norma yang hidup dalam budaya masyarakat pemilik kesenian tersebut. Pada saat ini suatu jenis kesenian tertentu, mungkin sekali masih “murni” mengandung pesan budaya etniknya. Akan tetapi ada pula kesenian etnik yang telah mendapat pengaruh dari unsur sistem budaya asing.

Dalam masyarakat tradisional, para senimannya tidak banyak yang mempertimbangkan apakah karya yang diciptakannya sudah menampilkan mutu artistik yang tinggi atau belum. Mereka lebih banyak berorientasi pada apakah karya-karyanya itu sudah memenuhi pesan budaya yang dititipkan atau yang diharapkan oleh masyarakatnya. Pesan itu berupa nilai, kepercayaan, pengetahuan, norma atau makna tertentu dalam motif, bentuk, gaya pada hasil karya tadi.

Motif-motif hiasan tersebut merupakan simbol-simbol yang mengandung bermacam-macam arti. Simbol-simbol itu ada yang mengisyaratkan harapan agar memperoleh keselamatan, kemakmuran, kebahagiaan, persatuan, kemuliaan, hubungan dengan yang gaib, dan sebagainya.

Orang Auheng adalah  nama lain dari orang Dayak Penihing dan kadang-kadang disebut Oheng saja. Orang Auheng adalah salah satu sub sukubangsa Dayak yang berdiam di Kabupaten Kutai, Propinsi Kalimantan Timur. Menurut pendapat Y. Mallinckrodt, orang Auheng ini merupakan subkelompok dari Dayak Bahau. Subkelompok Dayak Bahau lainnya adalah Modang, Long Gelat, Ma Suling, Huang Sirau, Long Wai, dan Huang Tering. Akan tetapi sekarang orang Auheng juga Modang dan Long Gelat sudah dapat dianggap sebagai satu kelompok tersendiri seperti juga kelompok Bahau tadi. Kelompok orang Dayak Auheng dan kelompok-kelompok lainnya merupakan sub sukubangsa yang mempunyai bahasa sendiri.

Sub sukubangsa Dayak Auheng ini berasal dari daerah Apo Kayan dekat dengan perbatasan Serawak di Malaysia Timur. Kini daerah Apo Kayan merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bulungan. Apo Kayan merupakan daerah yang terbilang terpencil, yang seolah-olah berada di pusat pulau raksasa Kalimantan. Dayak Auheng ini pertama kali bermigrasi dari Apo Kayan sekitar tahun 1700 dan menetap di sekitar aliran Sungai Penihing, Kalimantan Barat.

Seni rajah tubuh atau tato tradisional bermotif khas di kalangan suku Dayak Auheng kini mulai menunjukkan gejala revitalisasi. Para pemuda di Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, kini lebih membanggakan tato khas Dayak sebagai tren model daripada tato bermotif modern.

Hampir setiap supir taksi air yang dijumpai memilki tato di bagian tubuhnya. Hal yang menarik, tato-tato tersebut tidak lagi bermotif modern, seperti tengkorak atau jangkar, melainkan bermotif tradisional khas Dayak.

Empat motif utama yang disukai adalah motif aso (anjing), naga, irap aran, dan anyam darli (tali beranyam). Selain keempat motif itu masih ada ratusan motif khas Dayak yang dihapal Laurensius, seorang pembuat Art Tatoo Dayak,  dalam kepala dan tidak pernah didokumentasikan dalam bentuk gambar cetakan.

Kepala adat Kampung Long Bagun Ilir Yosep Lie Aran mengatakan bahwa pada masa yang lampau tato dibuat dari jelaga asap hitam damar yang dibakar. Jelaga itu dicampur dengan sari daun terong pipit.

Oleh karena itu, tato bagi orang Dayak Auheng secara filosofis dilambangkan sebagai lentera atau lampu penerang menuju surga layaknya damar yang digunakan zaman dulu untuk alat penerangan. Bagi mereka tato merupakan aspek spiritual dan tidak dimaksudkan sebagai lambang “jagoan” seperti dicitrakan selama ini. Citra tato yang diidentikkan dengan kekerasan belakangan ini menimbulkan keprihatinan bagi Laurensius sebagai putera Dayak Auheng.

Tato Dayak memiliki simbol-simbol sakral yang secara sosial kemasyarakatan dapat menjadi penanda dari status seseorang. Oleh karena alasan inilah, Laurensius kini hanya mau melayani pembuatan tato untuk warga Dayak.

Tato yang berkembang di kalangan masyarakat luas dibuat dalam beragam motif, seperti gambar wajah orang, bunga, binatang, huruf, atau motif-motif “tribal” seperti garis-garis hitam. Motif-motif ini diminati oleh kelompok yang berbeda-beda. Motif wajah umumnya diminati kaum pria; motif bunga lebih banyak dipilih oleh wanita, sementara wanita asing memilih tulisan nama pasangannya.

Selain dibutuhkan keteguhan niat, calon pemilik tato juga harus menahan rasa sakit saat jarum menembus kulit. Itulah sebabnya orang yang ingin membuat tato tidak boleh setengah-setengah. Sehubungan dengan hal ini ketika penulis bermaksud minta dibuatkan tato pada seniman pembuat tato Dayak Auheng, ia minta kepada penulis untuk memikirkannya kembali selama sehari semalam guna meneguhkan niat penulis. Sementara ia juga harus mencari inspirasi motif apa gerangan yang cocok bagi penulis. Karena tato yang dimaksud adalah permanen, jadi harus dibuat sekali jadi dan tidak boleh salah atau ragu-ragu.

Tato yang indah dan menarik membutuhkan kelihaian senimannya. Selain itu juga dibutuhkan peralatan pendukung yang memadai seperti jarum dan mesin tato, serta tinta pewarna sebagai unsur yang tepenting. Sedikitnya sebuah studio harus memiliki 14 tinta warna dasar, seperti hitam dan merah. Tinta pewarna ini berbeda dengan tinta pulpen. Memang ada yang memakai tinta pulpen sebagai tinta tato, namun sebaiknya digunakan tinta yang khusus untuk tato. Selain warnanya lebih cerah, tinta khusus ini aman di kulit.

Pada bagian betis kaki kiri sebelah luar penulis, berhasil dibuatkan sebuah motif tato Dayak Auheng yang diberi judal “Aso”. Luas bidangnya kira-kira 10 x 25 cm memanjang ke atas. Durasi pembuatannya kira-kira memakan waktu empat jam, tetapi tidak terus menerus. Pembuat tato tadi selang beberapa lama “istirahat” untuk merokok atau menenggak kopi sambil keluar rumah. Ia berdiam sejenak di halaman depan atau belakang rumah sambil mencari inspirasi, supaya jangan sampai salah. Sementara orang yang sedang ditato mengerang kesakitan.

Adapun proses pembuatannya adalah sebagai berikut. Pertama-tama pembuat tato akan menanyakan kepada pemohon bagian tubuh mana yang akan ditato. Pada saat ini akan terjadi dialog; pertanyaan dan penjelasan; bagian mana yang akan terasa sakit sekali dan yang tidak begitu sakit; bagian mana yang sulit dan lama mengerjakannya, dan sebagainya. Pembuat tato kemudian menjelaskan sambil memberikan contoh bagian-bagian yang paling sulit, lama dan sakit di antaranya adalah seputar leher.

Setelah pemohon menentukan bagian betis kiri sebelah luar yang akan ditato, kemudian pembuat tato menyodorkan sabun mandi dan alat pencukur kumis modern guna membersihkan bulu-bulu yang tumbuh pada bagian itu. Setelah bersih, kemudian pembuat tato mengajak pemohon menuju ruang tengah yang beralaskan papan.

Segeralah Pak Ding, demikian panggilan si pembuat tato, mempersiapkan peralatannya yakni sebotol tinta yang menurut pengakuannya dipesan dari Austria, melalui seorang teman. Selain itu disiapkan pula sebuah jarum “suntik” yang nyatanya adalah jarum jahit biasa yang didapat dari warung sebelah rumah. Jarum jahit tersebut ternyata hanya dimanfaatkan bagian yang runcing saja sebagai mata jarum suntik, karena akan disambung dengan semacam kawat baja yang diikat dengan benang. Jarum “suntik” yang sudah diperpanjang tadi kemudian dimasukkan ke dalam tabung bekas spidol kecil, laksana tinta ballpoint. Kawat baja penyambung jarum tadi berbentuk huruf Z. Kawat tersebut berfungsi mengubah gerak berputar menjadi gerak naik-turun, ke atas dan ke bawah seperti mesin jahit. Gerakan naik-turun itu disebabkan oleh gerak mekanik yang berasal dari penggerak mobil-mobilan mainan anak-anak. Gerakan mekanik tadi bekerja melalui tenaga dua  buah baterai kecil; masing-masing berkekuatan 1,5 volt. Ribuan tusukan jarum jahit tadi kedalamannya menembus kulit sekitar 1 mm, hingga mampu mengeluarkan cairan darah.

Sementara jarum jahit melubangi kulit, saat itu pula tinta tato yang sedikit bercampur darah segar membasahi dan mengisi ribuan lubang tadi membentuk mofif yang dikehendaki Pak Ding, sehingga berwarna hitam kebiru-biruan. Pencegahan terhadap infeksi dilakukan dengan cara membersihkan darah dan sisa tinta, menggunakan gumpalan kapas yang dibasahi cairan alkohol 70%.

Setelah proses pentatoan dianggap selesai, Pak Ding kemudian mengambil hand and body lotion merk Viva dan dioleskan hingga merata pada bagian tubuh yang baru saja selesai ditato. Anjuran Pak Ding kepada penulis supaya melakukan hal serupa sesering mungkin; sekurang-kurangnya dua kali sehari sesudah mandi selama seminggu. Menurut Pak Ding pengolesan krem pelembab itu dimaksudkan agar hasil tato tadi dapat kering dengan sempurna. Nyatanya dengan krem tersebut memang bekas lukisan tato tadi terasa lebih dingin sehingga mengurangi rasa sakit/perih, dan tidak tampak ada bekas luka. Sebagai tambahan, penulis juga tidak mengalami demam; barangkali karena memang pada malam-malam sebelumnya telah mengkonsumsi vitamin C secara cukup.

Motif aso tadi awalnya berupa satu titik, kemudian berangsur-angsur memenuhi bidang kira-kira seluas 10 x 25 cm. Lukisan tato seluas itu semua terkait satu sama lain, tidak terputus. Ini merupakan ciri khas ragam hias Dayak pada umumnya, yang disebut karung berkait atau ulang paku, atau terkadang disebut juga motif anyam darli (tali beranyam). Motif itu kurang lebih mirip seperti sarang laba-laba atau gurita.

Mengenai motif anyam darli ini, sebenarnya juga tersebar di semua bentuk ragam hias orang Dayak, termasuk ukir-ukiran yang seringkali menghiasi rumah adat mereka (lamin). Melalui motif inilah hampir semua sub sukubangsa Dayak memiliki ikatan batin bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang. Jadi motif anyam darli ini bermakna mempersatukan semua orang Dayak, baik mereka yang berada di Serawak, Sabah, Kuching dan di seluruh pelosok pulau Kalimantan. Oleh karena itulah hampir semua motif ragam hias Dayak yang termasuk dalam seni tato, saling berkaitan satu sama lain dan merupakan satu kesatuan yang utuh; tidak ada yang putus.

Hampir di setiap ragam hias Dayak motif aso itu dimunculkan; terkadang hanya digambarkan matanya saja, kepalanya atau lengkap dengan badannya. Motif ini mempunyai makna yang mendalam karena binatang (anjing) ini melambangkan kesetiaan. Anjing adalah binatang yang senantiasa menemani orang Dayak berladang, terlebih ketika berburu babi atau rusa di tengah hutan.

Selain aso dan ulang paku, yang dianggap motif utama pada masyarakat Auheng adalah motif naga dan irap aran. Motif naga (lio) dianggap mewakili segala sesuatu yang datang dari langit; segala sesuatu yang bersifat supranatural, termasuk kekuatan-kekuatan magis yang berada di luar jangkauan pikiran manusia. Sedangkan irap aran menggambarkan muka manusia, namun terkadang hanya tampak matanya saja. Irap aran ini mewakili segala sesuatu yang ada di bumi ini; termasuk di dalamnya semua jenis makhluk hidup.

Mei 9, 2010 - Posted by | Uncategorized

1 Komentar »


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: