Tetoroto's Blog

Just another WordPress.com weblog

TATO : BUSANA ABADI ORANG MENTAWAI

Oleh : Hilarius S. Taryanto

Orang Mentawai hidup tersebar di Kepulauan Mentawai, yang terletak sekitar 100 km di sebelah Barat pantai Pulau Sumatera.  Kepulauan ini terdiri dari kurang lebih 40 pulau, besar dan kecil. Di antaranya ada 4 pulau besar yang didiami manusia yaitu Siberut di sebelah Utara, Sipora di bagian tengah,  Pagai Utara dan Pagai Selatan di sebelah Selatan.  Kepulauan ini termasuk wilayah Kabupaten Padang Pariaman, Propinsi Sumatera Barat.

Di kepulauan ini orang Mentawai di perkerikan terbagi-bagi lagi atas lebih dari 500 suku. Ada 4 suku yang diyakini sebagai suku asal orang Mentawai, yaitu Sabelau, Samaloisa, Sababalat, dan Saleleubaja. Akan tetapi karena persamaan dalam berbagai unsur kebudayaannya  sangat besar, mereka merasa sebagai satu kesatuan yang tidak berbeda satu sama lain.

Di Kepulauan Mentawai tidak ada gunung; yang ada hanya perbukitan yang tingginya tidak lebih dari 500 meter. Umumnya bertanah subur, datar dan berawa-rawa. Mentawai juga terkenal dengan hutan-hutannya yang masih perawan. Pemandangan alamnya indah menawan, karena teluk-teluk dan lautnya tenang serta pantai pasir yang landai.

Tipe manusia Mentawi digambarkan oleh J.R. Logan sebagai orang yang berbadan kuat, kekar, sehat dan tidak berbulu.  Tingginya tidak lebih dari 1,67 m. Berperawakan baik dan menarik. Hidungnya agak lebar, dengan mata yang besar, agak sipit dan bersinar, dilengkapi dengan alis yang tipis dan sedikit bundar. Rambut tipis, panjang dan lurus. Warna kulit cokelat kekuning-kuningan.

Umumnya orang Mentawai baik hati, ramah, suka menghormati orang, tidak ingin berperang, suka kepada hiasan-hiasan, sehingga tidak jarang tubuh mereka bertato.

Mereka mempunyai aktivitas yang tinggi. Orang Mentawai mampu menciptakan sesuatu yang bagus, cantik dan berdayaguna. Peralatan yang dipakai sangat sederhana, umumnya untuk berburu dan memancing ikan.

Pemimpin dalam sebuah keluarga inti disebut ukkui.  Seseorang baru dapat dianggap sebagai ukkui dan dihormati oleh masyarakat bila keluarganya telah menjadi keluarga lalep.  Sebelum menjadi keluarga lalep, sebuah rumah tangga dikatakan masih berada  dalam perkawinan rusuk, yaitu bentuk perkawinan tanpa restu kepala suku (rimata). Keluarga lalep terbentuk bila anak-anak dalam keluarga tersebut sudah dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan mengumpulkan kekayaan. Biasanya pada saat itulah kedua orangtua akan meresmikan perkawinannya dengan mengadakan suatu upacara khusus. Melalui upacara tersebut mereka kemudian diangkat sebagai simanteu-simaiso (suami-isteri) dan resmilah rumah tangga mereka sebagai keluarga lalep. Peralihan status sosial semacam ini juga ditandai dengan tambahan rajah di tubuh mereka dengan motif tertentu. Saat-saat serupa ini oleh van Gennep digolongkan sebagai ritus peralihan (rites de passage); karena yang bersangkutan telah melewati masa-masa kritis pada lingkungan hidup individu.

Perkembangan kesenian orang Mentawai pada umumnya berkaitan dengan berbagai upacara adat dan kehidupan sehari-hari. Bentuk kesenian mereka sebagian besar didasarkan atas penghayatan terhadap alam sekitar, misalnya bentuk-bentuk tiruan dari gerak-gerik atau suara hewan buruan. Seni suara dan seni tari dikembangkan sesuai dengan kebutuhan upacara, misalnya untuk upacara perkawinan dan kematian. Seni tari dan seni suara juga merupakan bagian dalam proses pengobatan oleh seorang dukun (sikerei). Kini bentuk kesenian asil sudah semakin berkurang, karena perkembangannya semakin terbatas hanya di kalangan orang-orang tua. Demikian pula dengan kebiasaan membuat tato pada tubuh mereka, kini jarang dijumpai pada generasi muda.

Kebiasaan khas orang Mentawai adalah adat merajah kulit (tato). Adanya rajah pada tubuh orang Mentawai melambangkan bahwa orang tersebut telah melalui suatu tahapan inisiasi, misalnya untuk meresmikan orang tersebut masuk kedalam satu golongan (uma) tertentu. Rajah tubuh yang mereka miliki bermotif garis-garis dan mengandung arti tertentu. Misalnya rajah tersebut mereka dapat menelusuri kaitan kekerabatan atau hubungan darah yang dimiliki.

Proses pembuatan tato baik motif, bahan, alat dan zat pewarna, semua berasal dari alam sekitar mereka. Alat-alat yang dibutuhkan adalah: jarum besi, pemukul, tangkai kayu, lidi dan daun pisang. Sedangkan bahan-bahan untuk membuat tato adalah: api, batok kelapa, daun pisang, bakaran batok kelapa atau daun pisang berupa arang hitam (jelaga) dan air tebu.

Adapun proses pembuatan tato yang seluruhnya dilakukan oleh seorang laki-laki (sipatiti) adalah sebagai berikut. Pertama, dibuat pola-pola tertentu dengan lidi. Kemudian daun pisang atau batok kelapa dibakar di atas api, sehingga didapatkan arang. Arang hitam tersebut dimasukkan ke dalam batok kelapa, dan dicampur dengan air tebu. Kemudian jarum yang telah diberi tangkai kayu dicelupkan ke dalam cairan tadi lalu ditusuk-tusukkan dengan pemukul kayu menghasilkan titik-titik seturut pola motif ornamen yang sudah direncanakan semula. Sesudah darah keluar, bagian yang ditato dibersihkan dan digosok dengan abu tungku (jelaga). Orang yang ditato ini umumnya menderita demam selama beberapa hari, namun tidak pernah terjadi infeksi.

Pentatoan dilakukan secara bertahap dengan urutan waktu sebagai berikut. Satu atau setengah hari pertama tato dibuat pada pangkal lengan. Kemudian ditunggu selama satu minggu. Selanjutnya tato dibuat pada punggung selama satu atau setengah hari. Ditunggu lagi selama satu minggu dan dilanjutkan pada bagian dada (rigan). Seterusnya dibuat pada jari tangan dan lengan. Setelah itu bagian paha dikerjakan selama 61 hari, dan dilanjutkan pada bagian kaki hingga selesai.

Ragam motif tato pada orang Mentawai dilihat dari bentuknya ada bermacam-macam. Yang pertama merupakan stilisasi dari binatang. Kedua, hiasan yang berasal dari stilisasi tumbuh-tumbuhan terutama stilisasi bunga kembang sepatu, melati serta daun-daunan yang banyak terdapat di daerah tersebut. Ketiga, hiasan yang berasal dari stilisasi benda lainnya, seperti kerang-kerangan yang distilisasi dalam bentuk garis-garis. Di antara bentuk-bentuk tersebut, di beberapa daerah tertentu terdapat kesamaan bentuk tato pada bagian paha ke bawah dan lengan ke jari.

Ditinjau dari penempatannya, pengisian bidang hias dibuat rapat dan simetris; makin banyak hiasannya makin bangga pemakainya. Selain itu sangat diperhatikan pengisian bagian dada. Penempatan hiasan tato pada bagian tangan atau jari merupakan hiasan geometris, sekaligus melambangkan alat penangkap ikan.

Ditinjau dari segi perlambangan, bentuk-bentuk ornamen menunjukkan tanda dari jabatan seseorang, misalnya bintang di bahu dipakai oleh sikerei (dukun) dan anak sikerei. Kedudukan sebagai sikerei tidak dapat dimiliki oleh tiap orang, melainkan harus orang yang memenuhi persyaratan tertentu. Biasanya seorang sikerei yang sudah tua mendapatkan “petunjuk” mengenai calon sikerei yang baru melalui mimpi atau suatu peristiwa luar biasa. Setelah tanda-tanda ini muncul, sikerei tersebut akan membimbing si calon dan memberikan mantra-mantra agar ia dilindungi oleh para roh.

Setelah melewati beberapa tahap, barulah seseorang dapat dilantik menjadi seorang sikerei. Setelah itu ia harus pula menjalani berbagai pantangan (punen), sampai akhirnya diizinkan melakukan praktek sikerei. Seorang sikerei memiliki perlengkapan dan pakaian khas yang tidak dikenakan oleh orang orang biasa, termasuk rajah di bahu berupa bintang.

Bentuk-bentuk binatang menggambarkan keahlian seseorang dalam berburu. Bentuk garis-garis tertentu pada bagian dada dan belakang tubuh laki-laki menggambarkan bahwa pada waktu yang lampau ia pernah membunuh musuhnya. Bentuk-bentuk yang bersamaan pada suami-isteri menggambarkan pasangan dan pakaian sampai mati.

Hingga saat ini sebagian besar orang Mentawai terutama yang berusia separuh baya masih banyak yang ditemui dengan pakaian khas mereka., yaitu sejenis cawat dari kulit kayu (kabid) untuk laki laki dan penutup tubuh dari daun-daunan untuk perempuan. Oleh karena itu menurut mereka tato juga merupakan pakaian yang justru dimaksudkan untuk memperindah tubuh dan sekaligus dianggap sebagai busana abadi mereka, karena tato dapat mereka bawa sampai mati.

TATO :  BUSANA  ABADI ORANG MENTAWAI

Oleh : Hilarius S. Taryanto

Orang Mentawai hidup tersebar di Kepulauan Mentawai, yang terletak sekitar 100 km di sebelah Barat pantai Pulau Sumatera.  Kepulauan ini terdiri dari kurang lebih 40 pulau, besar dan kecil. Di antaranya ada 4 pulau besar yang didiami manusia yaitu Siberut di sebelah Utara, Sipora di bagian tengah,  Pagai Utara dan Pagai Selatan di sebelah Selatan.  Kepulauan ini termasuk wilayah Kabupaten Padang Pariaman, Propinsi Sumatera Barat.

Di kepulauan ini orang Mentawai di perkerikan terbagi-bagi lagi atas lebih dari 500 suku. Ada 4 suku yang diyakini sebagai suku asal orang Mentawai, yaitu Sabelau, Samaloisa, Sababalat, dan Saleleubaja. Akan tetapi karena persamaan dalam berbagai unsur kebudayaannya  sangat besar, mereka merasa sebagai satu kesatuan yang tidak berbeda satu sama lain.

Di Kepulauan Mentawai tidak ada gunung; yang ada hanya perbukitan yang tingginya tidak lebih dari 500 meter. Umumnya bertanah subur, datar dan berawa-rawa. Mentawai juga terkenal dengan hutan-hutannya yang masih perawan. Pemandangan alamnya indah menawan, karena teluk-teluk dan lautnya tenang serta pantai pasir yang landai.

Tipe manusia Mentawi digambarkan oleh J.R. Logan sebagai orang yang berbadan kuat, kekar, sehat dan tidak berbulu.  Tingginya tidak lebih dari 1,67 m. Berperawakan baik dan menarik. Hidungnya agak lebar, dengan mata yang besar, agak sipit dan bersinar, dilengkapi dengan alis yang tipis dan sedikit bundar. Rambut tipis, panjang dan lurus. Warna kulit cokelat kekuning-kuningan.

Umumnya orang Mentawai baik hati, ramah, suka menghormati orang, tidak ingin berperang, suka kepada hiasan-hiasan, sehingga tidak jarang tubuh mereka bertato.

Mereka mempunyai aktivitas yang tinggi. Orang Mentawai mampu menciptakan sesuatu yang bagus, cantik dan berdayaguna. Peralatan yang dipakai sangat sederhana, umumnya untuk berburu dan memancing ikan.

Pemimpin dalam sebuah keluarga inti disebut ukkui.  Seseorang baru dapat dianggap sebagai ukkui dan dihormati oleh masyarakat bila keluarganya telah menjadi keluarga lalep.  Sebelum menjadi keluarga lalep, sebuah rumah tangga dikatakan masih berada  dalam perkawinan rusuk, yaitu bentuk perkawinan tanpa restu kepala suku (rimata). Keluarga lalep terbentuk bila anak-anak dalam keluarga tersebut sudah dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan mengumpulkan kekayaan. Biasanya pada saat itulah kedua orangtua akan meresmikan perkawinannya dengan mengadakan suatu upacara khusus. Melalui upacara tersebut mereka kemudian diangkat sebagai simanteu-simaiso (suami-isteri) dan resmilah rumah tangga mereka sebagai keluarga lalep. Peralihan status sosial semacam ini juga ditandai dengan tambahan rajah di tubuh mereka dengan motif tertentu. Saat-saat serupa ini oleh van Gennep digolongkan sebagai ritus peralihan (rites de passage); karena yang bersangkutan telah melewati masa-masa kritis pada lingkungan hidup individu.

Perkembangan kesenian orang Mentawai pada umumnya berkaitan dengan berbagai upacara adat dan kehidupan sehari-hari. Bentuk kesenian mereka sebagian besar didasarkan atas penghayatan terhadap alam sekitar, misalnya bentuk-bentuk tiruan dari gerak-gerik atau suara hewan buruan. Seni suara dan seni tari dikembangkan sesuai dengan kebutuhan upacara, misalnya untuk upacara perkawinan dan kematian. Seni tari dan seni suara juga merupakan bagian dalam proses pengobatan oleh seorang dukun (sikerei). Kini bentuk kesenian asil sudah semakin berkurang, karena perkembangannya semakin terbatas hanya di kalangan orang-orang tua. Demikian pula dengan kebiasaan membuat tato pada tubuh mereka, kini jarang dijumpai pada generasi muda.

Kebiasaan khas orang Mentawai adalah adat merajah kulit (tato). Adanya rajah pada tubuh orang Mentawai melambangkan bahwa orang tersebut telah melalui suatu tahapan inisiasi, misalnya untuk meresmikan orang tersebut masuk kedalam satu golongan (uma) tertentu. Rajah tubuh yang mereka miliki bermotif garis-garis dan mengandung arti tertentu. Misalnya rajah tersebut mereka dapat menelusuri kaitan kekerabatan atau hubungan darah yang dimiliki.

Proses pembuatan tato baik motif, bahan, alat dan zat pewarna, semua berasal dari alam sekitar mereka. Alat-alat yang dibutuhkan adalah: jarum besi, pemukul, tangkai kayu, lidi dan daun pisang. Sedangkan bahan-bahan untuk membuat tato adalah: api, batok kelapa, daun pisang, bakaran batok kelapa atau daun pisang berupa arang hitam (jelaga) dan air tebu.

Adapun proses pembuatan tato yang seluruhnya dilakukan oleh seorang laki-laki (sipatiti) adalah sebagai berikut. Pertama, dibuat pola-pola tertentu dengan lidi. Kemudian daun pisang atau batok kelapa dibakar di atas api, sehingga didapatkan arang. Arang hitam tersebut dimasukkan ke dalam batok kelapa, dan dicampur dengan air tebu. Kemudian jarum yang telah diberi tangkai kayu dicelupkan ke dalam cairan tadi lalu ditusuk-tusukkan dengan pemukul kayu menghasilkan titik-titik seturut pola motif ornamen yang sudah direncanakan semula. Sesudah darah keluar, bagian yang ditato dibersihkan dan digosok dengan abu tungku (jelaga). Orang yang ditato ini umumnya menderita demam selama beberapa hari, namun tidak pernah terjadi infeksi.

Pentatoan dilakukan secara bertahap dengan urutan waktu sebagai berikut. Satu atau setengah hari pertama tato dibuat pada pangkal lengan. Kemudian ditunggu selama satu minggu. Selanjutnya tato dibuat pada punggung selama satu atau setengah hari. Ditunggu lagi selama satu minggu dan dilanjutkan pada bagian dada (rigan). Seterusnya dibuat pada jari tangan dan lengan. Setelah itu bagian paha dikerjakan selama 61 hari, dan dilanjutkan pada bagian kaki hingga selesai.

Ragam motif tato pada orang Mentawai dilihat dari bentuknya ada bermacam-macam. Yang pertama merupakan stilisasi dari binatang. Kedua, hiasan yang berasal dari stilisasi tumbuh-tumbuhan terutama stilisasi bunga kembang sepatu, melati serta daun-daunan yang banyak terdapat di daerah tersebut. Ketiga, hiasan yang berasal dari stilisasi benda lainnya, seperti kerang-kerangan yang distilisasi dalam bentuk garis-garis. Di antara bentuk-bentuk tersebut, di beberapa daerah tertentu terdapat kesamaan bentuk tato pada bagian paha ke bawah dan lengan ke jari.

Ditinjau dari penempatannya, pengisian bidang hias dibuat rapat dan simetris; makin banyak hiasannya makin bangga pemakainya. Selain itu sangat diperhatikan pengisian bagian dada. Penempatan hiasan tato pada bagian tangan atau jari merupakan hiasan geometris, sekaligus melambangkan alat penangkap ikan.

Ditinjau dari segi perlambangan, bentuk-bentuk ornamen menunjukkan tanda dari jabatan seseorang, misalnya bintang di bahu dipakai oleh sikerei (dukun) dan anak sikerei. Kedudukan sebagai sikerei tidak dapat dimiliki oleh tiap orang, melainkan harus orang yang memenuhi persyaratan tertentu. Biasanya seorang sikerei yang sudah tua mendapatkan “petunjuk” mengenai calon sikerei yang baru melalui mimpi atau suatu peristiwa luar biasa. Setelah tanda-tanda ini muncul, sikerei tersebut akan membimbing si calon dan memberikan mantra-mantra agar ia dilindungi oleh para roh.

Setelah melewati beberapa tahap, barulah seseorang dapat dilantik menjadi seorang sikerei. Setelah itu ia harus pula menjalani berbagai pantangan (punen), sampai akhirnya diizinkan melakukan praktek sikerei. Seorang sikerei memiliki perlengkapan dan pakaian khas yang tidak dikenakan oleh orang orang biasa, termasuk rajah di bahu berupa bintang.

Bentuk-bentuk binatang menggambarkan keahlian seseorang dalam berburu. Bentuk garis-garis tertentu pada bagian dada dan belakang tubuh laki-laki menggambarkan bahwa pada waktu yang lampau ia pernah membunuh musuhnya. Bentuk-bentuk yang bersamaan pada suami-isteri menggambarkan pasangan dan pakaian sampai mati.

Hingga saat ini sebagian besar orang Mentawai terutama yang berusia separuh baya masih banyak yang ditemui dengan pakaian khas mereka., yaitu sejenis cawat dari kulit kayu (kabid) untuk laki laki dan penutup tubuh dari daun-daunan untuk perempuan. Oleh karena itu menurut mereka tato juga merupakan pakaian yang justru dimaksudkan untuk memperindah tubuh dan sekaligus dianggap sebagai busana abadi mereka, karena tato dapat mereka bawa sampai mati.

Mei 9, 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: